Cinta Terhalang Janji

Cinta Terhalang Janji
Biarkan aku memelukmu


Alena masih termagu di tempatnya.Bingung antara mau masuk atau tidak. Dia takut, kalau dia masuk, Daven akan marah dan mengusirnya. Tapi kalau dia tidak masuk, dia tidak tahu dia akan kemana.


Alena menarik nafas dalam -dalam lalu menghembuskannya dengan sekali hentakan. Dia akhirnya memberanikan diri untuk masuk kedalam kamar Daven. Dengan penuh hati-hati dia menutup pintu dan berjalan mengendap-endap seperti pencuri. Dia melihat Daven yang masih terlelap dalam tidurnya tanpa berganti pakaian.


"Huft, dia tidur, syukurlah! gumam Alena sembari mengelus dadanya.


Alena ingin masuk langsung ke kamar mandi, tapi entah kenapa seperti ada sesuatu yang menarik dirinya untuk memutar kembali badannya. Dengan perlahan Alena menghampiri Daven dan jongkok, untuk menatap wajah Daven dengan bebas.


"Apakah benar kamu belum menikah dan mencari ku selama ini? batin Alena tanpa melepaskan pandangannya pada wajah Daven yang menurutnya semakin tampan di matanya.


"Ka, aku merindukanmu! apa Kaka merindukan ku juga? Alena lagi-lagi berbicara dalam hati.


Daven terlihat menggeliat, membuat Alena tiba-tiba tiarap di lantai untuk langsung bersembunyi. Jantungnya sekarang berdetak begitu hebat seperti habis lari maraton.


Alena kembali bangun dengan perlahan, untuk mengintip apakah Daven benar-benar sudah bangun atau hanya menggerakkan tubuhnya saja untuk berbalik arah.


Kedua netra Alena, membesar dengan sempurna, ketika mata Daven sudah terbuka dan kini sedang menatapnya juga.


"K-ka Daven ..., k- kamu sudah bangun?" tanya Alena gugup sembari meneguk ludahnya.


"Kamu, ngapain ada di bawah sana? " tanya Daven, berusaha untuk tetap tenang. Padahal jantungnya juga sudah berdisko di dalam sana.


"Eh ..., eh, gak ngapa-ngapain Ka! Alena tadi, lagi nyari kecoa ..., ya Kecoa, sepertinya tadi lari ke bawah tempat tidur Ka," sahut Alena dengan nafas yang memburu.


"Oh ya? Selama aku ada di sini, baru kali ini ada kecoa di kamar ini. Coba aku lihat dimana kecoanya." Daven beranjak turun dari tempat tidur dan membungkuk melihat kebawah tempat tidur.


Alena seperti kesulitan bernafas, sewaktu Daven sangat dekat dengan dirinya.


"Kok aku tidak melihat ada kecoa di bawah sini?" tanya Daven, sambil berdiri, sehingga tubuhnya hampir tidak berjarak dengan Alena, membuat Alena kembali menahan nafasnya dan memundurkan tubuhnya.


"Mungkin kecoanya udah pergi Ka." ucap Alena sembari menggigit bibir bawahnya.


"Mungkin!" ujar Daven sambil manggut-manggut.


Daven mengalihkan tatapan ke arah tangan Alena yang sedang memegang pakaian.


"Kamu mau ngapain dengan pakaian itu?" tanya Daven,mengalihkan tatapannya kembali ke wajah Alena.


"Emm, a-aku mau mandi Ka! Kata Mommy aku mandi di sini. Ma-maaf kalau aku sudah lancang masuk ke kamar Kaka, " Alena menundukkan wajahnya, tidak berani membalas tatapan Daven.


"Hmm, siapa yang bilang kamu lancang? Kamu itu, istriku,jadi memang harus berada di kamar ini.Karena kamar ini juga kamar kamu" tutur Daven pelan, tapi masih bisa didengar oleh Alena.


"Hah? "


"Kamu tidak dengar? apa perlu aku ulangi lagi?" Daven mulai menarik sedikit bibirnya melihat Alena yang sedang gugup.


"Iya, aku dengar Ka! Kalau begitu aku mau mandi dulu! " Alena memutar badannya, hendak mengayunkan langkahnya menuju kamar mandi. Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti, ketika ada lengan besar yang tiba-tiba memeluknya dari belakang.


"Alena, apa kamu tidak merindukanku?" bisik Daven ke telinga Alena, sehingga membuat tubuh Alena seketika meremang dan sesak bernafas.


"K-ka, aku mau mandi dulu,boleh gak?" sahut menepis tangan Daven dengan tangan gemetar.


