
Andrew menenteng bungkusan yang berisi muffin itu naik ke atas. Sesampainya di depan ruangannya dia menoleh ke arah meja sekretaris, dimana selalu ada Clara yang selalu menyambutnya dengan senyuman. Senyuman yang selalu membuat seorang Andrew seakan lupa bagaimana caranya untuk bernafas. Kali ini meja itu tampak kosong,karena kemungkinan Clara sedang makan siang.
Ya... Clara lah wanita yang selalu mengisi hati seorang Andrew selama ini. Akan tetapi dia tidak pernah punya keberanian untuk mengungkapkan perasaannya. Dia selalu merasa takut kalau Clara dan keluarganya tidak bisa menerima, statusnya yang hanya seorang anak yang dipungut dari jalanan. Walaupun, sebenarnya sekarang hidupnya sudah bisa dikatakan mapan,tapi perasaan takut itu, akan tetap muncul disaat dia ingin mengutarakan isi hatinya.
Andrew menghela nafasnya dengan berat, lalu dia melangkah masuk kedalam ruangannya.Setelah itu, dia meraih telepon di mejanya untuk menyambungkan ke bagian pantry.
" Tolong suruh Jenny ke ruangan ku. Suruh dia bawa kopi sekalian" Andrew meletakkan Kembali telpon itu ke atas meja setelah dijawab ya dari bagian Pantry.
"Masuk!" perintah Andrew saat ada ketukan dari luar. Dia yakin kalau itu pasti Jenny.
Suara decitan pintu yang dibuka seseorang dari luar, mengalihkan perhatian Andrew sejenak. Benar dugaannya, kalau yang mengetuk pintu itu Jenny.
"Ini kopinya Tuan."Jenny meletakkan gelas yang berisi kopi itu di atas meja, tepat di depan Andrew duduk. Bila ada di dekat Andrew penyakit musiman Jenny akan selalu kambuh. Jantungnya akan berdetak dua kali lebih cepat, dari detak jantung normal pada umumnya.
"Terima kasih" ujar Andrew tanpa melepaskan pandangannya dari layar monitor yang ada di depannya.
Jenni mengerucutkan bibirnya melihat sikap dingin dan acuh dari Andrew. " Kalau begitu saya pamit keluar Tuan! " Jenny memutar badannya, dengan sedikit kesal karena tidak mendapat jawaban apapun dari mulut Andrew.
"Nona Jenny tunggu sebentar!" Suara Andrew yang tiba-tiba memanggil, membuat seulas senyuman terbit di bibir Jenny.
"Iya Tuan, ada apa?" Sahut Jenny cepat dengan manik mata yang bersinar kegirangan.
" Tuh, muffin buat kamu.Tadi Alena menitipkannya padaku untuk dikasihkan ke kamu!" Andrew menunjuk ke arah meja, dimana ada dua bungkus yang berisi muffin disana. Setelah itu dia kembali menatap layar monitor di depannya
Jenny merasa kecewa, karena dia mengira Andrew memanggilnya kembali karena ingin berdua-an dengannya. Tapi ternyata hanya untuk memberikan muffin saja.
Dengan bibir yang berkerut, Jenny melangkah ke arah meja,lalu mengambil bungkusan yang berisi muffin itu.Setelah itu dia beranjak berlalu dari ruangan Andrew dengan raut wajah sedih.
"Masuk!" teriak Andrew dari dalam,saat kembali terdengar ketukan dari arah pintu.
"Ada apa lagi Nona Jenny? apa ada sesuatu yang tertinggal? " Andrew bertanya tanpa menoleh sama sekali ke arah pintu yang baru saja dibuka dan ditutup lagi oleh seseorang.
"Saya bukan Jenny Tuan Andrew, saya Clara" ujar Clara dengan sebuah senyuman manis yang tersemat di bibirnya.
Andrew sontak mengalihkan tatapannya dari layar monitor untuk menatap wajah wanita pujaannya itu. Seketika dia merasa seakan tubuhnya membeku dan merasa sesak untuk bernafas.Di kepalanya kini seperti banyak kupu-kupu yang indah ber-terbangan mengitari kepalanya.
"Oh ,Ka-kamu Clara? Ada apa? " tanya Andrew setelah berhasil menetralkan sedikit detak jantungnya dan rasa groginya.
Clara mengayunkan langkahnya mendekat agar jarak diantara Andrew dan dirinya tidak terlalu jauh.
