Cinta Terhalang Janji

Cinta Terhalang Janji
Sheela Rosaleen.


Daven memutuskan untuk tinggal selama beberapa hari lagi di London. Dia mau menghabiskan waktu bersama Alena dan putranya Dean dengan berjalan-jalan keliling London , karena walaupun Alena 5 tahun tinggal di London, dia sangat jarang bepergian, walaupun James dulu sering kali mengajaknya dan dia akan selalu menolaknya.


Seperti malam ini, dia mengajak Alena dan istrinya ke London eye yang sangat indah di malam hari



London Eye merupakan sebuah roda pengamatan yang terbesar di dunia dengan ketinggian 135 meter atau 433 kaki. Objek wisata London Eye ini berada berputar di atas Sungai Thames London.Tempat ini menjadi salah satu tempat wisata terbaik di London karena dengan menggunakan London Eye pengunjung bisa melihat seluruh panorama kota London.


Daven membawa Alena dan Dean untuk menaiki London Eye,yang seperti bianglala itu, untuk melihat keindahan-keindahan kota London. Dean terlihat sangat bahagia bisa pergi bersama Daddy dan Mommynya. Hal yang sudah lama di impikannya. Berbagai pose sudah mereka lakukan di atas sana saat mengambil photo bersama.


Ditempat yang sama, Andrew, Jenni dan putri mereka Jeslyn juga berada di tempat yang sama. Bahkan sewaktu Andrew mengatakan kalau dia akan mengajak mereka berdua jalan-jalan malam ini, Jenni lah yang terlihat sangat antusias dan terlihat sangat bahagia.


Melihat mata Jenni yang berbinar-binar saat ini, ada perasaan sedih yang muncul di dalam hatinya, karena jarang membawa istri dan putrinya itu untuk jalan-jalan menghabiskan waktu bersama. Bukan karena dia tidak mau, tapi itu semua karena dia terlalu sibuk mengurus perusahaan ketika Daven depresi karena kehilangan Alena dulu.


Alena tertawa bahagia melihat Daven yang mengejar-ngejar Dean setelah mereka turun dari London eye. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang dari tadi menatap kebahagiaan Alena dengan mata yang berkaca-kaca, dan bibir yang menyunggingkan senyuman.


"Semoga kamu akan selalu bahagia Alena!" gumam sipemilik mata itu. Dia menghembuskan nafasnya dengan sekali hentakan.Dia memang tidak memungkiri kalau hatinya terasa sakit saat melihat wanita yang disukainya tertawa tulus ketika bersama dengan Daven. Sangat berbeda ketika masih bersamanya, tawa Alena selalu terkesan dipaksakan. Akan tetapi, ada rasa hangat dan bahagia ketika melihat Alena kini sudah bersatu dengan Daven, pria yang sangat dicintai oleh Alena.


********


James memutar badannya, hendak meninggalkan kebahagiaan Alena bersama dengan Daven dan Putranya Dean. Dengan melihat Alena dari jauh sudah lebih dari cukup untuknya.


James berjalan dengan gontai, tapi pasti menuju mobilnya.Hatinya kini terasa cukup lapang menerima semua yang terlah terjadi padanya.


Tiba-tiba langkahnya terhenti ketika melihat seorang wanita yang sembunyi di balik pohon besar. Dia sepertinya sembunyi dari kejaran seseorang. Benar dugaannya, dari arah yang berlawanan tampak 2 orang laki-laki yang celingak-celinguk mencari keberadaan wanita itu.


Kedua laki-laki itu terlihat menyeringai sinis saat mereka melihat tempat persembunyian gadis itu. Mereka perlahan-lahan menghampiri tempat persembunyian gadis itu.


"Akhirnya kamu kami dapatkan juga! mau lari kemana lagi kamu hah?!" ucap salah satu dari laki-laki itu dengan nada yang sangat sinis sambil menangkap tangan wanita itu dengan kuat.


"Lepasin aku, lepasin! kalau tidak kalian lepaskan aku akan teriak di sini!"gadis itu terlihat meronta-ronta, berusaha melepaskan cekalan tangan dari kedua orang itu.


" Coba lah teriak! sekali kamu berteriak, pisau ini aka langsung masuk ke perutmu." terlihat sebilah pisau kecil sudah menempel di perut gadis itu.


"Dengar, kali ini kami tidak akan melepaskanmu. Enak aja minta dilepaskan. Ingat ya, Kemarin kamu telah membuat kami gagal mengambil dompet orang itu. Jadi, sekarang kamu harus tanggung jawab. Kamu tidak perlu, membayar dengan uang, kamu cukup membayar dengan tubuhmu saja, " ucap laki-laki yang lain seraya membelai wajah wanita yang kini tampak sudah sangat ketakutan.


