
Satu putaran dimenangkan oleh Delavar. Putaran kedua pun demikian. Namun saat Delavar hendak memenangkan lomba lari tersebut dironde ketiga, kakinya mendadak berhenti karena tak mendengar suara langkah kaki di belakangnya.
Delavar membalikkan tubuh untuk melihat kondisi Amartha. Ternyata, wanita itu sedang duduk di bawah seraya memegangi perut. Buru-buru dia menghampiri Amartha.
Tubuh kekar Delavar langsung berjongkok di hadapan sang wanita. “Kau kenapa? Apa yang sakit?” tanyanya dengan wajah cemas.
“Perutku kram,” jawab Amartha diiringi desisan yang terdengar sangat sakit.
“Kita ke rumah sakit,” ajak Delavar. Dia hendak menggendong Amartha, sebab tak mungkin membiarkan wanitanya berjalan sendiri dalam kondisi sakit seperti itu.
Amartha menyentuh lengan Delavar dan keduanya saling bertatapan. Kepalanya menggeleng lemah. “Tidak mau, di sana pasti aku diobati dan anak sialan ini akan terus mengejekku karena tak berhasil ku singkirkan dari dalam perut ini,” tolaknya dengan menekankan sebutan anak sialan pada janinnya.
Delavar menghela napas lemah. “Oke, kalau begitu kita pulang saja ke apartemen. Tak perlu melanjutkan olahraga,” ajaknya. Tangan kiri Delavar sudah siap masuk ke dalam sela-sela tekukan pada kaki.
“Tidak, kita harus selesaikan terlebih dahulu lomba lari ini,” tolak Amartha seraya menghentikan dada Delavar yang hendak membopongnya.
Delavar menaikkan sebelah alis. “Untuk apa? Jelas-jelas kau sudah kesakitan seperti ini.”
“Kau larilah dan menangkan,” pinta Amartha dengan tatapan memohon.
“Tidak. Lombanya cukup sampai di sini.”
“Lalu, siapa yang menang?”
“Tidak ada.”
Amartha mendesah kecewa dan itu bisa ditangkap jelas oleh Delavar.
Delavar merebahkan tubuh Amartha di kasur setelah sampai di tempat tujuan. “Aku akan mengambilkan kompres hangat untuk perutmu,” tuturnya.
Tangan Amartha mencekal pergelangan Delavar saat pria itu hendak berjalan keluar kamar. Hal tersebut memancing kepala Delavar untuk menengok.
“Kenapa?” tanya Delavar.
Kepala Amartha menggeleng pelan. “Tidak perlu, biarkan perutku sakit seperti ini.”
“Tidak, Amartha. Kau sakit dan jika tak mau dokter yang merawatmu, maka aku yang akan melakukannya. Aku tak rela jika harus melihatmu berdesis menahan sakit itu,” jelas Delavar. Tangan satunya yang leluasa untuk bergerak pun mencoba melepaskan tautan Amartha tanpa tenaga yang kasar.
Delavar pun berhasil keluar dan beberapa saat kemudian kembali lagi membawa kompresan air hangat. Dia duduk di tepi ranjang samping Amartha tiduran.
Amartha menutupi perutnya sendiri agar tak bisa dikompres dan Delavar menghela napasnya kasar.
“Jangan keras kepala, Amartha!” tegur Delavar dengan suaranya yang lirih tapi penuh penekanan. “Aku tak ingin berbuat kasar denganmu, jadi tolong menurutlah denganku,” pintanya dengan tegas.
Baru kali ini Amartha mendengar suara Delavar yang seperti itu. Biasanya sangat lembut jika bertutur kata. Namun hal tersebut berhasil membuat Amartha menyingkirkan tangan dari perut.
Delavar menempelkan kompresan ke atas perut Amartha. “Jika terlalu panas, katakan saja padaku,” pintanya.
Amartha mengalihkan pandangan ke sembarang arah, dia seharusnya kesal karena Delavar menggagalkan rencananya untuk menyiksa janin dalam perutnya. Tapi entah kenapa tak bisa, dia tak mampu untuk marah-marah pada Delavar lagi.
“Kenapa kau sangat menginginkan aku untuk memenangkan perlombaan tadi?” Delavar mulai membuka topik pembicaraan agar ruangan itu tak diselimuti keheningan.