
"Ihhh, kenapa sih aku harus ngomong seperti itu pada Tuan Andrew? Aku malu.... aku malu! " Jenni berjalan sedikit cepat sambil menutup wajahnya.Sehingga dia hampir saja terjatuh, karena menabrak tubuh seseorang.Untungnya tangan kekar, tubuh yang tertabrak oleh Jenni itu, dengan cepat menangkap tubuh Jenni.
"Aduh, maaf .... maaf,Tuan! aku tidak sengaja" ucap Jenni seraya menundukkan tubuhnya ke arah sosok laki-laki yang ditabraknya itu.
"Hmm, Kamu Jenni kan? " laki-laki itu terdengar bertanya dengan nada yang antusias.
Jenni sontak mendongakkan wajahnya, untuk melihat sosok yang baru saja menyebutkan namanya itu.Dia memiringkan sedikit kepalanya, seraya menyipitkan kedua matanya, untuk berusaha mengingat sosok yang ada di depannya.
"Tunggu! aku ingat kamu! Kamu Erick kan?" Jenni tiba-tiba sedikit histeris karena terlalu senang melihat sahabatnya waktu masih kuliah dulu. Dan laki-laki itu menganngukkan kepalanya seraya tersenyum.
"Kamu terlihat makin cantik Jen!" laki-laki itu tampak memuji Jenni, sehingga membuat pipi Jenni seketika merona.
"Kamu juga semakin tampan" Jenni balik memuji.
Dari jarak yang tidak terlalu jauh sepasang mata, tampak berkilat-kilat penuh amarah melihat interaksi antara Jenni dan laki-laki yang bernama Erick itu. "Cih, bukannya tadi dia bilang sudah suka padaku sejak lama? tapi kenapa begitu melihat seorang laki-laki tampan dia langsung centil begitu? " gumam sang pemilik mata, dengan geram seraya mengepalkan tanganya.
"Oh,ya kamu apa kabar Jen? " Erick mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Jenni.
"Seperti yang kamu lihat aku baik! Kalau kamu bagaimana?" Jenni menyambut tangan Andrew tanpa, menanggalkan senyuman sedikitpun dari bibirnya.
"Ya udah, berjabat tangannya gak usah lama-lama.Dan kamu tidak perlu menjawab, karena dari kondisimu sekarang, semua bisa melihat kalau kamu sehat!" Andrew tiba-tiba menarik tangan Jenni dari genggaman tangan Erick seraya menghunuskan tatapan yang tajam ke arah Erick.
"Hei, anda siapa? tolong anda sopan sedikit" Erick sedikit meninggikan suaranya,merasa tidak senang dengan tindakan dan ucapan Andrew.
" Oh, aku calon suaminya. Dan asal kamu tahu minggu depan kami akan menikah! ucapan Andrew terlepas begitu saja dari mulutnya, tanpa memikirkan apa yang terjadi nantinya.
Air muka Erick terlihat sangat kecewa mendengar ucapan Andrew. Lain halnya dengan Jenni. Kedua netra Jenni sedikit membesar dengan mulut yang ternganga mendengar pengakuan Andrew.
"Apa itu benar Jen?" tanya Erick memastikan apa yang baru saja didengarnya.
Jenni hampir saja menjawab tidak, tapi langsung diurungkannya,begitu melihat tatapan tajam dan meng-intimidasi dari manik mata berwarna perak milik Andrew itu.
"Iya, dia calon suamiku! " sahut Jenni tegas. Andrew terlihat tersenyum puas dengan jawaban Jenni, sedangkan Erick tersenyum kecut.
"Ya udah, aku pergi dulu Jen! Kalau dia menyakitimu, kamu boleh menghubungiku ke sini" Erick mengeluarkan kartu namanya dan memberikannya ke tanggan Jenni.
Andrew geram mendengar ucapan Erick. Dia langsung merampas kartu nama itu, dari tangan Jenni dan memberikannya kembali ke tangan Erick. " Kamu tidak usah susah-susag memberikan kartu namamu pada calon istriku, karena aku tidak akan menyakitinya.! "
Erick mendengus kesal, mendengar ucapan Andrew. Dia lalu beranjak pergi meninggalkan Jenni dan Andrew yang masih memasang wajah dinginnya.
"Anda ternyata punya bakat acting yang hebat ya Tuan! Seharusnya anda jadi aktor !" sindir Jenni seraya berdecak kagum.
"Yang bilang kalau saya lagi akting siapa?Aku serius akan menikahimu? " Andrew berucap seraya berlalu berjalan mendahului Jenni yang sedang ternganga.
