Cinta Terhalang Janji

Cinta Terhalang Janji
Bermain dengan si sabun.


Daven berjalan memasuki rumahnya masih dengan wajah yang ditekuk. Walaupun Alena sudah mengirimkan pesan permintaan maaf, entah kenapa dia masih merasa kesal.


"Hai, Ka Daven! kenapa dengan wajahmu Kak?kamu sepertinya lagi kesal." sapa sosok penyebab kekesalan Daven seharian ini. Siapa lagi kalau bukan Carlos.


"Kamu kok masih ada di sini? kamu belum ada niat untuk pulang?" cetus Daven menampakkan wajah yang sungguh tidak enak untuk dipandang.


"Kakak, mau mengusirku? kalau kakak mengusirku,aku tidak perduli, karena aku akan tetap di sini." sahut Carlos dengan wajah menantang, benar-benar ingin minta dipukul sepertinya.


"Haish, kamu ya! udah ah, aku mau ke atas dulu! capek ngelayanin kamu." Daven beranjak meninggalkan Carlos yang bingung dengan sikap Kakaknya.


"Kenapa dengan dia? kenapa sepertinya sedang kesal padaku? tapi, aku gak perduli ah, yang penting aku bisa tetap di sini, biar bisa ngantar Dean tiap hari ke sekolah. Jadi aku bisa tiap hari melihat wajah my honey, Cathleen." Carlos mengayunkan langkahnya masuk ke ruang bermain Dean sembari bersiul.


Daven membuka pintu kamar dan melihat Alena yang sedang duduk menyender di sandaran ranjang mereka,dengan sebuah buku di tangannya.


"Kamu kenapa Sayang? kamu masih marah ya?" sapa Alena, ketika melihat wajah Daven yang masih saja tidak bersahabat.


"Hmm," sahut Daven sembari mendaratkan tubuhnya di sofa seperti enggan untuk menghampiri Alena, yang biasa dilakukannya bila pulang dari kantor.


"Kok cuma hmm? berarti kamu masih marah.Kalau begitu,aku mau turun ke bawah saja,main sama Dean dan Carlos." Alena yang memang lagi sensitif, bukannya membujuk Daven,malah ikut-ikutan kesal melihat Daven yang masih marah.


Daven sontak terbeliak, dan langsung berdiri dan menarik tangan Alena. "Aku tidak marah lagi, sayang! kamu di sini saja ya! aku cuma berpikir,kenapa Jenni sudah hamil, dan bahkan kata Andrew dia akan memiliki anak kembar? kita kapan ya bisa memberikan Dean adik? dulu hanya sekali saja, Dean langsung ada, ini kita hampir tiap hari melakukannya, kenapa belum jadi ya?__atau jangan-jangan aku bermasalah ya sayang?" Alena berusaha menahan tawa melihat kegundahan Daven.


"Kapan Andrew memberitahukanmu?" tanya Alena berpura-purq antusias mendengarkan cerita Daven.


"Tadi, di jalan pulang ke sini, Andrew meneleponku, dan memberitahu kalau Jenni lagi hamil anak kembar." Daven terlihat kurang bersemangat.


"Selama ini mereka tidak pernah terpisah, tapi baru ini Jenni hamil lagi. Itu berarti belum tentu kamu bermasalah sayang! mungkin belum saatnya saja, aku hamil lagi. Jadi kamu sabar saja ya! "Alena menepuk-nepuk punggung Daven, untuk menenangkannya.


"Iya,juga ya! tapi masa aku harus menunggu 5 tahun lagi, biar kamu bisa hamil lagi?" Daven benar-benar sudah salah mengartikan ucapan Alena.


Alena menghembuskan nafasnya ke udara, merasa sedikit kesal dengan suaminya yang mendadak bodoh.


"Bukan seperti itu juga, sayang! mungkin sebentar lagi, kita juga akan bisa memberikan Dean adik. Gak harus menunggu lima tahun." Alena berusaha menjelaskan dengan sabar.


"Kamu juga sudah berhasil sayang memberikan putra kita adik, bukan hanya satu tapi, dua sekaligus." ucap Alena, yang tentu saja hanya berani dia ucapkan dalam hati saja.


"Oh begitu ya Sayang?" wajah Daven sudah kembali bersinar mendengar penuturan Alena.


