
Andrew tercenung dan tidak bergeming sama sekali. Mulutnya terasa kelu, tidak tahu mau mengucapkan apa lagi.Kedua netranya yang dari tadi sudah berembun mendengar semua penjelasan Hansel, kini sudah banjir oleh air mata. Dia tidak menyangka kalau Hanna telah berkorban banyak untuk bisa melahirkan dia dan adik perempuannya yang tidak diketahui dimana sekarang, bahkan sampai rela berada di ambang maut.
"Sekarang kamu boleh mengambil keputusan, apa kamu masih menyalahkan mamahmu atau menerima dia sebagai wanita yang telah melahirkanmu ke dunia. Dan kamu juga boleh memberikan hukuman apapun pada pamanmu ini, karena memang aku yang salah." Hansel melihat ke atas, untuk mencegah air matanya keluar.
Andrew melangkah perlahan selangkah demi selangkah, mendekati Hanna yang sudah tersungkur di lantai sembari menangis sesunggukan.
"M-mamah!" panggil Andrew untuk pertama kali, dengan air mata yang tidak berhenti menetes membasahi pipinya.
Hanna mengangkat dagunya, begitu mendengar Andrew memanggilnya dengan sebutan mamah untuk pertama kali.
"P-putraku! bolehkah mamah memelukmu?"
"J-justru aku yang harusnya bertanya Mah, bolehkah aku memelukmu?" Hanna menganggukkan kepalanya seraya merentangkan tangannya.
Andrew segera menghambur memeluk Hanna dengan bahu yang turun naik. "Maafin kata-kata Andrew tadi Mah! Mamah pasti sakit hati sama ucapan Andrew tadi." Andrew berucap di sela-sela tangisnya.
"Tidak sayang! mamah mengerti bagaimana perasaanmu.Mamah minta maaf kalau mamah terlambat mengetahui keberadaanmu dan adikmu.Mamah setiap tahun selalu kembali ke Irlandia untuk mengunjungi makam kalian, yang ternyata tidak ada sama sekali."
"Hanna, Andrew bolehkah aku ikut memeluk kalian berdua?"Charles tiba-tiba sudah berdiri di dekat mereka dengan air mata yang juga sudah menggenang di manik matanya.
"P-papah!" Andrew melerai pelukannya dari Hanna dan balik memeluk Charles yang langsung membalas pelukan Andrew dengan erat.
"Hanna apa kamu tidak mau memelukku juga?apa aku yang bodoh ini tidak pantas untuk mendapat maaf dan mendapat cinta dari dirimu lagi?"Charles, menatap sendu dan tatapan penuh kerinduan pada Hanna.
Hanna mengalihkan tatapannya pada Hansel, seperti meminta izin, apakah dia boleh memeluk Charles atau tidak.Ketika dia melihat Hansel menganggukkan kepalanya, Sebagai tanda mengizinkan, tanpa ragu lagi, Hanna pun menghambur memeluk Charles yang sampai sekarang masih menjadi suaminya itu.
Mereka berpelukan dengan cukup lama, dan Charles berulang kali juga menanamkan ciuman di puncak kepala Hanna sebagai ungkapan betapa rindunya dia pada istrinya itu.
Ellen yang juga sudah sangat merindukan Hanna, berjalan menghampiri sahabatnya itu, dengan cairan bening yang sudah membasahi pipinya.
"Hanna apa aku boleh memelukmu?aku juga sangat merindukanmu!" celetuk Ellen,mengakhiri pelukan Hanna dan Charles.
Hanna pun sekarang menghambur memeluk Ellen. " Maafin aku ya Ell! demi aku, kamu rela mengorbankan cintamu pada Charles."
"Tidak ada yang perlu dimaafkan Hanna! itu sudah suratan takdir kita.Sekarang aku justru sudah sangat mencintai Harold dan Charles sudah sangat mencintaimu.Sekarang mari kita lupakan masa lalu dan kembali bersahabat seperti dulu." tutur Ellen panjang lebar sembari mengusap butiran air mata yang jatuh di pipi Hanna.
*********
Disebuah kamar hotel, Alena yang tertidur di dalam mobil dalam perjalanan ke hotel tadi pagi, terbangun karena merasakan lapar. Dia duduk di atas ranjang sembari menguap.
"Kok aku bisa tidur di sini? dimana Daven?" gumam Alena sembari mengedarkan matanya untul mencari keberadaan suaminya.
"Eh, aku lapar sekali! ini udah jam berapa ya?" Alena melirik ke arah Jam yang menempel di tembok. "Astaga, ini jam dua siang apa jam dua pagi?" Alena melompat dan menyingkap gorden untuk melihat situasi di luar.
"Oh ternyata masih siang! Alena melangkah kembali dengan malas ke arah ranjang.
"Apa?! Jam dua siang?! Alena kembali pada kesadarannya. Dia melihat pakaian yang melekat pada tubuhnya masih sama dengan pakian yang dia pakai dari rumah.
