
Mentari mulai memperlihatkan diri setelah hampir 12 jam bersembunyi di peraduannya. Sang bulan sudah berhasil menemukannya dan kini giliran Sang bulan untuk bersembunyi.
Cahaya mentari sudah memaksa masuk melalui celah-celah jendela kaca dan melalui gorden tipis berwarna putih kedalam kamar Daven dan Alena. Akan tetapi kedua orang itu, seakan tidak terganggu dengan sinar itu. Mereka berdua masih setia bergelung sambil berpelukan di bawah selimut tanpa sehelai benang pun menempel di tubuh mereka.
Ya setelah dari ruang kerja, mereka berdua kembali melanjutkan pertempuran mereka di dalam kamar, sampai hampir dini hari.
kelopak mata Daven terlihat bergerak-gerak pertanda kalau sebentar lagi dia akan bangun. Benar saja, tidak sampai 5 detik, kelopak mata Daven sudah terbuka, sembari mengerjap-erjap sejenak, untuk menyesuaikan cahaya yang menyilaukan yang baru saja tertangkap oleh netranya.
Daven menoleh sejenak menatap wajah Alena yang masih setia tertutup.Senyum Daven terbit di bibirnya, mengingat bagaimana ganasnya Alena menyerangnya tadi malam.
Sebelum beranjak turun dari ranjang, Daven terlebih dulu mendaratkan bibirnya, mengecup puncak kepala Alena, lalu dia melihat ke arah jam yang terletak di atas nakas.
"Oh, S_hit! aku sudah telat!" Daven melompat, dan berlari ke kamar mandi,karena jam sudah menunjukkan pukul 8.30, sedangkan konfrensi pers akan dimulai pukul 9.30.
Karena pergerakan Daven yang tiba-tiba, Alena tersentak kaget, dan terbangun dengan raut wajah yang bingung, bertanya-tanya ada apa dengan suaminya. Alena nyaris merebahkan tubuhnya lagi, tapi seketika dia juga ikutan melompat, karena matanya tak sengaja menatap jam yang ada di atas nakas juga.
Dia berkali-kali menggedor-gedor pintu kamar mandi, supaya Daven membukakan pintu untuknya.
"Sayang buka pintunya! aku mau mandi juga." teriak Alena.
Daven membuka pintu dangan handuk yang terlilit di pinggangnya.Dia buru- buru keluar melewati Alena yang juga langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Untungnya tadi malam Alena sudah menyiapkan pakaian yang akan dipakai oleh Daven dan sudah digantung di pintu closet.
"Sayang, kamu benaran mandi atau bagaimana?" Daven mengrenyitkan keningnya melihat Alena yang sudah keluar dari kamar mandi padahal masih 5 menit di dalam kamar mandi.
"Mandi sayang, tapi pakai kecepatan kereta api cepat." sahut Alena sembari mengenakan pakaiannya. Lalu dia merias wajah dengan riasan sederhana. Untungnya dia dari awalnya memang sudah cantik, jadi walaupun riasannya simpel, dia sudah terlihat sangat cantik.
" Udah belum sayang!" tanya Daven, yang sudah dari tadi sibuk melihat jam di pergelangan tangannya.
"Udah, ayo kita berangkat!"
Daven dan Alena turun ke lantai bawah dengan tangan Alena yang menenteng sepatunya.
"Mom, Dad ,kalian berdua telat bangun ya?" tanya Dean yang dari tadi sudah siap.
"Iya, sayang! kamu kok tidak bangunin, mommy dan daddy?" tanya Alena sembari menggandeng tangan Dean, berjalan keluar.
"Tadi, Dean sudah berulang kali mengetuk pintu, Mom! tapi kalian berdua tidak ada yang membukakan pintu.Jadi, Bibi Emma yang bantu Dean bersiap tadi." ucap Dean. " Oh ya, Mom, ini sarapan buat Mommy dan Daddy. Tadi aku minta tolong sama Bibi Emma untuk buat Sandwich untuk Mommy Dan Daddy," Dean menyerahkan kotak berisi dua tuna sandwich pada Alena.
"Oh, manisnya! makasih ya sayang! ayo masuk mobil dulu! Mommy dan Daddy akan memakannya di dalam mobil saja." ucap Alena.
Setelah mereka duduk di dalam mobil dan seatbealt on. Daven melajukan mobilnya dengan kecepatan lumayan cepat, karena jam sudah menunjukkan pukul 9.15 menit.
Alena yang merasa butuh untuk mengisi asupan energi, karena sudah habis terkuras tadi malam, membuka kotak berisi sandwich. Aromanya langsung menyeruak keluar menyerbu penciuman Alena.
Alena merasakan perutnya bergejolak, ingin mengeluarkan sesuatu, akibat aroma tuna sandwich yang membuat Alena merasakan mual yang amat sangat. Alena menutup mulutnya dan wajahnya sontak berubah sangat pucat seperti tidak di aliri darah sama sekali.
