Cinta Terhalang Janji

Cinta Terhalang Janji
Mengetahui kebenaran


Tanpa sadar, cairan bening sudah merembes turun, membasahi pipi Alena.Dia tidak menyangka kalau pernikahannya akan segera berakhir. " Kamu sangat kejam ka Daven. Kamu tidak punya hati" suara lirih Alena akhirnya keluar dari mulutnya.


"Kejam bagaimana? Aku sudah memenuhi apa yang sudah aku janjikan dulu. Aku membelikan kamu rumah,membuat usaha buat mu. Bagaimana bisa, kamu masih mengatakan aku kejam? Apa masih kurang? Kamu mau apa lagi? sebutkan saja, aku akan memenuhinya! " ujar Daven, membelakangi Alena.Dia tidak sanggup melihat air mata yang jatuh di pipi Alena.


Alena menyeka air matanya, lalu memutar tubuh Daven agar menghadap ke dirinya.


"Kamu lihat aku .... lihat! apa aku seperti wanita yang haus akan harta hah?! Kalau aku mengatakan permintaan ku, apa kamu sanggup memenuhinya? Aku minta , agar kamu mengembalikan hatiku yang sudah kamu curi, apa kamu sanggup? Kalau kamu sanggup, kembalikan sekarang! Aku tidak butuh semua harta yang kamu berikan. Aku hanya butuh hatiku kembali ! Tolong kembalikan hatiku! " Alena menangis sesunggukan sampai tersungkur berlutut di kaki Daven.


"Aku tidak pernah mencuri hatimu. Aku sudah bilang, jangan sampai memakai hati dalam pernikahan ini bukan? Jadi jangan salahkan aku ! Kamu sendiri yang membiarkan hatimu datang pada ku, dan aku tidak punya tanggung jawab untuk mengembalikannya padamu!." ucap Daven dengan nafas yang memburu.


"Dengar Alena, aku sudah melaksanakan semua yang perjanjian kita. Sekarang pencarian ku terhadap wanita yang aku cari selama ini sudah menemukan titik terang. Dan itu berarti kita pun harus bercerai. Dan semua yang ku janjikan padamu juga sudah aku penuhi.Jadi, aku tidak memiliki hutang apapun padamu lagi. " ujar Daven seraya mengalihkan tatapannya ke arah lain.Dia takut banteng pertahanannya akan luluh melihat tangis Alena.


"Apa kamu yakin, kamu tidak ada melanggar perjanjian kita Tuan Daven? " tanya Alena yang sudah kembali menyebut Daven Tuan.


"Kamu sudah menyentuhku. bukan kah itu berarti kamu sudah melanggar satu kesepakatan kita? Alena bangkit berdiri dengan seringaian tipis yang terbit dibibirnya.


Daven terhenyak mendengar ucapan yang baru saja dilontarkan Alena. Dia tidak menyangka kalau Alena akan mengungkit hal itu kembali.


"Kalau itu murni ketidak-sengajaan Alena. Aku mabuk dan tidak sadar sudah menyentuhmu. Dan kamu juga tahu hal itu kan? Atau, kamu memang sengaja memanfaatkan situasi pada saat aku mabuk? kamu mau saja aku sentuh,berharap dengan begitu aku tidak akan meninggalkanmu. Begitu kan Alena? sindir Daven sarkasme.


"Jadi, di pikiranmu aku serendah itu? aku tidak serendah itu Daven! Aku memang salah, sudah mencintaimu.Tapi aku tidak pernah berniat untuk mengikat mu dengan cara memanfaatkan situasi di saat kamu mabuk.Kamu sendiri yang datang dan memaksaku melakukannya."


"Tidak ada maling yang mau mengakui kesalahannya Alena.Kalau semua mengaku, penjara akan penuh.Demikian juga dengan mu.Kamu mana mau mengakui niat burukmu. Kamu tadi sudah mengatakan kalau kamu mencintaiku. Itu berarti aku tidak pernah memaksamu melakukannya.Justru kamu menikmatinya kan Alena? Jadi jangan merasa kamu yang jadi korban di sini. "


"Cukup! cukup semua penghinaanmu!" Ok, kamu tenang saja.Aku akan pergi sesuai keinginanmu.Terima kasih buat semua yang kamu berikan." Alena beranjak naik ke atas meningalkan Daven yang termagu dan menatap punggung Alena dengan manik yang sendu.


Setelah Alena masuk kedalam kamarnya.Daven mengayunkan tangannya memukul tembok dengan keras,sehingga mengeluarkan darah.Daven menangis terisak-isak dan tersungkur jatuh memyender ke tembok seraya mengusak rambutnya berkali-kali.


Bunyi ponselnya yang berdering, mengalihkan sejenak rasa penyesalan akan ucapan-ucapannya pada Alena.Dia segera menjawab panggilan di ponselnya yang ternyata dari Andrew.


" Kenapa Ndrew?"


"Tuan, ternyata yang aku lihat kemarin, benar Dokter Hans.Dan sekarang aku sudah tahu dimana dia tinggal bersama keluarganya. Dia membuka praktek di daerah county dekat dengan proyek pembangunan yang sedang perusahaan kita tangani.


