
Tingkah Alena terlihat sangat menggemaskan di mata Daven sekarang.Dengan sekali tarikan, Daven kembali mendekap tubuh Alena.
"Aku memang benar-benar sudah menikahi wanita itu 5 tahun yang lalu, Alena dan wanita itu adalah Kamu." Kedua netra Alena membesar seketika mendengar ucapan Daven.
Alena mendorong pelan dada Daven dan mendongkak kan wajahnya, untuk menatap manik mata Daven, untuk mencari kebenaran pada ucapan yang baru keluar dari mulut Daven.
"Kakak, jangan bercanda! ini sama sekali tidak lucu, Ka!" Alena menggeleng-gelengkan kepalanya, mengangap Daven sekarang sedang mempermainkannya.
Daven mencengkram pelan bahu Alena, "Kamu lihat mataku, apakah aku terlihat bercanda?" Daven menatap dalam-dalam mata Alena. Dan benar saja, Alena melihat keseriusan di manik mata berwarna perak itu.
"Kamu mungkin, bertanya-tanya kenapa bisa? apa kamu tidak ingat kalau kamu pernah membantu seseorang yang kecelakaan di Pearse Street? dan kamu bahkan mendonorkan darah untuknya?" ucap Daven, yang membuat Alena seketika teringat dengan kejadian itu.
"Jangan bilang itu kamu!" ucap Alena tidak percaya.
"Tapi itu memang aku Alena! akulah orang yang telah kamu selamatkan itu." tegas Daven.
Alena membeku, tidak bergeming sama sekali mendengar kenyataan yang baru saja keluar dari mulut Daven.
Alena tiba-tiba mendorong dada Daven dan berjalan menjauh dari laki-laki yang masih menjadi suaminya itu. Sehingga membuat alis Daven tertaut Bingung.
"Berarti kamu mencariku, bukan karena kamu mencintaiku.Kamu mencariku karena hanya utang budi saja!" Alena tidak bisa memungkiri, kalau hatinya terasa sesak saat mengucapkan ucapannya itu.
"Kaka, tidak perlu harus bersikap seperti itu, aku ikhlas Ka nolongin Kaka! Aku tidak mau Kaka hidup bersamaku selamanya, hanya karena hutang budi." kedua mata Alena kini sudah berkilat-kilat, karena sudah dipenuhi oleh cairan bening yang siap ditumpahkan kapan saja.
Daven menghampiri Alena lagi, dan memeluknya dengan erat. " Kamu salah! aku mencarimu bukan hanya karena balas budi.Tapi karena aku mencintaimu Alena." Daven diam sejenak, lalu melepaskan pelukannya,untuk bisa menatap wajah wanita yang dia cintai itu. "Aku tahu, kalau kamu sakit hati dengan ucapanku dulu. Tapi, asal kamu tahu, hatiku sangat tersiksa saat mengucapkannya.Janji yang telah aku ikrarkan menghalangiku untuk mengungkapkan rasa cintaku, sehingga yang keluar dari mulutku, membuat hati kamu sakit. " sambung Daven kembali.
Cairan bening yang tadi berusaha ditahan oleh Alena,kini sudah merembes membasahi pipinya, begitu mendengar ungkapan cinta yang datang dari mulut Daven.
"Alena, aku minta maaf atas semua ucapan dan perlakuan ku dulu padamu.Kamu boleh menghukumku apa saja, asal tidak kamu suruh aku, untuk meninggalkan mu," Daven menjatuhkan tubuhnya berlutut di kaki Alena.
Alena benar-benar membeku, tidak tahu mau berbuat apa lagi. Dia merasa ungkapan cinta yang baru saja keluar dari bibir Daven seperti mimpi yang sudah menjadi nyata.
"Alena, kenapa kamu diam? apa kamu tidak mau memaafkan ku lagi?" ucapan Daven, seketika membuat Alena tersentak dan bangun dari alam bawah sadarnya.
Alena meraih pundak Daven dan mengajaknya untuk berdiri. " Apa Kakak serius dengan apa yang baru Kakak ucapkan?" tanya Alena menatap Daven nanar.
"Iya Alena!apa kamu belum bisa percaya padaku?"Daven balik bertanya.
Alena mengayunkan tangannya, merangkul pinggang Daven dan membenamkan kepalanya di atas dada suaminya itu." Aku percaya Ka ..., aku percaya!" ucap Alena sembari menangis.
Dada Daven seketika bergemuruh mendapat pelukan dari Alena.Seulas senyuman kini terbit di bibirnya.Dia pun balas memeluk Alena dan memberikan kecupan yang bertubi-tubi pada puncak kepala Alena.
Daven melerai pelukannya. Dia menatap bibir Alena dengan tatapan mendamba. Dengan perlahan akhirnya Daven membenamkan bibirnya ke bibir Alena .Dia memberikan lu*ma*tan -lu*ma*tan lembut di bibir merah milik Alena. Alena pun mulai membalas perlahahan ciuman Daven sehingga membuat suasana semakin memanas.
