I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 113


Memang Dariush itu senang sekali membuka aib Delavar. Dan kini membuat semua anggota keluarganya menatap ke arah Amartha dan anak ketiga di keluarga Dominique itu.


Amartha yang menjadi pusat perhatian pun otomatis menutup bibirnya menggunakan tangan dan menunduk malu. “Apakah sejelas itu?” tanyanya pada Delavar dengan nada bicara berbisik.


Delavar mengelus lengan Amartha. “Iya.”


Tangan Amartha pun mencubit paha sang pria. “Kenapa kau tak mengatakan padaku. Jika tahu seperti ini, pasti aku akan merias wajah agar tak kelihatan bengkak,” protesnya.


Cup


Delavar justru melabuhkan kecupan di pipi Amartha. “Tak apa, kau tetap cantik walaupun bibirmu bengkak,” pujinya. Dia meyakinkan wanita itu agar tak perlu malu. Toh mereka sebentar lagi menikah. “Memang Dariush mulutnya seperti itu jika bersama keluarga, tak bisa direm,” beritahunya kemudian.


Dariush berdecak pelan seraya kepalanya menggeleng. “Memangnya berapa kali dan lama kalian berciuman sampai bisa seperti itu bibirnya?” tanyanya yang memiliki rasa penasaran tinggi.


Delavar menghitung menggunakan jari kekarnya. “Sepertinya tiga puluh kali dalam satu malam,” jawabnya hanya menebak karena sudah terlalu banyak ciuman yang dilakukan sampai lupa sendiri sisa hutang Amartha padanya.


“What?” pekik Dariush. Wajahnya melongo seolah tak percaya jika kembarannya bisa melakukan sebanyak itu. “Tiga puluh kali?” tanyanya memastikan sekali lagi. Namun, nada bicaranya seperti meragukan.


“Iya, kenapa? Pengen, ya?” goda Delavar dengan menaik turunkan alisnya. “Kasian tidak bisa melakukan seperti ini,” ejeknya.


Delavar meraih wajah Amartha untuk dialihkan ke arahnya. Dan wajah itu saling mendekat. Anak ketiga keluarga Dominique mencium calon istrinya di depan seluruh anggota keluarga. Memamerkan kemesraan di depan Dariush yang jomblo.


Mulut Dariush sampai mengaga saat menyaksikan kemesraan itu. “Sialan! Ku cium Amartha sekarang juga jika kau tak menyudahi ciumanmu itu!” ancamnya.


Amartha mendorong dada Delavar hingga menjauh. “Malu, kau jangan melakukannya di depan banyak orang,” omelnya.


Delavar terkekeh seraya meraih tangan Amartha. “Santai saja, lihatlah ke sekelilingmu. Mereka juga mengikuti jejak kita,” bisiknya.


Dan pandangan Amartha melihat ke arah Tuan dan Nyonya Dominique, Marvel, Deavenny, Felly, serta Danesh. Mereka juga sedang mencium pasangan masing-masing.


Begitu pula Dariush yang ikut melihat keluarganya. “Sial! Kalian membutaku ingin berciuman juga,” keluhnya.


Dariush yang tak memiliki pasangan pun memisahkan ketiga suami istri yang sedang memadu bibir. “Cukup! Hentikan kemesraan kalian ini. Tolong hargai yang jomblo di sini.”


Dan tawa mereka pun pecah karena melihat wajah Dariush yang kesal.


Setelah selesai berbincang, Delavar menarik tangan Amartha untuk berdiri. “Aku ajak calon istriku mengelilingi mansion ini,” pamitnya.


“Hahaha ... masih kesal rupanya kau denganku,” kelakar Delavar. Dia menoel dagu kembarannya itu saat melewati Dariush.


Delavar pun mengayunkan kaki diikuti oleh Amartha.


“Kau mau membawaku ke mana?” tanya Amartha saat diajak menaiki lift menuju lantai teratas bangunan utama mansion itu.


“Studio musik.”


“Ada?”


“Tentu saja.”


Delavar membukakan pintu sebuah ruangan yang sangat besar dan terdapat berbagai macam alat musik yang lengkap.


“Banyak juga alat musiknya, tertata rapi juga,” puji Amartha saat sudah menginjakkan kaki di dalam sana.


Delavar menutup kembali pintu dan menghidupkan sirkulasi udara agar tak terlalu pengap. “Kau suka bermain musik?” tanyanya seraya mendekati Amartha.


“Tidak, aku tak ada waktu untuk itu.”


“Nanti aku ajari, kau mau memainkan yang mana?” tawar Delavar dengan tangannya merangkul pinggang Amartha.


Amartha menengok ke samping, menatap Delavar. “Dari semua alat yang ada di sini, mana yang sering kau mainkan?”


“Alat ini.” Delavar menunjuk area pangkal pahanya.


Membuat Amartha mengernyit saat mengikuti telunjuk pria itu. “Maksudmu?”


“Dari semua alat yang ada di sini, aku sering memainkan alat kelaminku,” jawab Delavar tanpa rasa malu.


...*****...


...Fix yang enggak ketawa berarti selara humor kita beda wkwkwkwk....