I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 38


Delavar dan Roxy langsung disambut oleh seorang pelayan yang ditugaskan oleh pemilik mansion tersebut. “Mari, Tuan. Anda sudah ditunggu di dalam,” ujarnya seraya mempersilahkan dua tamu itu masuk ke dalam.


Tiga pasang kaki itu pun melangkah bersamaan menuju sebuah ruangan private. Delavar tak bisa melihat si pemilik rumah karena orang yang ingin dia temui sedang duduk membelakanginya.


“Tuan, tamu Anda sudah datang,” ungkap pelayan itu.


Seorang pria yang berumur dua tahun lebih tua dari Delavar itu membalikkan kursi dan menatap tajam ke arah anak ketiga keluarga Dominique itu.


Delavar memasang wajah tak ramah, raut manisnya mendadak hilang terganti dengan kedataran.


Sedangkan Roxy tak ingin ikut campur urusan majikannya, tugasnya hanya mempertemukan mereka berdua. Sehingga dia memilih ikut keluar bersama pelayan yang mengantarnya.


“Akhirnya kau datang juga, anak Tuan Dominique yang agung.” Pria itu menyapa Delavar, namun wajahnya terlihat sinis dan seperti tak ikhlas. Dia tahu, pasti cepat atau lambat Delavar akan menemuinya setelah sadar ada seseorang yang mengusik kehidupan pria berparas manis dan tampan itu.


“Langsung saja pada intinya, aku tak ingin basa-basi denganmu!” tegas Delavar. “Kenapa kau memata-matai aku selama satu tahun terakhir?” Dia langsung bertanya pada intinya. Bahkan posisinya masih tetap berdiri.


Pria yang diajak bicara justru mengulas seringai di bibir, membuat Delavar mengepalkan tangan. Dia berdiri dari singgah sananya dan berpindah ke sofa. “Duduk dulu, Tuan Delavar yang terhormat. Kita belum berkenalan secara resmi, bukankah sangat tak sopan jika kita berbincang tapi belum mengenal satu sama lain?”


Pria dengan kumis dan bulu-bulu tipis di rahang itu menghempaskan pantatnya di sofa empuk. Tangannya memberikan isyarat agar tamunya duduk santai. “Bersikaplah sopan, Tuan. Kau sedang berada di kediaman orang lain,” pungkasnya karena Delavar tak kunjung mengikuti perintahnya.


“Jangan menyinggung soal sopan santun, wahai Tuan Christoper. Kau sendiri tak memiliki itu! Menguntit orang seenaknya, apakah itu mencerminkan kesopanan?” balas Delavar tak kalah sinis. Dia menghempaskan tubuh di sofa dan berhadapan dengan pria yang berwajah menyebalkan.


Pria bernama Christoper itu bertepuk tangan sebanyak tiga kali. “Wow ... ternyata seorang anak Dominique mengenalku,” ucapnya tapi dengan nada mengejek.


“Rupanya kau sangat tak sabaran.” Christoper menyilangkan kaki dan tangan, menunjukkan sisi angkuhnya. “Jadi, apa yang ingin kau tahu? Alasanku menguntitmu? Atau alasanku memakai tubuh wanitamu?”


“Kau tahu betul apa yang aku inginkan!”


“Ya, tentu saja kau pasti ingin tahu keduanya. Karena keduanya sangat berkaitan.” Christoper mengeluarkan ponselnya, memperlihatkan sebuah foto seorang wanita dan melemparkan ke Delavar. “Apa kau ingat dia siapa?”


Delavar mengambil ponsel yang terjatuh di atas pahanya. Menatap potret wanita yang dia ingat betul. “Juniorku saat di kampus. Wanita gila, manja, dan terlalu memiliki obsesi tinggi selalu mengejarku,” jelasnya.


Christoper langsung melotot dan berdiri. Sedetik kemudian telapak tangannya mendarat sempurna di pipi Delavar.


Plak!


“Jaga bicaramu! Yang kau sebut wanita gila itu adikku!” berang Christoper. Matanya menunjukkan kilatan amarah.


Delavar mengusap sekilas pipinya, dia tak terima mendapatkan tamparan. Tubuh tegap berototnya ikut berdiri, bahkan dia lebih tinggi daripada si pemilik rumah. Dan detik berikutnya tangannya membalas perbuatan Christoper.


Plak! Plak!


“Aku selalu membalas dua kali lipat!” seru Delavar. Sorot matanya tak mau kalah dengan Christoper. Dan pria itu terlihat terkejut karena Delavar ternyata berani membalasnya.


“Jangan kau anggap aku tak berani denganmu! Aku memang yang paling ramah diantara keturunan Dominique yang lainnya. Tapi perlakuanku, tetap tergantung pada bagaimana orang memperlakukanku!” jelas Delavar dengan tatapan dan wajah datarnya. Meskipun tak senyum, dia tetap tampan. “Kau ramah, maka aku demikian. Kau mengusikku, maka aku akan membalasmu lebih dari apa yang kau lakukan padaku!”