Cinta Terhalang Janji

Cinta Terhalang Janji
Colcanon Again.


"K-kalian kenapa? kenapa semua menatapku seperti itu?" Alena mengrenyitkan keningnya, bingung.


Deg ....


Alena menatap Hanna yang kini juga sedang menatapnya dengan tatapan yang sukar untuk dibaca.


"Siapa wanita itu? dan kenapa dia menatapku seperti itu? dan kenapa jantungku berdetak cepat saat menatapnya?" ada banyak tanya yang muncul di dalam hatinya.


"Maaf, Daven! bolehkah aku menanyakan sesuatu pada istrimu?" Gerald menatap Daven serius.


"Hmmm, boleh!" ucap Daven mengizinkan.


"Maaf, Nona Alena aku cuma mau bertanya, apa di perut dekat pusar anda , ada tanda seperti bercak merah dan sudah ada sejak dulu?" Gerald bertanya dengan sangat hati-hati.


"B- bagaimana anda bisa tahu Tuan?" Alena menautkan kedua alisnya, menatap Gerald bingung.


"Hmm boleh aku tahu siapa nama mamah kamu?" bukannya menjawab, Gerald balik bertanya.


"Mamahku, Shopia dan mamah sudah meninggal sejak aku kecil! kenapa anda menanyakan hal itu? dan ada apa ini sebenarnya?"


Gerald menghela nafasnya dengan sekali hentakan. Aku kenal dengan Mamahmu, karena istrikulah yang menyerahkan kamu pada Sophia,karena dia tidak memiliki anak." tukas Gerald, yang membuat semua yang ada di ruangan itu, terkesiap dan sontak menatap Alena.


"Aku tidak mengerti maksud anda? apa anda mau mengatakan, kalau aku adalah putrimu?"


"Apa Sophia tidak pernah memberitahukanmu kalau kamu bukan putri kandungnya?" Gerald balik bertanya.


"Mamah memang tidak pernah bercerita apapun mengenai statusku. Tapi, yang aku tahu setelah mamah meninggal, tidak ada yang mau menerimaku, dan mengatakan kalau aku bukan bagian dari keluarga besar mereka. Kata mereka aku ini hanya anak yang dibuang dan pembawa sial. Apakah anda orang yang telah membuangku?" Alena kembali melontarkan pertanyaan yang tadi tidak dijawab oleh Gerald dengan kedua mata yang sudah dipenuhi oleh cairan bening dan siap untuk ditumpahkan kapan saja.


"Ok, aku mau meluruskan, kalau aku bukan orangtuamu, tapi aku mengakui,kalau aku bersama istriku yang menitipkanmu pada Sophia, karena Sophia yang meminta sendiri untuk merawatmu dulu, karena suaminya meninggal dan dia tidak memiliki anak. Kamu itu___"


"Jadi, dia benaran putriku Tuan Gerald?" celetuk Hanna yang dari tadi sudah tidak sabar menunggu Gerald menyelesaikan ucapannya.Sedangkan netra Alena, membesar mendengar pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh wanita yang dipanggil Hanna, oleh pria di hadapannya ini.


"Iya, Nyonya Hanna. Aku sangat yakin!" tegas Gerald.


Hanna, mengayunkan langkahnya, menghampiri Alena yang kini sedang menatapnya dengan tatapan yang sukar untuk dibaca.


"Hanna meraih tubuh Alena,dan membenamkannya pada pelukannya sambil kembali terisak-isak menangis. Sedangkan Alena tidak menolak, tapi juga tidak membalas, karena sejujurnya dia belum mengerti dengan apa yang telah terjadi.


"Dari awal aku melihatmu, hatiku sudah berkata, kalau kamu benar-benar putriku sayang!" ucap Hanna di sela-sela tangisnya.


"Maaf, Nyonya! jujur aku belum mengerti sama sekali, apa yang terjadi sebenarnya? bagaimana aku bisa menjadi putrimu, sedangkan yang memberikan aku pada Mamah Sophia, pria itu dan istrinya? aku benar-benar tidak mengerti Nyoya!" Alena kini melerai pelukannya dari Hanna.


Hansel menarik nafas dalam-dalam,lalu menghembuskannya dengan sekali hentakan.


"Izinkan Paman menjelaskan padamu Alena!" celetuk Hansel, dan Alena sontak menatap Hansel dengan penuh tanda tanya, bingung dengan siapa laki-laki yang menyebut dirinya Paman itu.


Hansel yang melihat manik mata Alena yang mengandung banyak tanya, akhirnya dengan gamblang, dia menjelaskan siapa dirinya dan menceritakan semua yang terjadi, seperti yang dia ceritakan semua pada Andrew.


Alena tidak bergeming dan dari sudut matanya kini merembes cairan bening yang dari tadi sudah berusaha dia tahan.Daven yang melihat keadaan istrinya yang sepertinya sedikit terguncang, menghampiri dan mendekap bahunya untuk memberikan kenyamanan.


