
Setelah makan berdua di tengah malam, Amartha dan Delavar kembali tidur di tempat mereka masing-masing. Tak ada moment saling menghangatkan satu sama lain, walaupun itu sangat diinginkan oleh Delavar. Hanya sebuah selimut yang saat ini menjadi pengusir dingin.
Pagi harinya, Delavar bangun lebih awal. Ini hari sabtu dan dia libur. Dia mengecek ke kamar Amartha dan ternyata wanita itu sudah siap dengan pakaian untuk olahraga.
“Kau mau ke mana?” tanya Delavar di ambang pintu.
“Jogging,” jawab Amartha singkat.
Delavar menaikkan sebelah alisnya. “Memangnya orang hamil boleh olahraga?”
Amartha mengedikkan bahu. “Aku tak peduli dengan anak ini,” balasnya. Terlihat jelas jika dia tetap tak menginginkan anak itu berada di dalam tubuhnya dan mengambil asupan nutrisi dari apa yang dia makan.
“Tunggu sebentar, aku ikut,” pinta Delavar. Dia segera kembali ke dekat sofa, tempat di mana sebuah tas jinjing berisi pakaian gantinya yang tak terlalu banyak.
Amartha menyandarkan tubuh di dinding seraya mengamati Delavar yang mulai masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian.
“Berangkat sekarang?” tanya Delavar. Dia memakai celana pendek hingga memperlihatkan paha berototnya dan jaket parasit.
Pertanyaan itu dijawab anggukan kepala oleh Amartha. Dan keduanya beriringan keluar dari unit apartemen tersebut.
“Kau biasa jogging di mana?” Delavar terus mengajukan pertanyaan untuk membuka topik pembicaraan sembari berjalan menuju lobby apartemen. Dia tak memaksakan jika memang Amartha tak peduli dengan janin yang ada di dalam kandungan wanita itu. Yang ia khawatirkan hanya kondisi Amartha. Sehingga tak melarang Amartha jika ingin olahraga.
“Taman dekat apartemen.” Amartha hanya menjawab seperlunya saja. Bahkan tak melirik ke arah Delavar sedikit pun.
Keduanya pun telah sampai di taman tempat Amartha ingin jogging. Amartha menyisir rambutnya menggunakan tangan dan menguncir kuda.
Amartha hanya melemparkan senyuman saat mendapatkan sanjungan seperti itu. Dan kakinya langsung berlari tanpa pamit.
Delavar pun mengikuti dan menyeimbangkan ritme larinya, walaupun dia bisa lebih cepat lagi. “Bagaimana kalau kita berlomba?” tawarnya disela-sela berlari.
Amartha melirik ke arah Delavar. “Tidak, aku pasti kalah karena tenagamu terlalu besar,” tolaknya.
“Yang menang mendapatkan hukuman kalau begitu, bagaimana?”
Amartha menggelengkan kepala, dia tak mau berlomba dengan Delavar.
“Hukumannya hanya menuruti permintaan yang kalah, itu saja. Jika aku menang, kau bisa meminta apa pun padaku. Bukankah itu menguntungkan?” Delavar kembali bernegosiasi.
Amartha masih belum ingin berkomentar. Dia sedang berpikir, pasti dirinya kalah jika berlomba dengan Delavar dan bisa meminta pada pria itu untuk memberinya ruang sendiri. Jujur saja jika dalam lubuk hatinya menginginkan kesunyian karena pikirannya sudah berniat ingin mencari tempat aborsi entah legal ataupun ilegal, yang pasti dia tak ingin anak di dalam kandungannya hidup. Tapi bagaimana bisa dia mencari dan keluar sendirian jika Delavar dan Mommy Diora terus bergantian menemaninya.
“Baiklah, aku setuju. Tapi tak boleh curang, harus berlari sesuai kemampuan masing-masing, bagaimana?” Amartha juga mengajukan syarat agar tak dibodohi.
“Oke. Kita mulai dari sekarang. Jika salah satu dari kita berhasil menyelesaikan tiga putaran penuh, artinya dia menang.”
“Oke.”
Delavar berlari mendahului Amartha. Namun jarak keduanya tak terlalu jauh. Dia sebenarnya tak menginginkan apa pun dari wanitanya, hanya ingin tahu apa keinginan Amartha karena wanita itu tak pernah meminta apa pun padanya. Mungkin karena sungkan atau malu pikirnya, sehingga tercetuslah ide balap lari tersebut.