"Please jangan terlalu dekat !Aku takut kalau kamu semakin dekat, jantungku akan melompat dan aku bisa lupa bagaimana caranya untu bernafas" batin Andrew berteriak .
Dengan tangan agak gemetar, Andrew meraih undangan itu dari atas meja. Kupu-kupu yang tadinya sedang beterbangan kini hilang entah kemana, berganti dengan awan gelap yang kini melingkupinya. Udara di dalam ruangan itu juga kini seakan lenyap tanpa jejak.
"Ka-kamu akan menikah? " suara Andrew seakan tercekat di tenggorokannya saat melontarkan pertanyaan yang menyakitkan hatinya itu.
"Iya Tuan! pernikahan saya akan di adakan minggu depan. Aku harap Tuan Andrew dan Tuan Daven bisa hadir" Clara kembali menyunggingkan senyum manisnya.
"Ka-kamu menikah dengan Steve? apakah Steve yang kamu maksud itu tuan Steve Holmes, pemilik dari Holmes group?"
"Iya Tuan! Clara menganggukkan kepalanya.
Andrew menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskan nya kembali dengan kasar. keinginanya untuk memiliki Clara semakin tidak mungkin. Bagaimana mungkin dia bisa bersaing dengan Steve, pengusaha muda yang akhir-akhir ini mulai dikenal sebagai pengusaha yang sukses. Sedangkan dia hanyalah seorang asisten pribadi dan merupakan anak yang tidak jelas asal-usulnya.
"Apakah kalian berdua sudah lama menjalin hubungan? "
"Belum terlalu lama Tuan! Masih sekitar sebulan " sahut Clara santai.
"Bukannya itu waktu yang sangat cepat untuk memutuskan menikah?" Andrew memicingkan kedua matanya.
" bagiku tidak Tuan Andrew. selain tampan, dia juga seorang pengusaha. Jadi untuk apa lagi berlama-lama menunda pernikahan ! Lagian aku sudah capek Tuan bekerja.Dengan jadi istri Steve, aku tidak perlu lagi bekerja keras. Aku juga bisa berbelanja barang-barang mewah nantinya " Clara mulai terlihat sombong.
" Sebenarnya, aku tahu Kalau anda mempunyai perasaan pada ku Tuan Andrew. Tapi maaf, mana mungkin aku memilih anda yang hanya seorang asisten dibandingkan Steve yang seorang pengusaha.Kalau aku milih anda berarti aku bodoh" Clara membatin dengan seringaian kecil yang terbit di sudut bibirnya.
Andrew cukup terhenyak dengan penuturan Clara. Dia tidak menyangka, dibalik wajah cantik dan sikap ramahnya ternyata Clara matrealistik.
Sebenarnya dengan gaji yang diterima Andrew setiap bulan, Andrew bisa aja memenuhi kebutuhan Clara dengan membelikan barang-barang mewah seperti yang di inginkan Clara. Hanya saja selama ini, dia tidak mau berlaku sombong di depan orang-orang.
Andrew menghembuskan nafasnya dengan cepat, lalu kembali menatap Clara.
"Baiklah, nanti aku dan Tuan daven usahakan akan hadir" ucap Andrew pasrah.
"Terima kasih Tuan Andrew. Aku benar- benar berharap kehadiran anda berdua. Berhubung acara pernikahanku sangat mewah,itu bisa Sekalian jadi motivasi bagi anda Tuan Andrew, untuk semakin giat menabung, untuk bisa membuat acara pernikahan anda yang mewah nantinya,seperti pernikahan ku " terselip sindirin pada ucapan Clara terhada Andrew.
"Terima kasih buat nasehatnya.Tapi sepertinya aku tidak harus hadir dulu, kepernikahan mu baru bisa membuat pesta pernikahan yang mewah.Karena jujur, kalau aku mau,malam ini juga aku bahkan bisa membuat pesta pernikahan yang lebih mewah dari pesta pernikahan mu" tegas Andrew.
"Oh, kalau begitu, aku pamit dulu Tuan Andrew.Masih banyak hal yang perlu aku urus untuk pernikahanku. Untuk surat pengunduran diri, besok aku akan menyerahkannya pada anda." Clara melangkah keluar setelah Andrew menganggukkan kepalanya.
Tbc
Jangan lupa like ,rate,vote dan komennya ya gais.Thank you