Cinta Terhalang Janji

Cinta Terhalang Janji
Drama Muffin


Andrew berusaha melepaskan pelukan Alena.Akan tetapi Alena semakin meng-eratkan pelukannya.


" Alena tolong lepaskan pelukanmu! Aku belum mau mati konyol." bisik Andrew dengan raut wajah yang meminta untuk di kasihani. " Aku bahkan belum ngungkapin perasaan ku pada dia" batin Andrew seraya membayangkan gadis pujaannya sedang tersenyum.


"Emang kenapa ka? Kaka gak akan mati karena hanya pelukan kan? buktinya kakak masih hidup sampai sekarang. Padahal kan dulu, waktu kecil kaka juga suka meluk aku." ucap Alena yang membuat Daven semakin meradang mendengarnya.


"Sial, kok pakai nyebut sering aku peluk segala sih? Oh Pemakaman i'm coming" Andrew kembali berbicara di dalam hatinya sendiri dengan wajah yang terlihat pasrah.


" Itu kan dulu Alena, kita waktu itu masih anak-anak.Kalau sekarang kita udah dewasa jadi udah beda " Andrew sengaja mengeraskan suaranya,agar Daven mengerti kalau Andrew memeluk Alena, hanya pada waktu mereka anak-anak saja.


"Bagiku gak ada bedanya Ka Drew. Karena aku kan memeluk kakaku sendiri, bukan orang lain." ucap Alena dengan nada sedikit manja seraya mengerucutkan bibirnya.


"Oh, habis lah aku sekarang.Tuan aku siap mati di tangan mu. Bunuh lah aku Tuan bunuh " Andrew tidak bergeming dan tidak berusaha untuk melepaskan pelukan Alena lagi. Karena kini dia sudah pasrah.


Melihat pemandangan di depannya, raut wajah Daven semakin memerah, seperti terbakar api.


"Apakah pelukannya terlalu nyaman Andrew? sehingga kamu enggan untuk melepaskannya?" terselip sebuah sindiran dalam ucapan Daven.


Alena seketika melepaskan pelukannya dari tubuh Andrew. Walaupun ucapan Daven ditujukan pada Andrew, tapi Alena menyadari kalau dia lah yang tidak mau melepaskan pelukannya tadi.


"Dan kamu Alena, ingat kamu masih istriku! Kamu harus jaga sikapmu.Walaupun Andrew itu kakakmu, tapi kalian tetap tidak punya hubungan darah. Kalau kita sudah bercerai nantinya, terserah kamu mau meluk-meluk siapa pun aku tak perduli.Paham kamu! "


"Pa-paham Tuan!" ucap Alena lirih. Dia tiba-tiba merasa sedih mendengar kata perceraian dari mulut Daven.


Daven menoleh ke arah Andrew, dengan tatapan yang sangat tajam . " Andrew kamu kembali ke kantor sekarang! "titah Daven.


"Apakah anda tidak akan kembali ke kantor Tuan? " tanya Andrew dengan sangat hati-hati.


"Tidak! Aku mau istirahat!"


"Bagaimana aku ke kantor Tuan?mobil saya kan Ada di kantor?"


"Kamu bawa aja mobilku.Besok kamu jemput aku! "


"Baiklah Tuan. Kalau begitu aku pamit dulu! " Andrew memutar badannya, hendak melangkah pergi. Tapi, tiba-tiba tangannya di tahan oleh Alena.


"Ka Andrew bisa tunggu sebentar? Kaka coba kue buatanku dulu. Boleh kan Tuan? " Alena menoleh ke arah Daven untuk meminta persetujuan.


Rahang Daven kembali mengeras. Apalagi ketika melihat tangan Andrew yang masih ada dalam genggaman tangan Alena. Hati Daven juga seketika panas dingin mendengar ucapan Alena barusan. " Sial, kenapa hanya Andrew yang diminta untuk nyobain? aku aja belum nyobain, masa Andrew duluan? batin Daven kesal. Tapi begitu melihat manik mata berwarna perak milik Alena yang berkilat-kilat penuh harap membuat Daven tidak tega untuk menolaknya.


"Ya udah boleh" cetus Daven dengan terpaksa. Ucapan Daven sangat berbeda dengan kata hatinya. Mulutnya berkata boleh, tapi hatinya berkata tidak.


Andrew mengetahui dengan jelas, dari nada bicara Daven, kalau Daven sebenarnya keberatan dengan permintaan Alena. Andrew menoleh ke arah Alena, seraya melepaskan tangannya dari genggaman Alena. " Maaf Alena, aku tidak bisa mencoba kue buatan kamu, soalnya aku harus buru-buru ada hal penting yang harus aku kerjakan.Lain kali aja ya! Bagaimana kalau Tuan Daven aja yang kamu minta untuk mencoba kue kamu? " Andrew mencoba menawarkan pada Alena, untuk meminta Daven saja yang mencoba.


Mendengar ucapan Andrew, tanpa sadar seulas senyuman terbit di bibir Daven.Ada perasaan senang yang datang menyelinap ke dalam hatinya.


