
Jenni terisak-isak,menyelesaikan ceritanya. Bukan hanya Jenni, Alena pun tak terkecuali Cathleen terisak-isak juga mendengar apa yang baru saja diceritakan oleh Jenni.
"Maaf Jen, kalau aku sudah mengungkit kisah sedih yang benar-benar ingin kamu kubur." wajah Alena benar-benar terlihat benar-benar menyesal.
"Tidak apa- apa! oh ya aku tutup dulu ya Jeslyn dan Mamah sudah datang, bye Alena!" Jenni memutuskan panggilan, ketika. dia mendengar suara ceria Jeslyn terdengar dari luar.
...----------------...
"Sayang, apa kalian tahu siapa papah kandung Jeslyn?" Alena melontarkan apa yang dari tadi mengganggu pikirannya.
"Iya, kami tahu! dan jujur sampai sekarang dia masih mencari keberadaan Nona Elga dan anaknya." sahut Daven,yang membuat Alena semakin penasaran dengan identitas Jeslyn.
"Sayang, apa boleh aku tahu siapa papah Jeslyn sebenarnya?"
"Untuk apa?" Daven balik bertanya.
"Aku hanya ingin tahu saja,please! masa kamu tega tidak memberitahukannya padaku! " Alena. menangkupkan kedua tangannya di depan dada, dan menampilkan puppy eyesnya.
"Baiklah! Jeslyn putri dari Hector Faustino Fernandes. Dia___"
"Tunggu! apa yang Kakak maksud, ketua mafia yang paling ditakuti di Spanyol sekaligus pemilik dari perusahaan terbesar di sana?" Carlos menyela ucapan Daven.
"Iya, kamu tepat sekali!" Daven menganggukkan kepalanya,membenarkan tebakan Carlos.
" J-jadi, Jeslyn putri seorang mafia?" Alena terbeliak kaget.
"Apa Kakak dan Andrew tidak takut, kalau Hector tahu,kalian menyembunyikan putrinya selama ini? Karena yang aku dengar, dia mencari istri dan anaknya selama ini." Alis Carlos bertaut tajam, menatap ke arah Daven yang tampak santai saja.
"Tidak! buat apa takut? " sahut Daven santai.
" Hmm sudah-sudah! jangan memikirkan terlalu jauh. Sepajang tidak ada yang membocorkannya, rahasia itu akan tetap aman." Timpal Harold menghentikan kecemasan Carlos.
Disaat yang bersamaan Dean sudah muncul kembali,bersama dengan Bibi Emma dengan membawa keranjang berisi buah untuk Alena. Keheningan dan situasi yang akward sontak terjadi, berharap Bibi Emma tidak mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Sayang aku sangat lapar! kita lebih baik keluar untuk membelikan makanan. Aku yakin semuanya pasti sudah sangat lapar." Cathleen buka suara, untuk menyelamatkan situasi Akward yang sempat tercipta.
"Oh iya! Kalau begitu kami keluar dulu untuk membelikan makanan!" Carlos berdiri dan meraih tangan Cathleen untuk membantunya berdiri.
Cattleen menerima uluran tangan Carlos dan berdiri. Akan tetapi, ketika dia berdiri, kepalanya tiba-tiba pusing dan pandangannya berkunang-kunang. Dalam hitungan detik. Cathleen tiba-tiba tersungkur tidak sadarkan diri. Untungnya Tangan Carlos langsung sigap menahan tubuh Cathleen
...****************...
"Bagaimana dengan keadaan istriku Dok?" tanya Carlos dengan raut wajah panik.
"Tuan tenang saja! istri anda tidak apa-apa. Istri__"
" Tidak apa-apa bagaimana? dia sampai pingsan begitu, anda masih bisa bilang tidak apa-apa! anda ini dokter atau tidak sih?" Carlos tidak bisa lagi mengontrol kemarahannya.
"Saya belum selesai bicara Tuan. Jadi, tolong jangan potong dulu ucapan saya!" Dokter itu berusaha menahan kekesalannya dengan tetap menampilkan wajah tenangnya.
"Baiklah, maaf!" Carlos menghembuskan nafasnya dengan sekali hentakan, untuk menenangkan dirinya sendiri.