"Ok, kamu awasi dia ! aku akan ke sana sekarang! " Daven berdiri, melangkah ke arah westafel dan mencuci wajah terlebih dahulu. Setelah itu, dia mengayunkan langkahnya beranjak pergi untuk menyusul Andrew. Sebelum dia mencapai pintu keluar, dia menggerakkan matanya untuk melihat ke atas seraya menghela nafasnya.


********


Dalam waktu 3 jam lebih, akhirnya Daven tiba di tempat dimana Andrew berada. Dengan tidak sabar,Daven langsung mengajak Andrew menuju tempat keberadaan Dokter Hans, tanpa mengistirahatkan tubuhnya terlebih dahulu.


"Apa kabar Dokter Hans? lama tidak berjumpa! Sepertinya anda semakin sehat dan sukses ya?" Senyuman sinis tersungging di bibir Daven.


Raut wajah Dokter Hans,berubah pucat dan ketakutan,saat dia melihat kehadiran Daven dan Andrew di ruangannya. Dia meneguk ludahnya berkali-kali. " Tu-tuan Daven, A- a,-anda kok bisa ada di sini?" Dokter Hans terlihat sangat gemetaran saat bertanya.


"Kenapa aku tidak bisa ada di sini? aku cuma mau bertemu dengan dokter yang sudah menolong ku dulu. Apa itu salah? Dan kenapa wajah anda terlihat ketakutan Dokter Hans? apa kamu ada berbuat kesalahan sehingga kamu sangat ketakutan? , Daven mendaratkan tubuhnya untuk duduk di sofa sambil mengangkat kakinya.


Tiba-tiba Dokter Hans, menjatuhkan dirinya berlutut di depan Daven.


"Ampuni aku Tuan! Aku tidak sengaja melakukannya. Aku telah mengenalkan wanita yang salah pada Tuan Daven." tanpa diminta ,Dokter tua itu langsung mengakui kesalahannya.


"Oh, jadi kamu udah tahu kesalahan kamu apa? Bagus lah! ", Daven bangkit berdiri dan langsung mencengkram kuat kerah kemeja yang dipakai Dokter Hans,seraya mengangkat dokter itu untuk berdiri. "Kamu tahu tidak, karena perbuatanmu, aku hampir saja menikah dengan wanita ular. Dan kamu dengan mudahnya meminta maaf! hah?! " suara Daven mengelegar memenuhi ruangan.Dia tidak sanggup lagi menahan amarah yang sudah berusaha ditahannya dari tadi.


"Maaf Tuan Daven, aku melakukannya karena terpaksa.Nyawa keluarga ku ada ditangan Nona Brianna saat itu.Dia menyuruh orang menculik istri dan anak-anakku. Kalau aku tidak mau melakukan apa yang dia minta, dia mengatakan nyawa istri dan anak-anak ku akan melayang. Dia juga melakukan hal yang sama pada perawat yang membantuku.Makanya dia juga ada di sini bersamaku! " Dokter Hans menunjuk ke arah perawat yang berdiri dengan tubuh yang gemetar.


"Jadi, kalian melakukannya bukan karena uang?" tanya Daven dengan nada menyelidik seraya melepaskan cengkramannya,dari kerah kemeja Dokter Hans.


"Bukan Tuan! aku sudah mengambil sumpah dokterku, jadi aku harus melakukan tugas ku sesuai dengan sumpahku.Tapi aku, harus benar-benar menyelamatkan nyawa keluarga ku juga Tuan ,makanya aku melanggar sumpah dokter ku. Ta-tapi Tuan, diam-diam sebenarnya sebelum rekaman CCTV itu dihapus, aku terlebih dahulu sudah menyimpannya Tuan."


Daven sontak terkesiap dan menatap Dokter Hans dengan tatapan menuntut. "Apa kamu serius dengan ucapanmu?"


"Iya, aku serius Tuan?"


"Jadi dimana bukti rekaman itu sekarang?" tanya Daven tidak sabar.


"Sabar Tuan! aku ambilkan dulu" Dokter Hans berjalan, menjauh dari Daven, menghampiri laci meja kerjanya.Lalu mengeluarkan sebuah benda kecil dari dalam laci itu.


Daven langsung merampas benda kecil itu, dari tangan Dokter Hans dan langsung melemparkannya ke arah Andrew untuk memutarkannya segera.


Andrew langsung melaksanakan perintah Daven dengan mencolokkan benda kecil itu ke laptop milik Dokter Hans. Dengan jantung yang berdebar-debar Daven menatap layar laptop itu dengan mata yang tidak berkedip.


"Itu dia!" Teriak Daven sambil mendekatkan wajahnya ke layar monitor untuk bisa melihat dengan jelas.Lalu dia menekan tombol pause disaat wajah wanita itu sudah jelas. Sepersekian detik kemudian, kedua netra Daven membesar dengan mulut yang terbuka melihat wanita yang ada di layar monitor itu.


"A-Alena" Gumamnya dengan tubuh yang tersungkur ke belakang.


Tbc


Jangan lupa buat like, vote,rate dan komen ya gais. Thank you.