
“Sesuai kesepakatan, kau meminta sepuluh juta euro sebagai bayaran menjawab semua pertanyaanku.” Delavar melemparkan tas berisi uang hingga terjatuh tepat di depan kaki Papa Max.
Papa Max langsung menyeringai saat tiga ikat uang sampai keluar dari tas karena ritsleting tak ditutup oleh Delavar saat dilempar ke arahnya. “Aku kaya mendadak,” ujarnya sangat gembira.
“Kau memilih uang dibandingkan kebebasan. Maka nikmati sepuluh juta euro itu sepuasmu tanpa bisa kau sentuh,” pungkas Delavar. Bibirnya menyeringai sinis merutuki kebodohan pria yang lebih mementingkan harta itu.
Anak ketiga keluarga Dominique tersebut menepuk pundak kembarannya untuk mengajak Dariush keluar dari gudang. “Kita tinggalkan pak tua itu di dalam sini, biarkan dia merasakan hidup memiliki uang tanpa sebuah kebebasan.”
Dariush menertawakan Papa Max. “Orang serakah memang tak pernah sadar jika ketamakannya bisa membawa ke dalam sebuah petaka,” ungkapnya.
Delavar dan Dariush bersamaan berbalik badan dan mengayunkan kaki menuju pintu. Tak lupa keduanya mengambil ponsel yang digunakan sebagai penerangan dan membiarkan Papa Max di dalam ruangan gelap bahkan dengan pakaian yang basah kuyup.
“Keparat kalian! Lepaskan aku!” Papa Max meronta dengan menggoyangkan badan. Dia tak mengira jika setelah menjawab dengan jujur semua pertanyaan Delavar tetap tak akan dibebaskan.
Delavar dan Dariush tak peduli dengan raungan pak tua itu. Justru menutup pintu dengan kencang dan mengunci dari luar agar tak ada satu orang pun yang bisa masuk ke dalam gudang tak terpakai tersebut.
“Apa kau hanya menghukumnya dengan menyekap di dalam gudang saja?” tanya Dariush saat dia dan kembarannya berjalan menuju bangunan utama mansion.
“Jangan lupa mengajak aku untuk mengeksekusinya,” pinta Dariush.
“Bisa diatur.” Delavar menepuk pundak Dariush. “Aku langsung ke kamarku.” Ia berpamitan dengan kembarannya saat sampai di lantai dua di mana kamar keduanya berada.
Dengan hati-hati Delavar memasuki kamarnya, dia tak ingin mengganggu tidur Amartha yang terlihat sangat nyaman. Tak lupa mengganti pakaiannya yang tadi sempat terkena air sabun bercampur bekas bangkai tikus.
Delavar duduk di sofa dan mengamati wanitanya dari jarak dua setengah meter. “Sekarang aku tahu kenapa kau sangat dingin dengan aku,” ucapnya. Rasanya sangat ingin tidur di samping Amartha dan memeluk dari belakang. Memberikan ketenangan serta kenyamanan. Tapi kenapa sisi baiknya lebih dominan dibandingkan kelancangannya.
Tubuh terbalut kaus berwarna putih dengan celana kolor hitam tak bermotif itu mulai tidur di sofa dengan posisi miring. Dia terus memandang wajah Amartha. “Bagaimana caranya membuatmu bahagia dan tak perlu merisaukan kehidupan kelammu?” Dia terus berpikir mencari jalan keluar untuk menghangatkan hati seseorang yang beku.
Hampir tak pernah Delavar berurusan dengan wanita seperti Amartha. Tapi entah kenapa ketegaran mantan kekasih sepupunya itu membuatnya tertarik. Walaupun Amartha sudah banyak disakiti oleh banyak orang termasuk orang tua sendiri. Namun di mata Delavar, Amartha adalah sosok wanita yang tetap mencoba terus berdiri meskipun dunia tak berpihak padanya.
Tanpa sadar, Delavar pun perlahan terbang ke alam mimpi setelah puas menatap rakus wanitanya.
Jam digital di atas nakas milik Delavar pun berbunyi. Itu adalah alarm untuk membangunkan Delavar agar tak terlambat untuk bersiap ke kantor. Bukan pemilik kamar tersebut yang terbangun lebih dahulu, tapi Amartha.