Jenni terlihat menepuk-nepuk pipinya, untuk mengetahui, apa dia sedang bermimpi atau tidak.Setelah dia menyadari kalau dia tidak sedang bermimpi, dia langsung tersenyum sumringah dan mengejar Andrew.
"Jadi,anda serius ingin menikahiku? tapi kenapa?" tanya Jenni yang memang masih merasa bingung dengan keinginan Andrew yang ingin menikahinya tiba-tiba.
"Karena kamu menyukaiku!" ucap Andrew santai.
"Aku kira, alasan itu sudah cukup kan?"
"Bagaimana mungkin itu sudah cukup! Yang menikah itu harus saling menyukai.anda memang kurang waras,Tuan! "ucap Jenni kesal dan melangkah mendahului Andrew.
"Hei, harusnya aku yang berjalan di depan, bukan kamu!" teriak Andrew kesal sambil berusaha mensejajarkan langkahnya dengan Jenni.
"Terserah anda Tuan! mending aku menikah dengan Erick yang jelas-jelas sudah menyukai ku dari dulu! cetus Jenni, dengan bibir yang mengerucut.
"Berani kamu melakukan itu, aku pastikan kalau hidup si Erick itu tidak akan tenang! " ancam Andrew seraya menghunuskan tatapan andalannya.
"Dasar egois!" Jenni mendengus dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Jadi kamu masih mau menikah dengan ku? "
"Bisa tidak anda melamar dengan cara yang romantis?"
"Aku gak punya waktu untuk itu, kamu tahu sendiri, keadaan Tuan Daven sekarang! Intinya kamu mau apa nggak? "
"Iya, aku mau" Ujar Jenni pasrah.
"Nah gitu dong" Andrew tersenyum puas,seraya mengacak-acak rambut Jenni.
"Huft, udah dilamar dengan cara yang gak romantis, cincin pun tidak ada yang tersemat di jari! nasib ku kok begini amat ya Tuhan?" Gumam Jenni sambil mencebikkan bibirnya.
Sudut bibir Andrew tertarik sedikit, menerbitkan sebuah senyuman tipis mendengar gerutuan Jenni.
*******
Sementara itu, di sudut kota di negara London, Alena terlihat sedikit sibuk, karena toko kue yang miliknya sangat ramai dikunjungi pelanggan.
Ya, dua bulan yang lalu, Alena membuka toko kue untuk kelangsungan hidupnya serta janinnya. James memang sudah mengatakan akan menjamin semua kebutuhan Alena. Akan tetapi. Alena bersikeras untuk berusaha sendiri tanpa bergantung pada James selamanya. Bahkan Alena memilih untuk tinggal sendiri, di sebuah rumah kecil.
Setiap hari, hasil dari penjualannya,selalu dia sisihkan sebagian, untuk bisa mengembalikan modal yang diberikan oleh James. Walaupun James mengatakan, uangnya tidak usah dikembalikan.
"Kamu sudah makan Alena? ini aku bawakan makanan untukmu! " tanya James, pada wanita yang perutnya sudah terlihat membuncit itu, saat dia mengunjungi Alena seperti biasanya.James selama 3 bulan ini selalu berusaha dan tidak menyerah, untuk mengambil hati Alena kembali. Walaupun sampai detik ini, belum ada tanda-tanda, kalau Alena akan kembali mencintainya.
"Terima kasih, Ka James! Tapi aku sudah makan tadi. Kaka letakkan aja makanannya di sana!, nanti aku akan memakannya. Karena memang belakangan ini,aku gampang sekali merasa lapar. Mungkin anakku di dalam sana,sangat suka makan! Alena tersenyum seraya mengelus-elus perut buncitnya.
James tersenyum kecut, melihat Alena yang sangat bahagia dengan kehamilannya.James sampai sekarang masih saja merasa cemburu dan tidak terima kalau Alena kini mengandung anak laki-laki lain.
"Seandainya, akulah Papah nya, janin yang kamu kandung itu Alena, betapa bahagianya aku! " ucap James lirih seraya menghembuskan nafasnya dengan cepat.
Tbc
Jangan lupa buat like, rate, vote dan komen. Kalau bersedia kasih hadiah bunga, kopi dan yang lainnya, aku juga terima dengan senag hati.😁
Sambil nunggu ini Up, mampir juga ke karya ku yang satu lagi. tinggal lihat profil dan karya yang lain akan langsung muncul.Ditunggu ya gais di sana. Thank you