"J-jadi aku masih punya orangtua yang lengkap dan Kakak? Jadi Ka Andrew benar-benar Kakakku?" tubuh Alena sedikit gemetaran saat mengucapkan kata-katanya.


"Hmm, itu karena aku mau, kamu panggil aku Kakak. Sebenarnya usiaku sama denganmu tapi aku mau kamu merasa nyaman denganku, karena aku lebih tua darimu. Makanya aku berinisiatif menambah usiaku dua tahun lebih tua darimu. Maaf ya!"ucap Andrew sembari memeluk Alena dengan erat,hal yang sama sekali tidak pernah berani dilakukannya di depan Daven dulu.


"Apa, Papah bisa memeluk kamu juga Alena?" celetuk Charles yang kini sudah berdiri, di dekat Alena dan Andrew.


Alena menatap Charles sejenak, lalu diapun menghambur memeluk Charles dengan erat.Hal yang selama ini benar-benar dia rindukan, memiliki seorang ayah. Walaupun dia mendapat kasih sayang seorang ayah dari Harold, tapi tetap saja rasanya beda.


Setelah mereka berempat berpelukan cukup lama, Charles pun mengayunkan langkahnya menghampiri Harold dan memeluknya.


"Terimakasih Harold! kamu telah merawat dan menganggap putraku seperti putramu sendiri dan bahkan membuat dia sehebat ini.Terima kasih juga sudah menerima dan menyayangi Alena sebagai menantumu. Aku tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk membalas semua kebaikanmu." manik mata Charles terlihat sangat tulus saat mengucapkan kata-katanya.


"Hei, kamu tidak perlu berterima kasih padaku. Kita ini kan sahabat. Kamu juga telah merawat dan menjadikan putraku menjadi orang hebat, walaupun kamu punya tujuan lain sebelumnya." ledek Harold sembari terkekeh.


Sementara itu Alena kembali ke mode semula, mode ngambek pada Daven suaminya. Dia mencebikkan bibirnya untuk menampakkan, kalau dirinya sedang kesal pada Daven, sehinga membuat Daven benar-benar kebingungan.


"Kamu kenapa sih sayang? salahku apa coba?"


"Kamu masih bertanya salah kamu apa? kamu memang benar-benar laki-laki yang tidak peka. Kamu ingat-ingat coba, apa yang kurang hari ini?" Bibir Alena masih setia dengan mode mengerucut, dan sepertinya tidak punya niat untuk mengubahnya ke mode normal.


Daven mulai menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Dia juga mengusap wajahnya dengan kasar. Kali ini dia merasa sikap Alena sangat menyebalkan, jauh dari kata menggemaskan.


"Sayaaangg! aku bukan peramal yang bisa membaca isi hatimu.Jadi please berhenti berteka teki dan ngomong yang jelas padaku, kamu mau apa sayang?" suara Daven terdengar sangat lembut sembari membelai rambut Alena, berharap mood wanita yang kini menjadi istrinya itu kembali normal.


"Aku lapar! lapar sekali. Masa itu saja kamu gak peka sih?"Alena mengerucutkan bibirnya dengan raut wajah seperti ingin menangis.


Daven terkekeh, melihat ekspresi Alena yang tadinya sangat menyebalkan sekarang sudah kembali menggemaskan.


"Kan kamu tinggal bilang, kalau kamu lapar, sayang! masa itu saja harus mutar-mutar dulu ngomongnya?"


"Kamu harusnya mengerti tanpa aku bilang! Kamu kan tahu kalau aku tidak sarapan tadi." Alena belum mengembalikan posisi bibirnya ke bentuk normal.


"Iya, iya , Maaf! jadi sekarang kamu mau makan apa?" Daven mengalah tidak mau berdebat karena hanya masalah sepele.


"Aku mau makan Colcanon Sayang!" Alena kembali ceria.


"Sejak kapan kamu memakan itu? bukanya kamu tidak menyukainya?" ekor mata Daven menyipit,penasaran.


"Iya juga ya? aku kenapa ingin sekali makan itu?__Eh, tunggu dulu! bukannya waktu hamil Dean aku juga suka makan makanan ini? jangan- jangan aku___? aku sepertinya harus ngeceknya nanti." Alena menyunggingkan senyuman yang samar.


"Kamu kok diam Sayang? sejak kapan kamu suka ___"


"Hmmm, kenapa kamu menanyakan itu? kamu gak mau ya pesan makanan itu untukku?" Alena kembali menyebikkan bibirnya.


"Bukan begitu!" Daven membuang nafasnya ke udara. "Iya deh aku pesankan!" Daven memanggil pelayan dan memesan makanan yang diinginkan oleh Alena itu.Dia tidak lupa juga memesan untuknya, karena itu merupakan makanan kesukaannya.


Tbc


Mohon jangan pelit ninggalin jejak ya gais.Please tetap like, vote dan komen. Thank you.🥰🥰🤗