"Istri anda sepertinya sedang hamil, makanya dia pingsan.Hal ini bisa saja terjadi karena Kehamilan memang menyebabkan tubuh mengalami perubahan hormon yang sangat cepat. Semua proses ini menyebabkan istri anda pusing. Perubahan hormon itu, yang dapat memicu aliran darah menjadi sangat lambat dan dapat mengurangi volume darah yang mencapai ke otak, makanya itu yang menyebabkan istri anda pingsan.
"Hamil? siapa yang hamil?" Carlos, masih belum bisa benar-benar mencerna ucapan dokter.
Plak ...
Tangan Ellen terayun, memukul kepala anaknya yang benar-benar seperti orang bodoh saat ini.
"Ada apa sih Mom? kenapa kepalaku dipukul?"
"Seharusnya, bukan hanya pukulan yang kamu dapat, tapi kalau bukan karena kau putraku, aku sudah melemparkanmu keluar.Jelas-jelas dokter itu berkata kalau istrimu hamil, tapi kamu masih bertanya siapa yang hamil? Sepertinya otak kamu perlu dicharger ulang."Ellen geleng-geleng kepala, yang disambut kekehan dari Harold dan Daven.
"Oh, Cathleen yang hamil.___ APA??! Cathleen hamil?!" Setelah sepersekian detik berlalu,baru Carlos berhasil mencerna.
"Anda tidak bercanda kan Dok?" Calos memastikan pendengarannya.
"Iya, Tuan! tapi untuk lebih memastikan, setelah istri anda sadar nanti,kita akan melakukan USG." Disaat dokter selesai mengucapkan USG, suara lenguhan dari mulut Cathleeb terdengar lirih, pertanda dia sudah sadar dari pingsannya.
"Sayang, kamu sudah sadar? bagaimana perasaanmu? apa ada yang sakit?" Carlos bertanya beruntun, tanpa memberikan kesempatan pada Cathleen untuk bertanya, apa yang telah terjadi.
"Kamu bisa diam gak?! emangnya apa yang terjadi padaku?" tanya Cathleen sedikit membentak.
"Kamu tadi pingsan, tapi kata dokter kamu hamil sayang!" senyuman Carlos mengembang dengan sempurna, menatap haru ke arah Cathleen.
"H-hamil? kamu bercanda kan?"
Wajah Cathleen masih terlihat biasa saja, dia tidak mau terlalu bergembira, karena memang belum pasti. Raut wajahnya kini justru terlihat menunjukkan kekhawatiran, khawatir kalau hasilnya mengecewakan.
"Ya udah, kalau begitu, kami keluar dulu ya! Kami mau langsung kembali ke ruangan Alena.Nanti kalau sudah selesai, kalian berdua kembali saja langsung ke ruangan Alena, biar nanti Bibi Emma saja yang belikan makanannya." Ellen, Harold dan Daven langsung berjalan keluar, begitu Carlos dan Cathleen menganggukkan kepala.
...****************...
"Bagaimana hasilnya? apa Cathleen benar-benar hamil? Ellen langsung memberondong Carlos dengan pertanyaan begitu Carlos dan Cathleen masuk kembali ke ruangan Alena.
"Iya Mom! dan kata dokter kehamilan Cathleen ternyata sudah 10 minggu. Kata dokter lagi, aku termasuk suami yang beruntung karena Cathleen tidak mengalami morning sickness dan tidak bertingkah aneh-aneh!" Carlos terlihat bangga dan ekor matanya tertarik ke atas melirik Daven, seakan-akan ucapannya itu adalah sindiran buat Daven.
Daven berdecih dan mendengus kesal, karena dia menyadari kalau ucapan Carlos itu sedang menyindirnya.
"Sebenarnya sayang, aku dari 3 hari kemarin ingin sekali makan nasi goreng,yang kita makan di Bali, hari itu. Tapi, karena aku merasa kalau aku hanya merindukan Bali,makanya aku tidak meminta ke kamu. Jadi, sekarang aku benar-benar menginginkan nasi goreng itu sayang." ucap Cathleen dengan wajah yang sangat memelas sambil menelan ludahnya sendiri,membayangkan tampilan nasi goreng itu.
