I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 47


Tangan Delavar masih menggenggam erat pergelangan Amartha. Matanya menatap teduh sosok dengan wajah yang sudah tak karuan.


“Apa kau ingin membuatku menjadi duda sebelum menikah?” tanya Delavar dengan berseloroh. Dia meraih kaca yang digenggam begitu erat oleh Amartha.


“Lepas!” sentak Amartha memberontak. Dia tetap tak mau mengendurkan jemarinya. Pikirannya sudah dipenuhi oleh bisikan-bisikan setan yang membuat hilang akal sehatnya. “Biarkan aku mati!”


“Tidak akan!” tolak Delavar. Dia tetap mencoba memaksa untuk membuka satu demi satu jemari Amartha. Sebisa mungkin hati-hati agar tak menggores kulit wanitanya. Namun, justru tangannya yang terluka. Tak masalah, hanya luka kecil yang tak seberapa sakit.


Delavar segera menjatuhkan serpihan kaca dengan sedikit noda darahnya itu. Menarik tubuh Amartha hingga menubruk dada bidangnya. Memeluk seerat mungkin dan membiarkan badannya dipukuli wanita yang dia cintai itu.


“Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya,” bisik Delavar di telinga Amartha. Tangannya menepuk punggung wanitanya dengan lembut dan memberikan kenyamanan serta kehangatan seorang pria yang tulus mencintai Amartha.


Namun Amartha tak merasakan nyaman sedikit pun. Dia terus memukuli dada bidang Delavar. Bibirnya tak henti mengeluarkan isakan. “Kenapa kau menghalangiku?! Kenapa!” teriaknya.


“Karena orang-orang yang membuatmu seperti ini akan senang jika kau mati! Bukankah seharusnya kau membalas mereka agar merasakan penderitaan juga?” tegur Delavar. Tangannya terus aktif membelai dari ujung rambut hingga punggung. Walaupun Amartha tetap belum menunjukkan ketenangan, tapi anak ketiga keluarga Dominique itu harus mencegah agar wanitanya tak berbuat hal bodoh.


“Bukankah itu yang mereka inginkan? Daripada hidupku tersiksa sedikit demi sedikit, lebih baik sekaligus agar mereka puas!” Amartha mencoba mendorong dada bidang Delavar. Tapi pria itu terlalu berotot dan berat sehingga membuatnya gagal menjauh dari rengkuhan salah satu pewaris keluarga Dominique.


Dengan menggunakan satu tangan, Delavar menarik tangan Amartha agar melingkar di tubuhnya. “Kau seharusnya membalas mereka bukan dengan cara mengakhiri hidupmu. Balas dendam terbaik adalah menunjukkan pada mereka jika kau masih tetap bisa berdiri tegak walaupun banyak yang sudah menyakitimu.”


Delavar mencoba menasehati, walaupun Amartha masih belum bisa berpikiran jernih akibat tekanan mental yang terlalu kuat hingga rasanya hampir gila.


“Kau wanita kuat yang pernah aku kenal, maka tetaplah kuat, Amartha.” Delavar pun ikut merasakan hatinya teriris, dia memang belum tahu persis apa yang membuat wanitanya menjadi depresi seperti ini. Tapi dia yakin, pasti tak jauh-jauh dari masalah yang ditimbulkan oleh orang tua Amartha.


Delavar benar-benar kuwalahan menghadapi Amartha yang tak kunjung berhenti meraung. Dengan satu tangan masih memeluk wanitanya, dia meraih ponsel di dalam saku jas dan menelepon Roxy.


“Ada apa, Tuan?” sapa Roxy.


“Bawakan aku obat penenang ke apartemen Amartha, sekarang!” titah Delavar dengan nada bicara yang mengandung ketegasan.


“Baik, sepuluh menit lagi saya sampai di sana,” jawab Roxy.


“Obat penenang? Kau pikir aku gila! Aku masih waras!” Amartha memberontak lagi dan lagi. Kali ini dia berhasil lolos dari pelukan Delavar saat pria itu lengah.


Delavar melemparkan asal ponselnya saat Amartha mencoba kabur dan kembali membawa ke dalam pelukannya. “Tetaplah berada dalam jangkauanku, Amartha. Aku tak ingin kehilanganmu,” tuturnya sangat lembut.


...*****...


...Jangan bilang Amartha keras kepala, ditolongin Delavar malah nolak, masih mending ada Delavar yang mau sama dia. Amartha itu lagi depresi guys, orang depresi pikirannya emang pendek. Mau sepinter apa dia, sekolah setinggi apa pun, harta sebanyak apa pun kalo udah kena mental ya tetep aja bakalan kaya gitu. Stres, gila, depresi, pengen mengakhiri hidup. Ini bukan karena Amartha keras kepala, tapi hasutan setannya lebih mendominasi. Kalo yang belum pernah ngerasain kena hantaman mental pasti bakalan menilai Amartha lemah, tapi yang udah pernah ngerasain gimana hidupnya berasa hancur pasti paham deh perasaannya jadi Amartha....