
Hansel, berdiri dan berbalik hendak meninggalkan tempat dia duduk.Dia terjengkit kaget melihat keberadaan Hanna yang teryata sudah berdiri persis di belakangnya.
"Aku ikut, Hans! Aku mau bertemu dengan anak-anakku." Hanna memohon dengan nada suara yang lirih.
"Baiklah,kalau itu mau kamu!" Hansel akhirnya menyerah, dan menuruti kemauan Hanna.
"Papah, Bibi, kalian berdua memangnya mau kemana?" Harrison putranya Hansel tiba-tiba muncul dari arah kamar.
"Kami mau ke Irladia, untuk mencari sepupu-sepupumu yang pernah papah ceritakan padamu."
"Apa aku boleh ikut, Pah?"
"Tidak perlu,Nak! kamu di rumah saja sama Mamah!" ucap Hansel, dan diangguki oleh Harrison. " Ya udah, Papah ke atas dulu mau izin sama mamah." Hansel beranjak pergi ke atas, untuk menemui sang istri.
10 menit kemudian Hansel terlihat turun bersama sang istri. Dia langsung mendekati Hanna dan memeluknya adik iparnya itu dengan erat.
"Hanna, aku berdoa semoga kamu cepat-cepat bertemu dengan kedua keponakanku."
"Terima kasih Caley! kami pergi dulu!" ucap Hanna,dan diangguki oleh Caley.
15 menit kemudian, mereka kini sudah berada di jet pribadi milik keluarga dan terbang menuju Irlandia.
********
"Maaf, apakah anda yang bernama Gerald Holmes?" tanya seorang pria, yang merupakan suruhan dari Hansel.
" Iya, benar! anda siapa?" Gerald menyipitkan kedua matanya, menatap bingung pada orang yang sama sekali tidak dikenalnya.
"Kenalkan nama saya David Tuan! saya disuruh oleh Tuan Hansel untuk menemui anda di sini." Pria bernama David itu, mengulurkan tanganya, menjabat tangan Gerald.Setelah itu, dia juga mengulurkan tangannya ke arah Steve, Andrew, dan Jenni yang kebetulan sedang duduk di meja yang sama.
"Maaf, kalau boleh tahu siapa Hansel? saya merasa tidak pernah mengenal pria bernama Hansel." Ekor mata Gerald tertarik ke atas, curiga pada David.
"Hmm, Hansel adalah bos saya, yang kemungkinan sekarang sedang dalam perjalanan dari Spanyol ke sini untuk menemui anda secara langsung." sahut David.
"Tunggu! apakah yang anda mksud itu Hansel Albert Jones?" Andrew buka suara.
"Ya, anda benar Tuan!"
"Untuk apa, pemilik Jones company mencariku?" tanya Gerald bingung.
"Hmm, anda akan tahu nanti Tuan!__ jika anda tidak keberatan, bisakah Anda menunggu sampai Tuan Hansel tiba? karena, Tuan Hansel sudah berangkat sekitar 30 menit yang lalu dari Spanyol, dengan jet pribadi. Jadi,mungkin sekitar 15 menit lagi, tuan Hansel akan tiba di Irlandia." pinta David.
"Hmm, baiklah!" sahut Gerald. Dia merasakan penasaran yang amat sangat juga, ingin mengetahui apa tujuan Hansel ingin menemuinya.Dia memang pernah mendengar nama Jones company, karena itu termasuk salah satu deretan perusahaan besar yang berpusat di London, dan memiliki anak cabang du berbagai belahan bumi Eropa. Akan tetapi, dia tidak pernah melihat wajah sang pemilik secara langsung.
"Sayang, apa kamu merasa bosan? kalau kamu bosan, sepertinya kita bisa pulang sekarang!" Andrew menatap wajah Jenni,yang jelas mempelihatkan,kalau kini di sedang merasa bosan.
"Oh, tidak sayang!" sahut Jenni cepat, merasa tidak enak hati.
"Tidak apa-apa Jen! Aku yakin kamu pasti sudah sangat bosan, kamu bisa pulang bersama Andrew, karena kami masih menunggu Tuan Hansel di sini." Gerald menimpali ucapan Jenni dengan kedua sudut bibir yang tertarik membentuk sebuah senyuman.
"Apa tidak apa-apa Pah?" Jenni memastikan, dan Gerald menganggukkan kepalanya.
Disaat yang bersamaan, mobil yang membawa Hansel dan Hanna tiba persis di depan hotel. Hanna merasa sedikit enggan untuk turun dari dalam mobil, bertanya dalam hati, apakah dia sudah siap seandainya bertemu dengan Charles nantinya.
