
Andrew berjalan dengan kedua tangan yang masuk kedalan saku celana pendeknya. Di saat yang bersamaan dia melihat seorang wanita seumuran Mommy Ellen, sedang menangis dan berlutut di depan seorang dokter.
"Dok, tolong selamatkan putri saya. Aku akan berusaha mencari uang untuk biayanya." mohon wanita itu dengan sesunggukan.
"Tapi,Nyoya biaya operasi itu sangat besar. Sedangkan bayi dalam kandungan putri anda butuh dilahirkan segera dan keadaan putri anda tidak memungkinkan untuk melahirkan normal." ucap dokter itu.
"Lakukan saja operasinya, Dok! aku berjanji akan melunasinya.Aku mohon Dok!" mohon wanita itu lagi.
"Nyonya,bukannya saya tidak mau, tapi__"
"Lakukan saja operasinya Dok! soal biaya biar aku yang akan membayarnya." celetuk Andrew, yang ternyata sudah ada di samping dokter.
"Baiklah kalau begitu Tuan!" Dokter itu masuk kembali untuk segera melakukan proses Cesar pada putri wanita itu.
"Terima kasih Tuan! terima kasih!" ucap wanita itu sembari berkali-kali membungkukkan badannya.
"Tidak apa-apa Bi! kenalkan aku Andrew, kalau Bibi?" Andrew mengulurkan tangannya.
"Aku Emma dan putriku yang ada di dalam Elga, Tuan Andrew!"
"Kalau boleh tahu, kemana suami putri anda? kenapa dia tidak mendampingi istrinya melahirkan?" tanya Andrew.
Wajah wanita bernama Emma itu, berubah semakin sedih, ketika mendengar pertanyaan Andrew.
"Hmm sebenarnya kami datang dari Spanyol Tuan Andrew. Aku membawa putriku kabur dari suaminya 5 bulan yang lalu, karena suaminya sangat kejam. Dia menjadikan putriku seorang budak, dan selalu memberikannya siksaan baik secara fisik dan verbal. Dia juga tidak pernah mencintai putriku Tuan. Dia hanya mengganggap putriku wanita si pelunas hutang karena memang, putriku menikah dengan laki-laki itu, untuk melunasi hutang Papahnya yang sangat banyak. Karena itulah aku membawa Elga kabur tanpa membawa apa-apa, Tuan. Uang yang kami bawa hanya cukup untuk biaya pesawat. Untuk biaya hidup selama 5 bulan ini aku harus bekerja bantu-bantu di toko roti dan putriku di toko bunga. Penghasilan kami berdua hanya cukup untuk biaya hidup makanya kami benar-benar tidak punya persiapan biaya dan pakaian buat cucuku itu." tutur wanita itu panjang lebar tanpa pernah mengambil jeda sama sekali dengan derai air mata,yang tak kunjung berhenti keluar dari matanya.
"Baiklah Bi, aku turut prihatin.Sekarang aku mau pergi dulu untuk membelikan makanan buat istriku, apa Bibi sudah makan?" tanya Andrew sembari berdiri.
"Belum, Tuan!" sahut Bibi Emma.
"Baiklah saya pergi dulu,nanti saya kembali lagi!" Andrew melangkahkan kakinya keluar dari rumah sakit.
...----------------...
Andrew masuk ke dalam kamar Jenni, dan melihat istrinya itu sedang tidur pulas dengan mata yang masih sembab. Andrew tidak mau mengganggu tidur Jenni, dia memilih untuk meletakkan makanan yang dia beli di atas nakas dekat ranjang Jenni. Setelah itu, Andrew memutuskan untuk mendatangi Bibi Emma kembali, sekaligus ingin memberikan makanan yang dibelinya.
"Bibi, ini makanannya. Bibi makanlah dulu!" Bibi Emma menerima makanan itu dari tangan Andrew.
"Terima kasih Tuan Andrew!" ucap Bibi Emma kembali.
Disaat Bibi Emma belum benar-benar menghabiskan makanannya, suara tangisan bayi terdengar sangat nyaring dari arah dalam, sehingga seulas senyuman langsung tersemat di bibir wanita setengah baya itu. Akan tetapi senyuman itu,tidak bertahan lama bertengger di bibir Bibi Emma.Wajahnya tiba-tiba kembali khawatir, memikirkan keadaan putrinya.
