
Setelah menyelimuti tubuh kekar Delavar, Amartha tak langsung beranjak pergi. Dia mengamati wajah yang sedari tadi terpejam itu. Rahang tegas, bibir berisi, alis tebal, dan rambut hitam lebat.
Banyak pertanyaan yang berputar di kepala Amartha. Kenapa Delavar tetap di sisinya meskipun dirinya sudah hampir gila? Kenapa pria itu menaruh hati padanya? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang sesungguhnya memusingkan. Apakah Delavar adalah gambaran dari sebuah pepatah yang mengatakan jika kita bisa melihat orang yang benar-benar tulus saat berada di titik terendah?
Hati Amartha ingin mengatakan ya untuk sepenuhnya, tapi tak bisa. Hanya sebagian dari hatinya membenarkan pepatah tersebut, mengingat Delavar dan mantan kekasihnya adalah saudara. Dia belum bisa mempercayai pria itu seratus persen.
Delavar sedari tadi sudah bangun saat merasakan ada kain yang mulai menutupi tubuhnya. Tapi ketika matanya sedikit terbuka, dia mengintip Amartha sedang memandangi dirinya. Sehingga niat untuk terbangun pun diurungkan. Namun wanita itu terlalu lama berdiri dengan posisi menunduk, membuatnya tak tega.
“Apa kau tak lelah berdiri terus?” Suara Delavar membuat Amartha segera menegakkan tubuh, dan berbalik badan tat kala kedua bola mata sudah terbuka lebar.
Amartha sedikit salah tingkah, takut disangka memberikan perhatian. “Aku hanya menyelimutimu, tidak lebih,” tukasnya.
Delavar terkekeh tanpa suara, Amartha sangat lucu saat malu seperti ini. “Terima kasih sudah perhatian denganku.”
Amartha mengedikkan bahu dan tak mengeluarkan suara apa pun. Dia berjalan menuju dapur untuk mencari makanan.
Dan Delavar tak melepaskan pandangannya sedikit pun. Mengamati apa yang diambil oleh Amartha. Dia buru-buru berdiri saat wanita itu memegang pisau.
Delavar tak ingin mengambil risiko apa pun, sehingga dia menggenggam tangan Amartha yang memegang pisau. Tubuhnya berdiri tepat di belakang wanita itu, tapi dengan memberikan sedikit jarak.
“Kau ingin melakukan apa dengan pisau ini?” tanya Delavar. Kepalanya berada tepat di samping telinga Amartha. Hembusan napas hangat juga menerpa kulit mulus wanita itu.
“Hanya memotong sayuran. Aku lapar dan ingin membuat salad,” jawab Amartha dengan tubuhnya yang menegang dan sedikit bergetar. Dia sedikit takut jika Delavar melakukan hal yang melebihi batas dengannya. Tubuhnya bisa merasakan jika posisi keduanya sangat dekat dan tidak menguntungkan baginya. “Bisa kau menjauh dariku? Aku tak nyaman seperti ini,” pintanya dengan lirih.
“Oke, sorry.” Delavar melepaskan tangannya dan berpindah posisi menjadi di hadapan Amartha. Dia membiarkan wanita itu menyiapkan makanan sendiri karena adanya aktivitas bisa mengalihkan pikiran seseorang. Tapi tetap matanya terus mengawasi.
“Kau mau ku buatkan salad juga?” tawar Amartha tanpa memandang Delavar, hanya fokus pada sayuran segar di atas meja.
“Boleh.”
Amartha pun menyelesaikan membuat salad dalam waktu lima belas menit. Dia menyajikan ke atas meja makan dan duduk berhadapan dengan Delavar. “Maaf jika buatanku kurang enak,” tuturnya masih menunduk. Wajahnya belum berani bersitatap dengan Delavar.
Delavar mulai menyendok dan memasukkan sayuran segar dengan saus khusus racikan Amartha sendiri. “Enak, kau pandai memasak,” pujinya. Padahal yang ada di mulutnya terasa sedikit keasinan, mungkin Amartha terlalu banyak saat memberikan garam di mangkuknya. Tapi dia menghargai usaha Amartha yang sudah susah payah membuatkan makanan untuknya di tengah malam seperti ini.