
Malam semakin larut dan semakin dingin. Acara resepsi kejutan dari Andrew berjalan sesuai ekpektasi Andrew. Sekarang mereka dalam perjalanan pulang ke kediaman mereka, yang beberapa hari ini terasa dingin tanpa kehadiran Andrew. Tapi, dapat dipastikan kalau mulai dari malam ini dan kedepannya akan selalu terasa hangat.
"Ndrew, apa kamu juga tahu,kalau Clara berhasil kabur dari rumah?" tanya Jenni memecah keheningan yang sempat terjadi, dan kebetulan Jeslyn juga sudah terlelap dalam tidurnya.
"Iya! makanya aku langsung mengirimkan bodyguard buat jagain Jeslyn dan kamu." sahut Andrew, sambil tetap fokus mengemudi.
"Jadi bodyguard itu kamu yang suruh? tapi kata Alena itu suruhan Tuan Daven."Jenni menatap wajah serius Andrew sembari memicingkan kedua matanya.
"Kalau Alena bilang yang sebenarnya, kamu jadinya tahu dong, kalau aku memperhatikanmu dari jauh, jadinya rencana ku otomatis gagal. Kamu tidak usah khawatir, para bodyguard itu, boduguard-bodyguard ahli dan terpilih." Andrew tersenyum ke arah Jenni sembari mengelus lembut kepala Jenni.
"Oh ya, sayang, mulai dari malam ini, aku tidak mau kamu memanggilku Andrew lagi! kamu harus membiasakan diri untuk memanggilku sayang." lanjut Andrew tanpa menanggalkan senyuman di bibirnya. Terdengar biasa memang, tapi dalam ucapan Andrew terselip ketegasan dan tidak bisa terbantahkan.
30 menit kemudian, mereka sudah tiba di kediaman mereka, dan Andrew langsung membawa Jeslyn dalam gendongannya dan membawanya masuk kedalam rumah.
Andrew membawa putri kecilnya ke dalam kamarnya dan merebahkannya di sana. Sedangkan Jenni langsung masuk ke dalam kamar mereka dan segera membersihkan tubuhnya di dalam kamar mandi.
Adrew ternyata sudah ada di dalam kamar mereka, ketika Jenni keluar dari kamar mandi dengan hanya terlilit seutas handuk di tubuhnya, sehingga membuat libido Andrew meronta-ronta seketika.
"Eh, Jeslyn benar-benar udah pulas ya Ndrew?" tanya Jenni sembari melangkah ke arah lemari untuk mengambil pakaiannya.
"Sayang! berapa kali aku harus bilang,kamu harus memanggilku sayang!" nada suara Andrew terdengar sangat kesal, dan kini matanya mendelik tajam ke arah Jenni.
"Eh, iya sa- sayang!" sahut Jenni yang masih merasa kaku memanggil Andrew sayang.
"Kamu, tunggu di sini! aku mau mandi dulu, habis itu, aku mau menghukummu habis-habisan." Andrew mengerlingkan sebelah matanya sembari menyeringai licik.Lalu dia mengayunkan langkahnya,masuk ke kamar mandi, meninggalkan Jenni yang sudah keringat dingin membayangkan nasibnya malam ini,yang pastinya akan digempur habis-habisan oleh suami mesumnya itu.
********
Clara menekan bel pintu sebuah apartemen yang sangat mewah yang berada di salah satu kalangan apartemen elit di Dublin Irlandia. Ya, hari ini Carlos mengundang Clara untuk datang ke apartemennya, yang tentu saja disambut bahagia oleh Clara.
"Oh, kamu sudah datang, Honey?" sambut Carlos dengan mesra,hingga membuat hati Clara melambung tinggi.
"Tentu saja aku datang, sayang! aku tidak mungkin menolak,jika kamu undang aku ke sini.Hanya wanita bodoh yang menolakmu." Clara membalas kembali ucapan mesra Carlos dengan tak kalah mesra.
"Dan hanya orang bodoh juga, yang menyia-nyiakan wanita secantik kamu." ucap Carlos sambil mendaratkan bibirnya ke bibir merah Clara, lalu me*lu**mat dengan lembut, sehingga Clara semakin merasa dicintai oleh Carlos.
"Sayang, apa kamu mau melakukannya denganku sekarang?" Clara menatap Carlos dengan tatapan penuh damba.Tubuhnya kini mengharapkan lebih dari sekedar ciuman.
"Sabar,Honey! aku tidak mau melakukannya, sebelum kita menikah."
"Apa kamu benar-benar berniat mau menikahiku?" Clara tersentak, terpengarah dengan ucapan Carlos, yang menyinggung tentang pernikahan.
"Tentu saja, aku mau. Tapi, kita akan menikah setelah urusan kita berdua selesai. Kamu dengan Andrew dan aku dengan Daven." Seringaian sinis muncul di sudut bibir Carlos dan sorot mata penuh kebencian.
"Boleh aku mengetahui apa masalahmu dengan Tuan Daven?" Clara bertanya hati-hati.
Carlos sontak menatap Clara dengan sorot mata yang sangat tajam, merasa tidak senang dengan Clara yang ingin ikut campur dengan masalahnya.
"Maaf, kalau aku tidak boleh tahu, aku cuma__"
"Oh, tidak apa-apa! Kamu memang pantas tahu, karena kamu calon istriku. Tapi belum saatnya aku beritahu kamu.Kamu tenang saja, ketika kita berhasil nanti, aku akan langsung memberitahukanmu apa dendamku padanya" Carlos tiba-tiba langsung melunak kembali, dan cepat-cepat menyela ucapan Clara.
