
“Dengan suka rela, aku bersedia jika kau memang ingin memanfaatkanku.” Delavar membalas ucapan Amartha. Dia menyangkal jika Amartha tak sama seperti orang-orang yang sudah menyakiti wanita itu. “Jelas kau berbeda dengan Marvel dan juga Chri—” Hampir saja mulutnya keceplosan membocorkan nama Christoper. Tapi buru-buru dia meralat. “Dan orang yang sudah tega menghamilimu.”
Jantung Delavar berdetak tak normal. Dia menghembuskan napas perlahan seraya mengamati mimik wajah Amartha.
Ada perasaan was-was jika wanita itu sadar saat bibir Delavar hampir kelepasan.
Entah ini keputusan yang tepat atau tidak untuk menyembunyikan jika anak ketiga keluarga Dominique tersebut adalah alasan utama penyebab Amartha hamil. Tapi untuk saat ini, lebih baik mengubur dalam-dalam semuanya, sampai ada waktu yang tepat untuk berbicara ketika pikiran Amartha sudah kembali jernih.
“Keluarlah!” usir Amartha menunjuk pintu agar Delavar segera meninggalkan kamarnya.
Delavar menggeleng dan bergeming. “Tidak, Amartha. Aku tak akan meninggalkanmu sendiri. Emosimu belum stabil, dan aku tak ingin terjadi hal buruk dengan tubuh serta nyawamu,” tolaknya.
“Keluar, Tuan Delavar!” Sekali lagi Amartha mengusir, kali ini matanya mendelik seperti orang kesetanan.
“Aku akan tetap di sini, jika kau tak suka aku terlalu dekat, maka aku akan pindah ke sofa dan menjaga jarak denganmu,” balas Delavar. Dia tak mungkin tega meninggalkan Amartha saat depresi seperti saat ini, emosi yang masih naik turun seperti naik roller coaster.
“Keluar!” Suara Amartha semakin terdengar keras. Tangannya melemparkan bantal ke arah Delavar. “Pergi kau dari sini!” usirnya secara terus menerus.
Delavar membiarkan tubuhnya dipukuli oleh Amartha. “Luapkan saja kemarahanmu denganku, asalkan setelah ini kau berjanji akan kembali tegar seolah tak pernah ada masalah yang menimpamu,” pintanya.
“Ke—” Amartha yang baru saja marah-marah, seketika langsung terdengar sesegukan dan berhenti memukul Delavar. Hanya ingin mengeluarkan suara untuk mengusir lagi pun tak muncul sempurna dari bibirnya.
“Aku ingin sendirian, ku mohon tinggalkan aku,” pinta Amartha sangat lirih, terdengar memilukan dan menyayat hati. Tubuhnya beringsut memeluk lutut dan menundukkan kepala.
Delavar mengangkat tangan kiri, siap menepuk pundak Amartha. Tapi berhenti di udara dan meregangkan otot-otot jemarinya. Rasa takut akan membuat wanita itu semakin histeris lebih dominan dibandingkan keinginannya untuk menenangkan Amartha.
Delavar memejamkan mata sejenak, menghembuskan napas kasar. “Oke, aku akan keluar. Tapi kau harus janji padaku, jangan melukai dirimu sendiri.” Dia mencoba bernegosiasi secara halus.
Delavar akhirnya mengalah. Tubuh kekarnya berangsur meninggalkan ranjang. Berbalik untuk menatap kondisi Amartha terlebih dahulu sebelum mengambil kunci yang tergantung di pintu kamar agar dirinya leluasa keluar masuk ke sana.
Pintu sengaja tak ditutup sempurna oleh Delavar. Dia ingin sedikit mengintip dari luar. Duduk di sofa dan mengamati Amartha yang terlihat masih duduk meringkuk. Sudah seperti pengangguran saja dia.
Perhatian Delavar berhenti saat ponsel di saku terasa bergetar. Segera tangannya mengambil benda pipih tersebut yang daya baterainya tersisa dua puluh persen. “Ya, Mom?” Dia menyapa, tapi matanya kembali menyorot ke kamar Amartha.
“Kau masih di apartemen Amartha?” tanya Mommy Diora. Kedekatan keluarga Dominique membuat mereka tak pernah menutupi apa pun satu sama lain. Mereka selalu terbuka dan bercerita tentang segala hal.
Dan semalam, saat menunggu Amartha, Delavar menceritakan tentang kejadian di mana wanitanya hampir bunuh diri.
“Ya.”
“Bagaimana kondisinya?”
“Seperti itulah, Mom. Aku kuwalahan menghadapinya.”
“Apa aku perlu ke sana?”
“Sepertinya jangan dulu, Mom. Emosinya masih belum stabil.”
“Lalu, apa yang harus mommy bantu?”
Delavar terdiam sejenak. Tapi tak berselang lama, dia menjawab pertanyaan orang tuanya. “Apa kau tau psikiater yang bagus di Helsinki?”