Alena mengalihkan tatapannya ke arah Daven.Tampak keraguan tercipta di manik mata berwarna perak itu.Dengan sedikit mencebikkan bibirnya, Alena kembali mengalihkan pandangannya ke Andrew,


"Tuan Daven tidak akan mau ka, mencoba apa yang aku buat.Jadi, kaka aja ya! " rengek Alena.


Senyum di bibir Daven, seketika redup begitu mendangar ucapan Alena. Dengan kesal dia mendaratkan tubuhnya untuk duduk di kursi meja makan. " Siapa bilang aku tidak mau? bawa sini kuenya biar aku yang coba! " cetus Daven tanpa menatap Alena sama sekali.


"Emm, bukannya kata Tuan kemarin...."


"Mana kuenya? kalau aku bilang bawa ke sini, ya bawa! " Daven langsung memotong ucapan Alena dengan sedikit meninggikan suaranya, sebelum Alena mengingatkan kembali ucapannya kemarin, yang mengatakan tidak akan mau memakan apa pun masakan Alena.


"Ba-baik Tuan! " dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali, Alena mengayunkan kakinya melangkah ke arah oven,lalu mengeluarkan kue muffin buatannya dari dalam oven. Setelah itu diapun menaruh 3 potong muffin di atas piring kecil.


Alena menghela nafasnya sebentar seraya mengangkat piring yang berisi kue itu.Lalu dengan sedikit gugup dia melangkah mendekati tempat dimana Daven duduk.


"Ini Tuan! " Alena meletakkan piring kuenya di depan Daven.


Posisi Daven masih sama seperti tadi. Dia tetap tidak mau menatap Alena. Daven menatap kue buatan Alena yang penampilannya kurang estetik.Lalu dengan gaya sok cool dia mengambil satu potong muffin lalu menyuapkannya ke dalam mulutnya.


"Bagaimana rasanya Tuan? " Alena bertanya dengan sedikit was-was seraya menggigit bibirnya sendiri.


"Biasa aja! " Sahut Daven santai. Akan tetapi ucapannya tidak sesuai dengan tindakannya.Mulutnya berkata biasa aja, tapi dia tetap saja melanjutkan memakan kue itu dengan lahap.


Alena mengerucutkan bibirnya, mendengar ucapan Daven yang tidak sesuai dengan apa yang dilihatnya kini.


"Cih, katanya biasa aja. Tapi itu mulut gak berhenti ngunyah. Apa susahnya sih bilang enak aja ?" Alena menggerutu di dalam hati.


Melihat tingkah Daven, seulas senyuman terbit di bibir Andrew.


"Kenapa kamu senyum-senyum?" bentak Daven tiba-tiba.


" Eee, tidak ada apa-apa Tuan?" sahut Andrew gelagapan.


" Tidak ada apa-apa gimana? Aku lihat sendiri kalau kamu tadi senyum-senyum. Kamu lagi ngejek aku ya? " Seru Daven seraya menghunuskan tatapan mautnya.


"Ng-nggak Tuan, Aku tadi cuma..."


"Ahhh, gak usah bicara lagi. Ingat kamu gak boleh senyum-senyum lagi " tegas Daven merasa kesal pada Andrew.


"Ngapain kamu masih berdiri di sana? bukannya tadi aku menyuruh mu untuk kembali ke kantor? "


" Baik Tuan! Aku pergi sekarang "Andrew memutar badannya.Lalu mengayunkan langkahnya untuk kembali segera ke kantor. Tapi,tiba-tiba da menghentikan langkahnya ketika mendengar Alena memanggilnya kembali.


"Ka Andrew ...., ini muffin nya, aku bungkusin buat kaka.Yang ini buat kaka dan yang ini tolong kasih sama Jenny ya ka! " Alena menyerahkan dua kantong Muffin yang masing-masing berisi 5 buah muffin.


Daven geram melihat jumlah muffin yang di kasih ke Andrew lebih banyak dari punya dia. Daven melihat ke sisi lain dimana masih ada 3 buah muffin yang masih tersisa. Dengan cepat dia berdiri dan mengambil semua sisa muffin itu.


"Tuan, kok diambil semua Tuan? aku belum makan kue itu sama sekali." ucap Alena.


"Ini semua punyaku.Kalau kamu mau kamu buat aja lagi sendiri! " Daven memutar badannya, hendak meninggalkan Alena yang bingung dengan mulut yang terbuka.


Daven menoleh kembali ke arah Alena " tutup mulut kamu itu, nanti lalat yang tadi pagi berusaha kamu usir, masuk ke dalam mulutmu. Satu hal lagi yang harus kamu ingat. Mulai sekarang, selama status kamu masih istri ku,orang pertama yang mencicipi masakanmu itu harus aku.Gak boleh orang lain. " Daven memutar kembali badannya dan berlalu dari dapur dengan sebuah senyum kemenangan yang tersungging di bibirnya.


" Yes, setidaknya aku dapat 6 muffin dan Andrew hanya 5, berarti aku yang menang!" gumam Daven senang.


Alena menoleh ke arah Andrew dengan tatapan penuh tanya atas sikap Daven. Andrew tersenyum sambil mengedikkan bahunya tanda tidak tahu. Lalu dia pun meninggalkan Alena yang berdiri mematung.