"Rasain kamu!" umpat Daven dalam hati, dengan senyum smirk terulas di bibirnya.
"Tapi, Bali jauh sekali sayang, kan aku gak mungkin ke sana buat beli itu saja." ucap Carlos meminta pengertian dari Cathleen.
"Yang mau kamu ke Bali siapa? kamu kan bisa masak sendiri."
"Kamu jangan bercanda deh! kamu kan tahu sendiri, kalau aku tidak bisa masak!" wajah Carlos tampak frustasi.
Jangan lupakan Daven yang merasa puas,melihat siksaan awal yang dialami oleh Carlos.
"Aku tidak bercanda! pokoknya aku mau nasi gorengnya sekarang!" Netra Cathleen sudah terlihat berkaca-kaca.
"Baiklah,akan aku usahakan.__Mom, tolong bantu Carl___, mana Mommy?" Carlos mengedarkan matanya,ke seluruh sudut ruangan untuk mencari keberadaan Ellen.
"Mommy sudah pergi diam-diam tadi." sahut Daven sambil menahan tawanya.
Ya ... begitu Cathleen meminta nasi goreng tadi, Ellen langsung menyadari kalau posisinya sedang terancam. Lalu dengan diam-diam dia melangkah keluar dari ruangan itu.
"Mommyyyyy." ingin rasanya Carlos menangis, apalagi ketika dia tahu, Kalau Bibi Emma juga diam-diam sudah keluar dari ruangan itu.
"Nikmati hari-harimu, Carl! ini masih permulaan, akan banyak lagi kejutan -kejutan buatmu selama 7 bulan kedepan." ucap Daven dengan senyum meledeknya.
...****************...
Hari berlalu begitu cepat, bahkan kini Dean sudah berusia 19 tahun dan kedua adiknya, sudah berusia 14 tahun. Dia kini bertranformasi menjadi pemuda yang sangat tampan, dingin dan tegas.Karakternya tidak jauh dari Daven. Dingin pada orang lain tapi selalu hangat pada orang yang dia sayangi, yakni keluarganya.
Walaupun Daven dan Andrew terpisah oleh jarak karena tinggal di negara yang berbeda, tapi setiap sebulan sekali mereka akan menyempatkan waktu untuk saling mengunjungi. Kadang Daven yang memboyong keluarganya ke Canada dan Kadang Andrew dan keluarganya yang datang ke London. Sesekali mereka juga berkumpul di Irlandia.
Sikap Dean pada semua sepupunya selalu hangat dan sangat menyayangi mereka semua. Akan tetapi itu tidak berlaku buat Jeslyn. Sikapnya sama sekali tidak pernah berubah terhadap Jeslyn, walaupun sekarang Jeslyn sudah tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik dan anggun. Dia tetap saja selalu menjaga jarak dan bersikap dingin pada Jeslyn. Untuk alasannya kenapa? hanya dialah yang tahu. Akan tetapi, walaupun dia bersikap dingin dan selalu ketus pada Jeslyn, dia tetap melindungi Jeslyn dari jauh.
Rahasia, kalau Jeslyn bukan anak kandung dari Andrew dan Jenni benar-benar tersimpan rapat, apalagi setelah meninggalnya Bibi Emma 3 tahun yang lalu, kenyataan itu semakin terkubur dalam-dalam.
Carlos juga sudah memiliki sepasang anak. Yang pertama laki-laki berusia 13 tahun yang di beri nama Collin dan yang perempuan berusia 9 tahun yang diberi nama Casey.
Perusahaan Murpy group juga semakin berkembang baik yang di Irlandia maupun yang di London. Bahkan Daven sudah mengembangkan usahanya sampai ke Canada dan Spanyol untuk diwarisi pada keturunannya dan Carlos.
Begitulah kehidupan mereka yang makin hari makin harmonis. Daven benar-benar memenuhi janjinya dulu untuk selalu memberikan kebahagiaan buat Alena.
Tamat
Cody Cristian as Dean
Remaja
Dewasa
Hande Ercel as Jeslyn
Remaja
Dewasa