"Ayo jalan! Jangan melawan kalau tidak mau pisau ini menikam perutmu." bisik seorang dari laki-laki itu.


Wanita itu terlihat menuru. Dia terpaksa mengikuti kemauan dua laki-laki itu. James masih terlihat, memperhatikan dari jauh. Awalnya dia ingin tidak memperdulikan apa yang menimpa gadis itu, tapi entah dorongan dari mana membuat dia tetap bertahan di tepat itu untuk melihat tindakan apa yang akan dilakukan oleh kedua laki-laki itu.


James terlihat terkesiap melihat siapa wanita yang kini sedang berada di bawah ancaman itu.


"Tunggu! bukannya dia wanita yang menolongku kemarin?" gumam James.


"Aku harus menolongnya___! Tapi bagaimana caranya ya? Kalau aku mendekati mereka sekarang, bisa-bisa pisau di tangan laki-laki bajingan itu akan langsung menikam perut permpuan itu." Lagi-lagi James membatin.


Mereka terlihat membawa gadis itu ke tempat yang sangat sepi. Disana mereka berniat untuk melecehkan gadis itu.Gadis itu terlihat menangis. Kalau seandainya dia tidak memiliki seorang adik yang sedang sakit, dan masih sangat membutuhkan dirinya, dia akan lebih baik mati saja daripada harus mau melayani kedua laki-laki biadap itu.


"Hai, kalian sedang apa?" James menyapa kedua orang itu dengan kondisi dirinya yang sudah sangat dekat kedua laki-laki bejat itu.


Kedua orang itu, terlihat kaget dan sontak melihat kebelakang untuk melihat siapa yang telah berani menyapa mereka. Di saat kedua orang itu menoleh kebelakang, dengan cekatan James langsung melayangkan tendangannya, untuk menjatuhkan pisau yang ada di tangan salah satu dari dua orang bejat itu.


"Kalian berdua benar-benar pengecut. Kalian berani sama seorang wanita wanita saja " ucap James santai sembari menyeringai sinis ke arah dua itu.


Hei, siapa kamu berani mencampuri urusan kami? hah?!" bentak salah satu dari penjahat itu ke arah James.


"Siapa bilang aku mencampuri urusanmu? justru sekarang aku sedang menyelesaikan urusanku dengan kalian berdua ." sahut James dengan masih tetap santai.


"Jangan banyak bicara! kami tidak punya urusan denganmu. Jadi pergilah dari sini!"


"Kalian ingat pria yang tertidur, yang dompetnya gagal kalian ambil kemarin? itu aku!"ujar james sembari menyeringai sinis ke arah kedua orang, yang Kini terlihat Semakin terkesiap dengan mulut yang menganga dan wajah yang pucat pasi.


"Sekarang kalian harus pergi dari sini, sebelum aku mengotori tangan ku ini, dengan menghabisi kalian berdua!"!ucap James sembari menghunuskan sorot matanya yang sangat tajam, menghujam jantung kedua laki- laki itu.


Kedua laki-laki itu tidak mengindahkan perintah James.Mereka justru melayangkan pukulan ke wajah James.Untungnya James, terlihat sudah waspada akan serangan yang menghampirinya. Dengan sigap dia menangkis serangan kedua orang itu dan balik memberikan pukulan di wajah kedua orang itu dengan sangat kuat.


Mendapat pukulan yang sangat keras dari Daven membuat dua orang tadi lari terbirit-birit.


"Hai, bangunlah! kamu sudah bebas sekarang," James mengulurkan tangannya ke arah wanita itu, untuk membantunya berdiri.


"Terimakasih Tuan, udah mau menolong ku dari dua orang brengsek itu," ucap gadis itu sembari membungkukkan tubuhnya .


" Tidak apa-apa! anggap saja kita impas. karena kemarin kamu juga telah menolongku," sahut James dengan senyuman yang masih menempel di wajahnya.


"sekarang kamu boleh pergi!" ucap James kembali.


"Kalau begitu aku pamit Tuan," gadis memutar badannya hendak melangkah meninggalkan James.


"Hei, siapa namamu?" tanya James tiba-tiba sebelum gadis itu benar-benar menjauh.


Gadis itu menyurutkan langkahnya dan berbalik ke arah James.


"Aku, Sheela Rosaleen Tuan. Anda bisa memanggil ku Sheela." sahut wanita itu seraya menerbitkan senyuman manisnya yang membuat sebuah lesung pipi yang tercetak indah di pipi sebelah kanannya.


Tbc


Jangan lupa buat like, vote dan komen ya gais.Thank you🙏🤗