Daven memutar tubuh Alena, agar mau mengahadap padanya. " Kamu belum jawab pertanyaanku, apa kamu tidak merindukanku?" Daven mengulangi pertanyaannya sambil mengangkat dagu Alena, yang menundukkan wajahnya.


Alena meneguk ludahnya, saat menatap mata Daven yang menatapnya dengan sangat dalam.


Alena membulatkan matanya ketika, Daven langsung merangkulnya dengan erat.


Hati Alena terasa menghangat mendengar ucapan Daven. Ingin dia mengucapkan hal yang sama, tapi dia mengurungkannya, karena masih banyak teka-teki, yang berkecamuk di dalam pikirannya.


"Kenapa kamu diam Alena? apa kamu masih sakit hati dengan semua ucapanku dulu? untuk itu, aku minta maaf Alena. Aku benar-benar minta maaf! " ucap Daven seraya kembali mengeratkan pelukannya.


Alena berusaha melepaskan pelukan Daven, karena dia sangat kesusahan untuk bernafas.


"Ka, tolong lepaskan pelukannya?" pinta Alena pelan.


"Biarkan aku memelukmu sebentar lagi!" ujar Daven kembali mengeratkan pelukannya.


"Ka, badanku sakit, aku juga sesak bernafas. Bisa gak pelukannya dilonggarkan sedikit?" Alena kembali berusaha untuk melepaskan pelukan Daven.


Mendengar ucapan Alena, Daven sontak melepaskan pelukannya dengan sedikit terkekeh. "Maaf ..., maaf, aku terlalu erat ya memelukmu?" Daven berucap seraya meletakkan tangannya di kedua bahu Alena.


"Ka, bisa tidak aku mandi dulu? badan ku udah lengket! Alena berusaha menghindari Daven, karena gemuruh detak jantungnya semakin berdetak dengan kencang.


"Hmm, ya udah, kamu mandilah dulu! atau kamu mau kita mandi bersama? " Daven mengerlingkan matanya, mengoda Alena.


"Eh, tidak perlu Ka, aku bisa mandi sendiri!" Alena berlari ke kamar mandi, dengan wajah yang sudah memerah.


"Kok Ka Daven jadi mesum begini sih?" batin Alena, seraya menyenderkan tubuhnya di pintu sambil memegang dadanya, untuk mengontrol sedikit gemuruh di dadanya itu.


Daven yang melihat kecanggungan Alena menarik sudut bibirnya tersenyum geli.Dia merasa senang menggoda wanita, yang masih menyandang status istrinya itu.


"Kayanya, hidupku akan semakin berwarna mulai hari ini," bisik Daven pada dirinya sendiri.


Sementara itu, Ellen dan Jenni menempelkan telinga mereka, di pintu kamar Daven.


"Mereka lagi ngapain ya? Kok gak kedengaran apa-apa Mom?" tanya Jenni.


"Iya ya? mereka lagi buat adik buat Dean mungkin," sahut Ellen dengan mata yang berbinar-binar, berharap itu benaran terjadi.


"Iya mungkin,Mom!" Jenni tak kalah antusias dari Ellen.


"Ngapain kalian berdua di depan kamar Daven?" terdengar suara bariton milik Harrold menegur dua wanita berbeda usia itu.


"Kami cuma mau manggil Daven dan Alena buat makan malam sayang! Iya kan Jen? " ucap Ellen seraya mengedipkan matanya.


Harrold memicingkan matanya ke arah Ellen dan Jenni.Dia menatap dua wanita itu dengab tatapan menyelidik.


" Hmm, aku tahu tujuan kalian berdua bukan itu! Kalian mau tahu kan apa yang terjadi di dalam sana?" Harrold langsung bicara frontal kepada dua orang itu.


Ellen terkekeh, tidak bisa lagi menyangkal ucapab suaminya itu. Hanya pengen tahu sedikit saja sayang! Tapi, kami berdua tidak bisa dengar apa-apa sayang! " ucap Ellen.


"Apa karena rasa ingin tahumu yang besar itu, membuat kamu lupa, kalau kamar itu kedap suara?"


"Oh iya,aku lupa! " Ellen cengengesan sembari memukul jidatnya.


"Ayo turun ke bawah, biarkan mereka berdua di dalam sana. Ada banyak hal yang perlu mereka bicarakan, jadi jangan ada yang menggangu." ucap Harrold lembut, tapi terselip ketegasan dalam ucapannya.


Tbc


Jangan lupa buat like, vote dan komen ya gais😁😁😁