
Setelah drama di pagi hari, akhirnya Amartha dan Delavar pun selesai juga bersiap. Dan kini waktu sudah menunjukkan pukul sebelas lebih lima belas menit. Dua jam lebih keduanya terlambat dari waktu yang sudah disepakati dengan desainer.
“Tidak makan dulu? Kalian pagi belum sarapan,” tanya Mommy Diora yang tengah duduk manis di ruang keluarga dan melihat anak serta calon menantunya baru saja turun dari tangga.
“Nanti saja aku makan di luar,” jawab Delavar. Dia mengajak calon istri untuk mendekati Mommy Diora.
Sebelum meninggalkan mansion, Delavar mengecup pipi kanan dan kiri Mommy Diora. Sebagai wujud bahwa hingga saat ini masih sangat sayang.
Amartha pun jadi otomatis mengikuti apa yang dilakukan oleh Delavar. “Mommy tidak mau ikut?” tawarnya setelah selesai memberikan kecupan.
Mommy Diora melirik ke arah Delavar yang berdiri di samping Amartha. “Nanti calon suamimu merajuk kalau ada orang ketiga,” cicitnya dengan alis yang naik turun menggoda sang anak. “Dia sedang berada dalam mode tak ingin diganggu,” imbuhnya.
Delavar menunjukkan rentetan gigi putih. “Tahu saja Mommy.”
“Ikut saja kalau Mommy mau. Lagi pula, semua orang pergi bekerja. Daripada kesepian,” ajak Amartha. Dia mengelus lengan Delavar untuk membujuk calon suaminya agar mengizinkan. “Boleh, ya? Mommymu ikut bersama kita ke butik. Apa kau tak kasian dengan orang tuamu yang sendirian?”
Delavar memutar bola mata ke atas seperti berpikir. “Em ... mau tidak, ya?” gumamnya seakan-akan sedang bingung.
Amartha sudah tahu apa yang harus dilakukan jika calon suaminya sedang seperti itu. Tangan segera menyentuh pipi dan mengarahkan wajah ke arahnya. Sedetik kemudian, ciuman pun lagi-lagi mendarat di bibir Delavar. “Sudah aku beri bayaran, jadi kau harus mau,” ucapnya setelah kepala kembali ke posisi semula.
Delavar mengacak-acak rambut wanitanya dengan gemas. “Sekarang kau sudah pandai merayuku.” Matanya pun beralih menatap Mommynya. “Ayo, Mom. Kalau kau mau ikut, karena aku sudah mendapatkan bayaran di muka.”
“Mommy siap-siap dulu.” Dia berdiri dari sofa dan hendak menuju kamarnya.
“Tidak perlu ganti, Mom. Pakaianmu sudah rapi, ambil saja tas,” teriak Delavar agar tak menunggu lama.
“Oke.”
“Aku tunggu di mobilku.” Delavar kembali berteriak, lalu membawa Amartha menuju kendaraan roda empatnya yang lain, bukan mobil yang biasa dia pakai sehari-hari.
Delavar dan Amartha sudah duduk di depan, dan bisa melihat Mommy Diora yang berjalan cepat ke arah mobil dan langsung masuk di bagian belakang.
“Let’s go!” Mommy Diora justru yang sangat semangat.
Perjalanan ditempuh dalam waktu tiga puluh menit. Ketiga orang itu langsung masuk ke dalam bangunan bernuansa Eropa modern yang sangat megah. Banyak gaun yang terpajang di sana.
“Selamat siang, Nyonya, Tuan, dan Nona Dominique,” sapa salah satu karyawan butik sangat ramah. “Silahkan masuk ke dalam, sudah disiapkan semuanya.” Dia mengantarkan member VIP butik tersebut ke ruangan khusus.
“Mohon maaf, Nona Gauttier tidak bisa mendampingi untuk mencoba gaun dan setelan jas untuk pernikahan Anda, karena sudah ada agenda lain. Namun beliau berpesan, jika ada keluhan dengan hasil rancangan, bisa langsung diutarakan pada saya,” jelas karyawan tersebut setelah mempersilahkan tiga tamunya duduk di sofa yang sangat nyaman.