I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 30


Amartha merasa alasan Delavar itu tak masuk akal. Tapi karena melihat raut pria tersebut nampak sangat memohon dan sepertinya sangat membutuhkan, akhirnya dia pun memberikan sehelai rambutnya. Toh keluarga Dominique juga sudah membantunya dan tidak meminta balasan yang memberatkannya. Hanya hal-hal sepele yang diminta seperti berbicara tak formal lagi dan rambutnya. Dia tak merasa dimanfaatkan juga akan hal tersebut.


Delavar menerima rambut Amartha dengan senang hati. “Ayo turun, kita sarapan dulu,” ajaknya.


“Apa aku boleh langsung pergi saja?” pinta Amartha.


“Mommyku pasti tak menyukai hal itu, dia sudah menyiapkan sarapan untuk kita semua,” jelas Delavar. Dia mempersilahkan Amartha untuk berjalan mendahuluinya. Sementara dirinya sendiri mengambil sampel rambut milik Papa Max yang sudah dimasukkan ke dalam sebuah botol kecil bening sejak semalam dan menggabungkan dengan milik Amartha.


Delavar menyimpan sampel untuk tes DNA itu ke saku jas kerjanya dan menyusul Amartha untuk bersamaan menuju ruang makan.


Anak ketiga di keluarga Dominique itu mensejajarkan langkahnya dengan Amartha saat menuruni anak tangga. Dia menunjukkan di mana letak ruang makan di mansion yang sangat megah dan besar itu.


Amartha terdiam di tempat saat melihat tuan dan nyonya Dominique beserta Dariush sudah duduk di sana sedang menatap ke arahnya. Dia merasa tak pantas hadir di tengah-tengah keluarga ini. “Tuan, Nyonya. Saya permisi pulang,” izinnya.


Mommy Diora langsung berdiri dengan sigap dan menghampiri Amartha. “Sarapan dulu, tak perlu buru-buru. Ini masih sangat pagi, kau tak akan terlambat ke kantor. Kalaupun kau kehilangan pekerjaan di perusahaan Giorgio, kau bisa melamar kerja ke perusahaan keluargaku,” tuturnya seraya menuntun Amartha untuk duduk di kursi samping Delavar.


“Kau mau sarapan apa? Roti atau makanan lain?” Mommy Diora menawarkan kepada Amartha seraya mengambil croissant untuk dirinya sendiri.


“Kalau keluarga kami biasanya sarapan menggunakan roti atau salad,” ungkap Dariush. Dia memasukkan roti dengan selai kacang dan coklat ke dalam mulutnya.


Sebisa mungkin keluarga Dominique memberikan kenyamanan pada Amartha karena mereka semua tahu kalau Delavar sedang mencoba untuk mendekati wanita itu.


“Saya tak pernah sarapan, Tuan dan Nyonya,” jelas Amartha. Dia mengatakan sebuah kejujuran.


“Di sini semuanya harus sarapan sebelum memulai aktivitas,” ucap Delavar. Dia tahu pasti Amartha ingin menolak untuk makan pagi di mansionnya. “Croissant, kau mau? Chef kami khusus didatangkan dari Paris untuk membuat ini.”


“Ambilkan saja untuk Amartha, mungkin dia malu,” pungkas Dariush. Dia sendiri sangat gemas dengan kembarannya yang selalu tak berani mengambil langkah nekat karena memikirkan kenyamanan Amartha.


Delavar mengambilkan makanan untuk Amartha. “Mommyku sangat menyukai ini, mungkin kau juga.” Croissant sama persis dengan yang sedang dilahap oleh Mommy Diora pun diletakkan ke atas piring Amartha. “Makanlah.” Tak lupa pria berparas manis dan tampan itu melemparkan sebuah senyum khasnya.


“Terima kasih.” Semakin kikuk saja Amartha di sana, semua anggota keluarga Dominique sangat baik padanya. Dia justru merasa tak enak sendiri.


Mereka berempat pun memasukkan hidangan di pagi hari dengan suka cita kecuali Amartha.


“Kau tahu, Amartha,” ucap Dariush di sela-sela kunyahannya. Suara itu mampu mengundang fokus semua orang ke arahnya.


“Delavar itu orang yang sangat bodoh. Kau tahu kan jika dia menyukaimu dan selalu berusaha mengejarmu demi mendapatkan perhatian? Tapi saat semalam kau tak sadarkan diri, dia benar-benar tak berani mengambil kesempatan. Padahal aku sudah menghasutnya agar menghamilimu saja, tapi dia menolak ide gilaku itu karena tak ingin lancang denganmu,” ungkap Dariush menceritakan kejadian semalam dan langsung mendapatkan pelototan dari kembarannya, tapi dia tak peduli. Dia hanya ingin membantu Delavar agar dinilai baik di mata Amartha.