" Fuih! hampir saja aku lost kontrol!" batin Carlos sembari menghembuskan nafasnya.
"Oh, aku kirain kamu marah." ujar Clara merasa lega dan lagi-lagi tersipu ketika dia mendengar, Carlos menyebutnya calon istri.
"Hmm, jadi apa rencanamu sekarang sayang?" tanya Clara penasaran.
"Hmm, aku sebenarnya belum terlalu yakin dengan renacanaku, karena keluarga Murphy sangat sukar tersentuh. Tapi setelah aku pikir-pikir rencanaku yang satu ini pasti berhasil." Carlos pun menjelaskan dengan rinci rencananya pada Clara, dan Clara terlihat mangut-mangut mengerti.
"Hmm, baiklah! kamu tenang saja, aku akan melakukannya, dan aku yakin, ini pasti berhasil." Clara tersenyum sinis.
"Jenni, bersiaplah menangis darah! aku akan balas semua perbuatanmu!" bisik Clara pada dirinya sendiri.
"Sayang, sebelum aku pergi, apa kamu tidak mau bermesraan dulu denganku?" Clara mendekatkan tubuhnya, untuk menggoda Carlos.
Carlos tersenyum dan menyambut tubuh Clara. Dia kembali me*lu* mat bibir Clara, dan lidah mereka kini saling melilit satu sama lain. Clara benar-benar mengharapkan lebih. Dia hampir saja melepaskan pakaian yang melekat pada tubuhnya,tapi Carlos buru-buru menghentikannya.
"Jangan sekarang, Honey! setelah kita berhasil, kita akan melakukannya sepuasnya." Carlos membenarkan pakaian Clara yang sudah terbuka sedikit.
Clara, mencebik, merasa kecewa, karena hasratnya tidak kesampaian.
"Jangan cemberut dong! kan masih banyak waktu untuk kita melakukannya nanti, Honey ...." Carlos memberikan kecupan di bibir Clara yang mengerucut, hingga membuat senyuman Clara kembali terbit.
"Ya udah, aku pamit dulu ya, Sayang! aku mau ini cepat-cepat selesai,agar kita bisa secepatnya menikah." ucap Clara.
"Pastinya sayang! Ingat, jaga dirimu baik-baik.Aku tidak mau kalau kamu sampai kenapa-napa!" ujar Carlos sebelum Clara benar-benar menghilang di balik pintu.
Selepas kepergian Clara, Carlos buru-buru masuk kamar mandi, dan mengosok-gosok mulutnya denga sabun dan membilasnya dengan menggunakan banyak air,lalu dia pun berkumur-kumur berkali-kali.
"Cih, dasar menjijikkan! aku terpaksa merelakan bibirku mencium wanita ja*la*ng itu." umpat Carlos.
Carlos mengingat pembicaraannya tadi malam dengan Steve, mantas suami Clara yang sebenarnya sahabat baiknya, dan sekarang dia sedang membantu Steve untuk memulihkan perusahaannya.
" Kamu tidak benar-benar tertarik padanya kan Carl?" tanya Steve, sambil memicingkan kedua matanya.
"Tentu saja tidak! sebelum aku mendekatinya, aku sudah terlebih dahulu menyelidikinya. Aku tahu, kalau dia hanya seorang wanita panggilan, dan bahkan aku tahu, kalau dia hampir saja menjebak Andrew, bersama seorang wanita yang bernama Brianna, mantan kekasihmu." Carlos melirik Steve dan tersenyum mengejek.
"Oh, S**t! jangan sebut nama wanita ja*la*ng itu lagi! aku benar-benar muak mendengarnya."
"Hahahaha! sekarang saja kamu bicara seperti itu. Dulu, kalau aku memperingatkanmu, kamu tidak pernah mau mengindahkannya." sindir Carlos lagi.
"Sudahlah Bro! jangan kamu ingatkan kebodohanku itu lagi. Aku benar-benar malu mengingatnya." sahut Steve.
"Ok ... ok!" Carlos menepuk-nepuk pundak Steve.
"Ngomong-ngomong, apa sebenarnya rencanamu? bukannya kamu bisa melakukan sendiri balas dendam kamu, tanpa harus meminta bantuan wanita itu?" tanya Steve.
"Sebenarnya sih iya! tapi, akan lebih sulit. Sedangkan kalau aku mengajaknya kerja sama, semuanya akan lebih mudah. Aku tahu, Andrew tidak ada kaitannya dengan balas dendamku pada keluarga Murpy. Tapi aku tahu, kalau ada sesuatu yang terjadi pada keluarga Andrew, otomatis Daven pun akan terpancing. Dia akan ikut menolong Andrew. Aku tidak akan melakukan hal yang jahat pada keluarga Andrew, aku hanya menjadikan ancaman ke keluarga Andrew, sebagai umpan untuk memancing Daven. Dan aku yakin, mereka tidak akan mencurigai siapapun kecuali Clara. Mereka tidak akan tahu, kalau aku dalang di balik semua itu. Seperti yang aku bilang tadi, aku hanya memanfaatkan mantan istrimu itu saja."ucap Carlos dengan senyuman liciknya.
Tbc
Jangan lupa dukungannya ya gais. Biar aku makin semangat.
Hideo Muraoka as Carlos