
"Daven kamu jangan langsung mudah terpengaruh dengan ucapan Alena. Sifat manusia itu kan bisa saja cepat berubah?" ujar Brianna kembali memprovokasi Daven.
"Sekelas James saja, tidak bisa membuat aku melupakan Ka Daven. Bagaimana mungkin orang yang seperti di photo itu, bisa membuatku berpaling dari Daven Nona Brianna?" Apakah anda waras dengan hal anda tuduhkan itu?" ucap Alena masih dengan mode santai.
"Siapa James? oh ,s**t! kenapa aku tidak tahu tentang James? dan apa James sekaya Daven?" batin Brianna.
"Kamu jangan menjadikan penolakanmu pada James sebagai alibi, untuk menyangkal perbuatanmu Alena." ucap Brianna sembari meninggikan suaranya.
"Tapi, aku percaya dengan kata-kata istriku, Nona Brianna. Alena tidak akan mungkin berbuat hal memalukan, seperti yang kamu tuduhkan itu." Daven kini buka suara, setelah dia memikirkan ucapan Alena dan flashback kebelakang tentang kesetiaan Alena selama mereka terpisah selama 5 tahun.
"Dan satu lagi, Nona Brianna, anda sudah pernah menipuku satu kali, dan aku tidak mau jatuh ke lobang yang sama." sambung Daven dengan tegas.
"Kamu salah Daven, justru aku sudah menyesal pernah membohongimu. Karena rasa bersalahku lah, aku mau menolong kamu, biar lepas dari wanita ular seperti dia." ucap Brianna sembari mengarahkan jari telunjuknya ke wajah Alena. " Aku tidak mau, kamu dibohongi oleh wanita lain lagi Daven. Aku tidak berharap apa-apa kok dari kamu, aku murni cuma mau mengungkapkan kebenaran saja." ucap Brianna wajah dibuat sesendu mungkin, agar Daven mempercayainya. Dan dia tersenyum tipis hampir tidak terlihat, ketika melihat Daven terdiam, dan sepertinya mulai terpengaruh lagi dengan ucapannya.
"Apa anda bisa membuktikan kebenaran ucapan anda Nona Brianna?" tanya Alena masih dengan santai.
"Tentu saja, aku bisa!" tegas Brianna.
Alena mendengus dan menyeringai sinis ke arah Brianna. " Anda sangat licik, Nona. Tapi anda kurang pintar. Apa anda tidak bisa merasakan kejanggalan-kejanggalan dengan tuduhan anda itu? kalau tidak, sini biar aku kasih tahu. satu! photo itu diambil di hotel yang baru saja diresmikan, dan belum dibuka untuk umum kecuali,untuk orang-orang tertentu, tapi kenapa anda bisa ada di sana? apa anda termasuk salah satu dari orang tertentu itu? Kedua! photo itu diambil di dalam kamar, kalau aku benaran selingkuh, otomatis,pintu pasti akan aku kunci rapat-rapat, sehingga tidak akan ada yang bisa masuk ke dalam. Tapi kenapa photo itu bisa ada? pasti ada seseorang kan yang mengambil photonya? dan kalau kamu bilang, kamu meminta kunci cadangan dari resepsionis,kembali lagi ke yang pertama tadi, apa anda orang penting, sehingga resepsionis mau saja menyerahkan kunci cadangannya? saya rasa tidak.ketiga, bagaimana kamu tahu aku bertemu dengan laki-laki lain dibelakang Daven? kalau di luar, kamu boleh berkilah dengan mengatakan kalau kamu melihatku tanpa sengaja dan mengikutiku. Tapi ini posisinya di hotel yang baru diresmikan Nona Brianna.Itu berarti kamu berada di hotel itu juga, ada keperluan apa anda di hotel itu Nona? saya rasa, Ka Daven tidak mengundangmu dalam acara itu," ucap Alena panjang lebar, tanpa jeda dengan nada sinis.
Wajah Brianna sontak berubah pias mendengar penuturan panjang Alena. Dia terdiam tidak bisa berkata-kata lagi. Dia kini tengah memutar otaknya untuk mencari alasan yang masuk akal.
"Kenapa anda diam saja Nona Brianna? apa anda tidak punya sesuatu lagi untuk membatah semua ucapanku? tanya Alena sembari tetap dengan seringaian di bibirnya. Alena menepuk tangannya seperti tengah memanggil seseorang.
Dari arah dalam, muncul seorang laki-laki berperawakan tinggi, yang tak lain adalah laki-laki yang bersama Alena dalam photo itu. Melihat kemunculan Laki-kaki itu, ada dua ekpresi yang muncul. Daven dengan ekspresi marahnya, Brianna dengan ekspresi ketakutannya.
Daven melangkah menghampiri laki-laki itu,hendak memberikan pukulan pada wajah laki-laki itu.Tapi, tangan Alena menahan tangan Daven dan menggelengkan kepalanya agar Daven tidak melakukannya.