"Kamu kenapa sayang? kok wajahmu pucat dan kenapa makanannya ditutup lagi?" Daven bertanya beruntun,sambil sesekali menatap wajah Alena dengan raut wajah khawatir.
"Hmm, aku gak pa-pa sayang! kamu fokus saja menyetirnya!" sahut Alena.
"Kamu tidak bohongkan?" Daven belum sepenuhnya percaya.
"Kalau begitu, boleh aku minta kamu nyuapin aku sandwich itu? aku merasa lapar sayang!"
"Hmm, boleh deh!" Alena kembali membuka kotak makanan, tapi saat itu juga dia ingin muntah kembali.
"Maaf sayang, aku tidak bisa! aku tidak kuat mencium aromanya.Padahal akupun sangat lapar!" lirih Alena merasa tidak enak hati.
"Hah, kok bisa? bukannya itu makanan kesukaanmu?" Daven melirik dengan alis yang saling bertaut.
"Aku gak tahu sayang! pokoknya aku gak mau buka lagi kotaknya." tegas Alena.
"Jadi, aku makan apa dong?" Daven terlihat menelan air liurnya, melihat kotak makanan uang walaupun tertutup,isinya tetap berkelebat di pikiran Daven.
"Tahan aja dulu sampai kita tiba di hotel!"
"Huft! terserah deh! Daven mendesah pasrah.
*********
"Maaf ya,semua, kami telat!" ujar Daven yang baru saja tiba di hotel tempat akan diadakannya konfrensi pers untuk mengumumkan Carlos sebagai anggota keluarga Murpy.
"Tidak apa-apa.Konfrensi persnya justru ditunda sampai 1 jam kedepan, karena ada kesalahan teknis.
"Sejak kapan kalian tahu, kalau konfrensinya ditunda?"
"Sekitar 1 jam yang lalu!" Harold buka suara.
"Apa?! 1 jam yang lalu? tapi, kenapa tidak ada satupun yang menginformasikan padaku? aku sama Alena kan tidak perlu harus terburu-buru tadi!" air muka Daven kini sudah terlihat sangat kesal.
"Itu kemauanku Kak! aku melarang supaya tidak ada yang memberitahukanmu, supaya kita sama-sama merasakan bagaimana bosannya menunggu. Enak aja, kamu bisa santai di rumah, kami malah merasa bosan di sini, kan gak adil namanya?" celetuk Carlos, seperti tidak memiliki beban sama sekali.
"Dasar brengsek kamu! belum pernah merasakan bagaimana sakitnya pukulanku ya?!seru Daven kesal, karena baru kali ini dikerjain sama orang lain. Dan sialnya yang ngerjain adiknya sendiri.
Suara tawapun pecah memenuhi ruangan itu, merasa puas karena sekarang Daven mendapatkan lawan yang setimpal. Selama ini, dia merasa palinh berkuasa.
**********
Sementara itu, di bumi Eropa bagian selatan, Hanna sudah bersiap-siap untuk mengayunkan kakinya untuk keluar dari rumah menuju bandara.Keputusanya sudah tidak bisa diganggu gugat lagi, walaupun Hansel berulang kali membujuknya untuk menunda dulu sampai keberadaan kedua anaknya jelas.
Hanna nyaris melangkah keluar tapi tiba-tiba terhenti, ketika sayup-sayup Hanna mendengar, suara televisi dari arah ruang televisi yang menyiarkan konfrensi pers Harold dan Ellen.
Hanna, membawa kakinya melangkah ke arah ruang televisi untuk lebih jelas melihat dan mengetahui, apa tujuan Harold dan Ellen mengadakan konfernsi pers.
Kedua netranya membulat dengan sempurna, terkesiap begitu mendengar apa yang baru saja diumumkan oleh Harold.Yang paling membuat dia terkesiap adalah ketika melihat sosok pria yang sangat dicintainya sampai detik ini ada diantara Harold dan Ellen.
"Bagaimana bisa? bukannya dia Carlos Damian Abraham, putra tunggal Charles?tapi kok bisa dia jadi putra Harold? ada apa ini sebenarnya? apa itu berarti Charles tidak pernah menikah lagi?" gumam Hansel yang tidak menyadari kehadiran Hanna di belakangnya.
Pada saat kamera mengedar ke seluruh ruangan, Hansel menangkap sosok yang selama ini dia cari. Dia buru-buru meraih ponselnya dan melakukan panggilan pada orang suruhannya.
"Kamu segera pergi ke hotel dimana keluarga murphy mengadakan konfrensi pers sekarang! karena orang yang aku titipkan kedua ponakanku ada ditempat itu. Namanya Gerald Holmes.Aku akan segera menyusul ke sana sekarang menggukan jet pribadi keluargaku."
Tbc