
“Sakit ....” Sedari tadi Amartha terus merintih. Kram di perutnya semakin kuat dan pendarahannya tak kunjung reda.
“Kau kuat, Sayang,” tutur Delavar menyemangati wanitanya.
Delavar terus menyeka keringat di kening Amartha yang nampak lemas. Bahkan sekedar menggenggam dan mencakarnya seperti tadi pun sudah tak bertenaga.
“Bagaimana kalau aku mati karena kehabisan darah?” tanya Amartha yang sudah berpikiran buruk. Sepertinya keputusannya untuk melakukan aborsi adalah sebuah kesalahan. Tapi dia tetap tak menyesal.
“Tidak, kau pasti akan baik-baik saja. Percayalah padaku.” Delavar mengecup kening Amartha dengan segenap rasa sayangnya.
Delavar tak pernah menyalahkan keputusan yang diambil oleh Amartha. Dia juga pasti akan ikut bertanggung jawab jika ada sesuatu hal buruk yang terjadi pada wanita itu.
“Tolong panggilkan dokter, aku sudah tak kuat menahan ini,” pinta Amartha dengan suara lirih.
Delavar sangat tahu walaupun tak merasakan secara langsung, wanitanya sedang kesakitan. Andai bisa dipindah kepadanya, pasti dengan senang hati dirinya akan menggantikan Amartha. Tapi sayangnya hal itu tak mungkin.
Tangan Delavar segera memencet tombol memanggil Dokter Beverly. “Tunggu sebentar, ya,” tuturnya begitu lembut. Dia meraih botol air mineral yang ada di atas meja, membuka tutupnya. “Minum dulu, sedari tadi kau belum minum,” pintanya.
Amartha hanya mengangguk. Dan Delavar memasukkan lengan kanan ke balik leher wanitanya, membantu Amartha agar sedikit berdiri. Sedangkan tangan kirinya digunakan untuk mengarahkan botol ke bibir Amartha. “Pelan-pelan.”
“Sudah,” lirih Amartha sembari menjauhkan bibirnya dari botol air mineral tersebut.
Delavar mengembalikan Amartha pada posisi semula. Menutup botolnya dan saat menaruh ke atas meja, Dokter Beverly masuk ke dalam ruangan.
“Bagaimana keadaan Anda, Nona?” tanya Dokter Beverly seraya mengecek pasiennya.
Dokter Beverly bisa melihat bahwa pandangan pasiennya sudah tak fokus dan mata sayu. “Apa yang Anda rasakan?” Dia mencoba berkomunikasi dengan Amartha, untuk mengetahui masih bisa diajak berinteraksi seperti biasa atau tidak.
“Kram, sakit sekali,” jawab Amartha lirih. Tangannya meremas perutnya yang sudah berjam-jam menyiksa.
Dokter Beverly melihat jam yang tertempel di dinding. Berpindah posisi untuk melihat area sensitif pasiennya. “Apa Anda merasakan ada seperti gumpalan keluar?”
“Belum.” Amartha bergeleng kepala lagi. “Aku ingin kencing,” tuturnya kemudian.
“Keluarkan saja, Nona. Jangan ditahan,” perintah Dokter Beverly.
“Aku ingin ke toilet saja,” ucap Amartha yang tak mau mengompol di sana.
“Di sini saja, kau sudah lemas sekali, nanti aku yang akan mencuci kainnya.” Delavar segera menghalangi agar Amartha tak perlu beranjak dari tempat tidur pasien. Melihat wanitanya tak berdaya seperti itu saja sudah membuatnya ngilu sendiri.
“Bantu aku ke toilet saja,” pinta Amartha.
“Sudah, jangan keras kepala, Amartha. Keluarkan saja di sini. Aku yang akan membersihkan,” tegas Delavar agar wanitanya menurut.
Amartha yang sudah tak tahan itu pun akhirnya mengeluarkan cairan urinenya dan juga merasakan ada sesuatu yang ikut meluncur dari daerah inti alat reproduksinya. “Dok, apa itu janinku? Sepertinya aku mengeluarkan sesuatu.”
Dokter Beverly mengecek lagi. Dia mengulas senyumnya. “Benar, Nona. Ini adalah embrio Anda yang baru berumur delapan minggu,” tuturnya seraya tangan yang terbalut medical gloves itu mengambil gumpalan yang diselimuti darah. “Apakah Anda ingin melihatnya?”
Amartha mengangguk dan Dokter Beverly mendekati pasien tersebut. Memperlihatkan embrio yang sengaja dikeluarkan karena tak berkembang dengan baik sesuai usianya.