Sudut bibir Alena, tertarik sedikit ke atas membentuk senyuman licik, dia seperti mendapatkan sebuat ide untuk menjerat Daven, agar mau memenuhi keinginannya.


" Sayang, kalau mau cepat buat aku hamil, caranya kita harus semakin sering-sering melakukannya. Sekarang juga aku mau sayang!" Alena, menekan-nekan lembut dada Daven dengan manja.


"Hah?! sekarang? tapi aku belum mandi sayang!" Daven mencoba mencari alasan.Bukannya dia tidak mau, tapi kebetulan karena dia merasa sangat lelah hari ini.


Alena mengendus-endus tubuh Daven, yang justru semakin memabukkan baginya.


"Sayang, nanti saja ya! aku lagi capek juga soalnya." Daven mencari alasan lagi. Bukan, tapi itu adalah kenyataannya.


Alena menyebikkan bibirnya, merasa kesal mendapat penolakan dari Daven.


"Kalau kamu menolak begini, kapan jadinya adik Dean?" Alena menggerutu dengan air mata yang sudah menetes.


Daven benar-benar kewalahan sekarang, bingung dengan perubahan Alena,yang selain makin menyebalkan juga semakin cengeng.


Daven menghela nafasnya dengan sekali hentakan. Dia meraih pundak Alena dengan lembut, memutar tubuh Alena agar menghadap padanya.Lalu dia menangkup pipi Alena yang sedikit mulai chubby.


"Aku tidak menolak sayang, cuma aku benar-benar lelah dan gerah. Nanti saja ya,setelah aku mandi." bujuk Daven dengan lembut.


"Tapi aku maunya sekarang sayang,bukan nanti! kalau nanti lain lagi ceritanya."


"Hmm, ya udah deh! tapi kalau badan aku bau, bukan tanggung jawabku ya?" Daven pasrah, mengalah daripada Alena kembali menangis.


Raut wajah Alena sontak berubah berbinar dan langsung menyerang tubuh suaminya. Daven yang awalnya ogah-ogahan, sudah terpancing, dan membalas semua serangan Alena.


Suara desahan Alena kini sudah memenuhi ruangan kamar itu. Udara dingin yang dikeluarkan oleh pendingin ruangan,tidak mampu untuk menghalau rasa panas yang diakibatkan oleh pertempuran panas antara Daven dan Alena.


Tanpa mereka sadari, pintu kamar mereka dari tadi terbuka,karena Daven lupa menutupnya.


Carlos yang hendak mengantarkan Dean ke kamar orangtuanya, sontak meneguk ludahnya sendiri dengan wajah yang memerah,mendengar suara-suara yang menurutnya horor, dari dalam kamar. Dia pun buru-buru mengangkat tubuh Dean dan segera membawanya menjauh dari kamar Daven dan Alena.


"Paman, kok Dean dibawa lagi ke kamar? kenapa kita tidak jadi ke kamar Mommy dan Daddy? Dan suara apa tadi Paman?" Dean bertanya beruntun, sehingga Carlos sulit untuk menjawab apa.


"Mm, badan Daddy kamu, mungkin lagi sakit karena kecapean, jadi mommy lagi memijatnya." Carlos mencoba memberi penjelasan yang masuk akal.


"Daddy yang dipijat,tapi kok mommy yang sepertinya menjerit, Paman?" Dean belum bisa menerima penjelasan dari Carlos.


"Oh, itu, mungkin suara Daddy, digantiin sama Mommy kamu." Carlos menjawab asal, sampai dia sendiri tidak tahu apa yang baru saja dia ucapkan.


"Tapi ___"


"Udah, udah, sekarang yang penting kamu jangan ke kamar Daddy dan Mommy dulu ya! sekarang kamu main sendiri dulu! paman mau ke kamar mandi dulu." Carlos sedikit berlari ke kamar mandi, untuk melakukan ritual yang biasa dilakukan, oleh pria pada umumnya, yaitu bermain dengan si sabun.


"Sial, sepertinya aku harus cepat-cepat menikahi Cathleen. Mana kuat saya kalau begini terus." umpat Carlos, dengan tangan yang tetap tidak berhenti bekerja di bawah sana.


Tbc


Jangan lupa buat ninggalin jejak ya gais.Please like vote dan komen.Kasih hadiah juga boleh😀🥰