"Nona Brianna, anda mungkin bertanya-tanya kenapa, laki-laki suruhan anda ini, bisa ada di sini? Sebenarnya yang terjebak itu sekarang, anda sendiri Nona.Laki-laki bayaran anda ini, juga bayaran seseorang yang sudah mengetahui rencana anda. Laki-laki ini datang dan meminta kepadaku, untuk berpura-pura terjebak sesuai dengan skenario yang anda rencanakan dengan Nona Clara."
Daven terkesiap dan mengrenyitkan keningnya mendengar istrinya menyebut nama Clara.
"Sayang, kenapa kamu membawa-bawa nama Clara? apa Clara yang kamu maksud, sekretaris ku yang dulu?" tanya Daven dan dibalas anggukan dari kepala Alena.Sehingga membuat Daven semakin kebingungan
" Brianna berencana memisahkan Aku dan Kamu, sedangkan Clara berusaha memisahkan Andrew dan Jenni, agar mereka berdua bisa mendapatkan kalian berdua kembali." Alena langsung menjelaskan, untuk menghentikab kebingungan Daven.
"Kamu sudah sangat keterlaluan sekarang Brianna.Sepertinya hal yang aku lakukan dulu, yang membuat hidupmu dan orang tuamu melarat, belum bisa membuat mu kapok. Sekarang aku tidak mau membiarkanmu hidup bebas lagi." ucap Daven sembari mencengkram kuat dagu Brianna dan menghentakkannya kembali dengan kasar. Sehingga meninggalkan bekas yang memerah pada dagu Brianna. Lalu dia menarik tangan Brianna dan menyeretnya keluar.
"Pengawal! bawa perempuan ja**ng ini keluar dari sini. Aku akan memberitahukan nanti, apa yang akan kalian lakukan berikutnya, pastikan ponsel kalian hidup." perintah Daven pada 3 orang anak buahnya.
"Baik Tuan!" sahut ketiganya hampir bersamaan. Lalu menyeret Brianna yang meronta-ronta berusaha melepaskan diri.
Daven terlihat mengetikkan sesuatu pada ponselnya. " Kalian harus menghabisi perempuan itu, tapi pastikan buat kematiannya, karena murni bunuh diri." tulis Daven pada pesannya pada anak buahnya. Daven sengaja melakukannya, agar Alena tidak mendengarnya, yang pastinya akan tidak tega dan meminta melepaskan Brianna kembali.
Daven kembali masuk ke dalam dan menemukan Alena yang berbicara dengan laki-laki asing itu. Dia melangkah dengan cepat dan nafas yang memburu, melihat istrinya yang berbicara akrab dengan laki-laki itu.
Daven langsung menarik tangan Alena,untuk menjauhkan jarak Alena dengan laki-laki itu.
"Kamu apa-apa an sih Ka Daven? tangan aku sakit tahu!" cetus Alena kesal.
"Apa yang kalian berdua bicarakan? kenapa harus berdiri sedekat itu?" suara Daven sedikit meninggi, menandakan kalau dia tidak suka Alena berdekatan dengan laki-laki lain. "Dan kamu, walaupun hanya berpura-pura, kenapa kamu harus memeluk tubuh istriku saat itu? mau tanganmu aku patahkan?" bentak Daven pada laki-laki itu,yang wajahnya langsung berubah ketakutan.
"Kamu jangan salahkan dia Ka Dave! Dia melakukannya agar aktingnya meyakinkan.Kalau tidurnya berjauhan,kan justru aneh keliatannya. Dan dia melakukan itu, karena Brianna juga ada di dalam ruangan itu." ucap Alena, kesal dengan kecemburuan Daven yang berlebihan.
"Aku cuma bertanya sama dia, siapa orang yang yang telah membayar dia, untuk mau berpura-pura menerima perintah Brianna? Siapa orang yang telah menolong kita diam-diam?" ucap Alena.
"Jadi, kamu juga tidak tahu siapa orangnya?" tanya Daven, dan Alena menggelengkan kepalanya.
"Dia tidak mau memberitahukanku." Sahut Alena ketus.
Daven menatap Laki-laki itu, dengan alis yang bertaut tajam. "Siapa orang yang memerintahkanmu untuk menjebak Brianna?" tanya Daven.
"Maaf Tuan Daven! saya tidak bisa memberitahukan pada anda. Laki-laki itu hanya berkata, jangan memberitahu pada siapapun identitasnya.Dia bilang, kalau hanya ini yang bisa dia lakukan untuk menebus semua kesalahannya pada kalian berdua." sahut laki-laki itu dengan sedikit gemetaran.
"Jadi dia seorang laki-laki? siapa dia? kesalahan apa yang pernah dia perbuat, sehingga dia harus menebusnya?" gumam Daven, tapi masih bisa didengar oleh Alena dan laki-laki itu.
Tbc
Jangan lupa buat like, vote dan komen ya gais. Thank you🤗🤗