"Astaga, gimana nih? apa konfrensi persnya sudah selesai? nanti aku harus bilang apa pada Mommy dan Daddy dan pada semuanya?" tanpa sadar Alena menggigit ujung jari jempolnya dan berjalan mondar-mandir.
Alena,merapikan gaunnya yang sedikit kusut, lalu marapikan kembali rambut dan riasannya. Sebelum membuka pintu, Alena menghembuskan nafasnya sedikit lambat untuk sedikit memberikan ketenangan pada dirinya sendiri.
Alena berjalan, dengan sedikit cepat menuju ruang konfrensi,tapi sesampainya di sana, dia melihat ruangan itu sudah kosong dan bahkan semuanya sudah tersusun dengan rapi di tempat semula.
"Nona Alena, apa anda mencari Tuan Daven dan yang lainnya?" tanya seorang pegawai hotel yang kebetulan lewat.
"Mereka lagi ada di restoran bawah Nona!" sahut pegawai itu.
"Terimakasih Nona!" tukas Alena dengan seulas senyuman di bibirnya.
Alena melangkahkan kakinya menuju restoran dengan bibir yang tidak berhenti menggerutu.
"Suami macam apa sih dia? udah aku gak dibangunin, aku dibiarkan kelaparan juga. Dia malah asyik-asyik makan sendiri dan melupakanku."
"Katanya cinta? cinta macam apa seperti ini? lihat saja nanti malam,aku tidak akan mau disentuh sama kamu." bibir Alena tidak berhenti mengerutu, sampai dia tidak sadar kalau sekarang dia sudah sampai di tempat yang dia tuju.
Air muka Alena kini terlihat bingung melihat situasi yang terjadi di ruangan itu, Dimana dia melihat ibu mertuanya memeluk seorang wanita, dan Andrew memeluk seorang Pria yang tidak dia kenal sama sekali.
Alena mengayunkan langkahnya mendekati Daven, yang belum menyadari kehadirannya.
"Sayang, ini ada apa? kok ada drama tangis-tangisan di sini?" bisik Alena tiba-tiba di telinga Daven, sehingga Daven terjengkit kaget.
"Astaga Alena, sejak kapan kamu ada di sini? kamu sudah bangun,sayang?"bukannya menjawab, Daven malah balik bertanya.
"Kamu mau aku tidur selamanya? kamu kok gak bangunin aku? kamu bahkan tidak ingat kalau aku belum makan dari tadi pagi. Kamu mau aku cepat mati, biar kamu bisa nikah lagi ya?"Alena seketika lupa akan rasa penasarannya tentang apa yang terjadi, dia kini kembali pada kekesalannya yang merasa dilupakan oleh Daven.
Suara Alena yang lumayan keras, mengalihkan perhatian orang-orang yang berada di ruangan itu, tak terkecuali ke empat orang yang lagi melepas rindu.
"Sayang, suaramu tolong direndahkan sedikit! lihat! sekarang semua melihat ke arah kita." bisik Daven.
"Ups, maaf! aku tidak sengaja!"Alena nyengir, lalu menggigit bibirnya sendiri, merasa tidak enak hati pada semua orang yang berada di sana.
"Alena! kamu sudah bangun sayang?" Ellen menghampiri Alena dan menyentuh kening Alena.
"Sudah Mom!" sahut Alena pelan sembari menundukkan kepalanya.
"gimana kepalamu,apa masih terasa pusing? kata Daven, kepalamu pusing tadi." Ellen kembali bertanya dengan raut wajah khawatir.
"Sudah tidak lagi Mom!"
"Tunggu! apa dia istrimu Daven?" celetuk Gerald tiba-tiba.
"Iya, Paman! kenapa? jangan bilang paman menyukai istriku, langkahi dulu mayatku!" Daven menghunuskan matanya,menatap tidak senang pada Gerald.
"Bukan begitu! Aku cuma mau bilang, namanya sama dengan nama yang ku berikan pada adik Andrew. Dulu aku kasih nama Andrew, Aland dan adiknya Alena. Tapi, mungkin hanya namanya saja yang sama!" tukas, Gerlad menjelaskan agar Daven tidak salah paham.
Andrew terkesiap, dan sontak kembali menatap Alena yang terlihat sangat bingung sekarang. Andrew baru mengingat, kalau dia dan Alena dulu bertemu di jalanan dan sempat hidup bersama juga di jalanan.
Setelah mendengar penuturan Gerald, semua mata kini menatap Alena dengan intens tanpa berkedip tak terkecuali Daven yang baru menyadari, kalau istrinya sangat mirip dengan Hanna mamahnya Andrew.
"Apa mungkin Alena, memang benar-benar adik Andrew?" bisik Daven pada dirinya sendiri.
"K-kalian kenapa? kenapa semua menatapku seperti itu?" Alena mengrenyitkan keningnya, bingung.
Tbc
Jangan lupa meningalkan jejaknya ya gais.Please like, vote dan komen. Thank you 🥰🤗🙏