Setelah 15 menit berlalu, pintu ruang operasi terbuka dan dokter tampak keluar dari dalam ruangan operasi, dengan raut wajah yang sukar untuk dibaca.
"Bagaimana keadaan putri dan cucuku Dok?" Bibi Emma tidak sabar untuk mendengar kabar dari dokter itu.
"Cucu Nyonya baik-baik saja, dan sehat tidak kurang satu apapun." keheningan terjeda untuk beberapa detik, yang dia gunakan untuk menghela nafasnya. "Tapi,maaf Nyonya, putri anda tidak bisa selamat karena mengalami pendarahan hebat." Bibi Emma, langsung tersungkur jatuh ke lantai. Dia tidak bergeming untuk beberapa detik. Detik berikutnya, Bibi Emma langsung histeris menangis memanggil-manggil nama putrinya.
Setelah situasi sudah sedikit kondusif, dimana Bibi Emma sudah berhenti menangis dan terlihat sudah sedikit ikhlas. Bibi Emma berdiri dan melangkah untuk menghampiri Andrew.
Andrew diam sejenak untuk mempertimbangkan permintaan Bibi Emma. Dia kembali melihat bayi cantik yang sedang terbaring dengan pulasnya di box bayi. Bayi yang masih polos, bayi yang belum tahu kalau demi bisa melahirkannya ke dunia, ibunya sudah rela mengorbankan nyawanya.
Andrew tersenyum saat melihat wajah bayi cantik itu. Dengan helaan nafas yang panjang,akhirnya Andrew memutuskan untuk menerima permohonan Bibi Emma, karena dia yakin kalau Jenni juga pasti akan sangat bahagia dan mau menerima bayi itu
...----------------...
Andrew masuk ke dalam ruangan Jenni, dengan membawa bayi itu di dalam gendongannya.
Dia melihat Jenni sudah bangun dan sedang menyantap makanannya.
Kedua netra Jenni membulat saat melihat Andrew membawa seorang bayi dalam gendongannya.
"Bayi siapa itu Ndrew?" tanya Jenni dengan mata yang memicing.
"Ini bayi kita.Lihat dia sangat cantik sepertimu!" ucap Andrew tanpa sadar memuji Jenni. Karena Jenni masih sedih, dia tidak terlalu fokus pada pujian Andrew. Tapi dia tetap menerima bayi itu dari tangan Andrew.
"Bayi kita? maksudmu? jangan bilang, ini anak kamu dengan wanita lain." ekor mata Jenni sedikit naik,curiga pada Andrew.
"Astaga! kamu kok bisa berkata seperti itu? wanitaku cuma kamu,tidak ada yang lain." tegas Andrew.
"Jadi ini dari mana?"
Andrew menghela nafasnya panjang, lalu menceritakan semua yang dia dengar dan yang dia lihat.
"Jadi mamah bayi ini sudah meninggal?" Andrew menganggukkan kepalanya membenarkan.
"Jadi dimana nenek bayi ini sekarang?" tanya Jenni sambil mengarahkan pandangannya ke arah pintu.
"Bibi Emma sedang mengurus pemakaman putrinya. Dan nanti dia akan tinggal di rumah Daven yang kosong. Agar ada yang merawat rumah itu, sampai Alena ditemukan." Sahut Andrew.
Jenni menatap bayi mungil dan cantik itu dengan perasaan terharu. Dia lalu mencium bayi itu dengan penuh sayang.
"Ndrew, apa Bibi Emma sudah memberikan dia nama?"
"Belum! katanya dia menyerahkan pada kita untuk memberikan nama buatnya.
"Baiklah, aku mau kasih dia nama Jeslyn Bedelia yang artinya diberkahi dengan kekayaan dan kecantikan serta tabah hatinya.
Flashback off
Tbc
Maaf, ternyata belum bisa tamat 2 episode lagi.😁 Tapi satu episode lagi mungkin akan tamat.
Jangan lupa untuk dukung karya ini dengan like, dan komen.Thank you🙏😍🤗