"Ayo, Hanna kita turun!" suara Hansel sontak membuyarkan lamunan Hanna.
Hanna menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya lagi. Dia merasa saat ini udara yang ada di sekitarnya seakan tidak cukup, untuk bisa membuat dia, bisa bernafas dengan leluasa. Hanna menatap Hansel dengan menyematkan seulas senyuman tipis di bibirnya, sekali lagi dia menghembuskan nafasnya, lalu menganggukkan kepalanya ke arah Hansel. Akan tetapi, dia urung membuka pintu mobil, ketika tiba-tiba matanya menangkap sosok pria, yang sedang menggandeng tangan seorang wanita dengan mesra, yang baru saja keluar dari hotel.
Kedua netranya tidak berkedip menatap pria itu,mulai dari pria itu masuk kedalam mobil, sampai kini mobil yang membawa pria itu lenyap dari pandangan matanya.
Ekor mata Hansel juga mengikuti arah pandangan Hanna, dengan kening yang berkerut.
"Hanna, kamu kenapa?Kenapa kamu sampai segitunya menatap pria muda tadi?" suara Hansel kembali, menyadarkan Hanna yang masih setia menatap jejak-jejak bayangan sosok pria tadi.
"Aku gak tahu Hans! aku cuma merasa, sepertinya memiliki kedekatan dengan pria tadi. Dia sepertinya mengingatkanku pada seseorang.___ Tapi, sepertinya itu hanya perasaanku saja." Hanna kembali tersenyum dan keluar dari dalam mobil.
Detak jantung Hanna sekarang berdetak dengan sangat cepat. Telapak tangannya kini sudah berkeringat karena terlalu gugup, saat kakinya kini sudah menapak di lantai. Kakinya sekarang sedikit gemetar untuk melangkah masuk kedalam hotel.
"Ayo, kamu jang gugup! ada aku di sini bersamamu!" Hansel, tersenyum untuk memberikan ketenangan pada Hanna.
Hanna memejamkan matanya sejenak, lalu mengehela nafas dengan sekali hentakan,lalu dengan pasti membiarkan kakinya membawa dirinya masuk ke dalam hotel.
Mereka memasuki sebuah ruangan dimana orang suruhannya, Gerald dan Steve sudah menunggu. Karena sebelumnya dia sudah menghubungi David dan menginfomasikan kalau dia sudah ada di depan hotel.
"Hai, Tuan Gerald, lama tidak bertemu." sapa Hansel yang kini sudah berdiri tepat di belakan Gerald.
Gerald memutar badannya, untuk melihat sosok yang baru saja menyapanya. Kedua netranya, membulat dengan sempurna, dan bola matanya seakan ingin melompat keluar, melihat sosok yang sedang tersenyum di depannya.
"A-anda? J-jadi nama anda adalah Hansel?" wajah Gerald, pucat dan gemetar, sehingga menimbulkan kebingungan pada Steve.
"Ada apa dengan Papah? kenapa dia sepertinya ketakutan bertemu dengan Tuan Hansel?" batin Steve dengan alis yang bertaut tajam.
"Kenapa anda terlihat gugup, Tuan Gerald?" Hansel bertanya, sembari mendaratkan tubuhnya duduk di kursi yang ditarik oleh David disusul oleh Hanna, yang juga duduk di samping Hansel.
"Oh, aku hanya kaget saja Tuan Hansel. Karena kita sudah sangat lama tidak pernah bertemu lagi." rasa gugup Gerald terlihat sudah bisa di netralisir dengan baik.Sebenarnya Gerald merasa takut mendapatkan amarah dari Hansel, kalau dia tahu perbuatan istrinya selama ini, ditambah saudara kembar Andrew belum diketahui dimana keberadaannya sampai sekarang.
"Bagaimana kabar keponakan-keponakanku, Tuan Gerald, apakah mereka benar-benar kamu rawat dengan baik?" karakter Hansel yang memang dominant Style atau orang yang suka straight to the point, langsung berbicara pada intinya tanpa banyak berbasa-basi lagi.
Gerald meneguk ludahnya sendiri, bingung untuk menjawab apa, walaupun dia sudah yakin akan mendapatkan pertanyaan itu dari Hansel.
Steve, yang mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Hansel, langsung dapat menangkap dan mengambil kesimpulan kalau Hansel adalah orang yang menitipkan Andrew dan kembarannya pada Papah dan Mamahnya.
"Kenapa anda tidak menjawab Tuan Gerald?" tampak ketidak sabaran di wajah Hansel.
Tbc
Please untuk tetap like, vote dan komen.
Kalau berkenan Voucher vote rekomendasinya di hadiahin buat karya ini dong๐๐, supaya aku makin semangat nulisnya. Thank you