
Satu bulan berlalu, selama kurun waktu itu Amartha selalu ditemani oleh Delavar untuk kontrol kondisi kesehatan serta rahim ke Dokter Beverly. Mereka berdua sudah seperti pasangan suami istri saja, padahal belum menikah.
Setelah pulang dari tempat praktik Dokter Beverly pada saat itu, Delavar dan Amartha tinggal di apartemen milik wanita tersebut karena Amartha bersikeras tak mau tinggal bersama Tuan dan Nyonya Dominique. Lebih tepatnya tak ingin merepotkan walaupun orang tua Delavar tak pernah mempermasalahkan hal tersebut. Namun, dia mau hidup mandiri.
Delavar yang tak pernah memaksakan kehendak itu tentu saja menurut. Dia bukannya lembek atau tak bisa mengambil keputusan. Tapi dirinya akan bahagia jika wanitanya senang.
Malam ini Amartha dan Delavar baru saja menyelesaikan makan malam hasil memasak bersama.
“Biar aku yang mencuci piringnya,” ucap Amartha seraya menumpuk alat makan kotor di meja makan itu.
“No, Amartha. Kau istirahat saja, aku yang akan membersihkan ini,” tolak Delavar yang tak ingin wanitanya terus memposisikan diri seperti pelayannya.
“Kau selalu memanjakan aku, Delavar. Aku tidak suka, aku ini wanita mandiri yang tak mau bergantung pada pria terus. Lagi pula kau sudah lelah bekerja seharian,” protes Amartha seraya mencubit lengan Delavar.
“Cium aku dulu, baru kau boleh mencuci piringnya,” pinta Delavar seraya memanyunkan bibirnya ke depan.
“Pasti ada maunya,” sahut Amartha seraya bergeleng kepala. Dia menarik tangan Delavar untuk berpindah posisi menjadi di hadapannya.
Delavar menaikkan sebelah alisnya, menanti apa yang akan dilakukan oleh Amartha.
Wanita itu sedikit menjinjit dan melingkarkan tangan di leher Delavar. “As your wish.” Amartha menyatukan bibirnya dengan sang pria. Kali ini bukan sekedar kecupan seperti biasanya, tapi saling berperang lidah.
Delavar otomatis melingkarkan tangan di pinggang Amartha. Membalas setiap pergerakan di dalam mulut yang memabukkan itu.
Setelah tiga menit berlalu, Amartha menarik kepalanya lagi untuk menyudahi ciuman panas tersebut. Melepaskan tangannya dan mengangkat alat makan yang kotor. “Berarti aku yang mencuci piringnya,” ucapnya seraya mengerlingkan sebelah mata genit.
Delavar terkekeh dengan tingkah Amartha. Memandang pergerakan wanita itu sampai ke tempat mencuci piring.
“Kau membuatku geli, Delavar. Tubuhmu terlalu dekat,” protes Amartha seraya menggeliat.
“Aku tidak melakukan apa pun padamu. Kalau seperti ini baru geli,” kelakar Delavar seraya mendekatkan wajah ke tengkuk wanita itu dan menggerakkan lidah di kulit tersebut.
“Hei, sudah hentikan!” pinta Amartha karena dia tak tahan dengan sensasi geli itu. “Jangan iseng, Delavar, nanti piringnya pecah.” Tangannya yang berbusa pun disentuhkan pada wajah sang pria agar berhenti membuatnya menggelinjang.
“Curang,” ucap Delavar menyudahi keisengannya. Dia meninggalkan kecupan di pipi Amartha hingga busa yang ada di wajahnya tertinggal di sana.
“Sudah, sana mandi dulu, kau dari pulang kerja belum membersihkan diri,” perintah Amartha seraya mendorong tubuh Delavar.
“Cium dulu,” pinta Delavar dengan mencondongkan wajahnya ke depan.
“Tidak, wajahmu penuh busa,” tolak Amartha.
“Oke, kalau sudah bersih kau harus menciumku sebanyak seratus kali.” Delavar menaik turunkan alisnya menggoda sang wanita.
“Banyak sekali.”
“Deal?” tanya Delavar mengulurkan tangannya meminta kesepakatan.
“Ti—”
Amartha hendak menolak, tapi Delavar sudah menarik tangan wanita itu dan saling berjabat tangan. “Oke deal,” tuturnya mengambil keputusan sendiri.