Daven menggiring tubuh Alena ke atas kasur dan membaringkannya dengan perlahan. Dia kembali melancarkan ciumannya, dengan tangan yang juga sudah bekerja untuk meraba daerah-daerah sensitif di tubuh Alena.
"Aku menginginkan mu? apakah boleh?" tanya Daven lembut seperti mendesah,membuat tubuh Alena meremang. Daven kembali melancarkan aksinya, ketika sudah mendapat izin dari Alena.
Tidak lama kemudian, ruangan kamar itu berisi, desahan-desahan dan erangan yang bersahut-sahutan dari dua orang yang sudah disatukan dengan ikatan pernikahan itu.
*******
Sementara itu di kamar lain, justru terjadi perang dingin antara Andrew dan Jenni, akibat dari ucapan Jenni pada Dean tadi.
Mereka tidur saling memunggungi satu sama lain. Andrew memasang wajah dingin dan tatapan yang sulit terbaca semenjak masuk ke kamar. Jenni sudah berusaha untuk mencairkan suasana dan meminta maaf, tapi sama sekali tidak di gubris oleh Andrew.
Andrew memutar badanya dan memeluk tubuh Jenni dari belakang.Sedingin-dinginnya Andrew, dia tidak akan pernah tega mendengar orang-orang yang disayanginya menangis.
Pelukan Andrew bukannya membuat Jenni menghentikan tangisan, Jenni justru makin mengencangkan tangisannya. Hingga membuat Andrew menjadi kelabakan.
"Jen, kamu kenapa semakin menangis sih? diam dong! nanti aku dikirain sudah menyiksamu, " bujuk Andrew bingung sambil membalikan tubuh Jenni agar menghadap padanya.
"Kamu jahat, Drew! aku kan tadi sudah minta maaf, tapi kenapa kamu masih mendiamkanku?" Jenni memukul-mukul dada bidang suaminya itu.
"Maaf, aku tidak bermaksud mendiamkanmu.aku cuma kesal padamu tadi.Tidak seharusnya kamu bicara seperti itu pada anak kecil seumuran Dean,"ungkap Andrew.
"Aku kan cuma, mau nolongin Mommy yang kesulitan menjawab pertanyaan Dean Drew.Aku tidak punya maksud lain." Jenni mencebikkan bibirnya.
"Iya, tapi kan masih ada cara lain Jen,"
"Cara apa lagi? buktinya Dean tidak bertanya lagi setelah mendengar ucapanku." Jenni tidak mau di salahkan.
"Iya, iya ..., aku minta maaf!" Andrew kembali membenamkan Jenni ke dalam pelukannya.
"Pakaian apa tadi, yang kamu kasih ke Alena? sampai dia tidak berani keluar?" tanya Andrew menyelidik.
Jenni terkekeh dan menjelaskan jenis pakaian yang dia kasih ke Alena.
"Istriku memang pintar, jadi makin cinta deh!" ujar Andrew tanpa sadar.
"Kamu tadi bilang apa?" tanya Jenni dengan mata yang membulat.
"Aku memang bilang apa? aku cuma bilang kamu istri yang pintar, itu saja, "sahut Andrew berusaha berkilah.
"Tidak! kata setelah itu. Kamu tadi bilang jadi makin cinta deh, iya kan?" cecar Jenni sehingga membuat Andrew kelabakan dan mengumpati dirinya sendiri.
"Aku tidak mengatakan apa-apa.Kamu mungkin salah dengar!" sangkal Andrew sembari membenamkan wajah istrinya ke dadanya, agar Jenni tidak bisa melihat wajahnya yang sudah memerah.
Jenni berusaha memberontak dan mendongkakan wajahnya untuk melihat wajah Andrew. Tapi sayangnya Andrew terlihat sudah memejamkan matanya.
"Aku tidak salah dengarkan tadi? dia benaran bilang jadi makin cinta tadi!" gumam Jenni berbicara pada dirinya sendiri, tapi Andrew yang pura-pura tidur masih bisa mendengar gumaman Jenni. Sudut bibirnya sedikit terangkat, membentuk suatu senyuman.
Andrew membuka sedikit matanya dan melihat bibir istrinya itu masih mengerucut. Andrew yang melihat hal itu jadi gemas dan dengan sigap Andrew langsung ******* bibir Jenni.
Andrew pun langsung menindih tubuh Jenni tanpa melepaskan bibirnya dari bibir Jenni.
"Kamu mau apa?" tanya Jenni sembari menahan dada Andrew.
"Mau melaksanakan titah putri kita Jeslyn untuk memberikan dia Adik".sahut Andrew.
"Kamu ya selalu begitu kalau ada maunya, tapi, bodohnya, aku tidak pernah bisa menolak," ucap Jenni kesal pada dirinya sendiri.
Andrew terkekeh mendengar gerutuan istrinya itu, dan dengan cepat Andrew kembali memberikan sentuhan-sentuhan yang lembut pada tubuh istrinya itu.
Tbc
Jangan lupa like, vote dan komen ya gais.