
James keluar dari dalam ruangan Felix dengan perasaan kalut.Dia memang tadi, sudah meng-iyakan permintaan Felix, agar Felix mau untuk segera dioperasi. Dan sekarang jalan satu-satunya hanya bisa berharap, mudah-mudahan operasi Felix bisa berjalan dengan lancar, dan dia tidak perlu lagi bertanggung jawab dengan ucapannya.
"Apa yang dikatakan adikku?, dan kenapa dengan wajahmu? dia tidak meminta yang aneh-anehkan?" Sheela bertanya secara beruntun.
"Tidak! kamu tenang saja,dia hanya mengucapkan terima kasih tadi."sahut James. Sedangkan Sheela hanya manggut-manggut.
James terlihat meraih ponselnya dari dalam saku celananya,karena sepertinya ada yang sedang melakukan panggilan ke ponselnya.
"Iya, aku tidak apa-apa, Mah! Aku akan pulang nanti!" ucap James seraya memutuskan panggilan yang ternyata dari Hellena, mamahnya.
"Kamu bisa pulang sekarang James! Biar aku yang nungguin Felix sendiri di sini!" ucap Sheela merasa tidak enak hati.
"Apa kamu yakin bisa sendiri?"
"Ya, aku yakin. Jadi, kamu pulang saja!" sahut Sheela, yang sangat bertolak belakang dengan kata hatinya.
"Baiklah kalau begitu! ini kartu namaku, di sana tertera no ponselku. Kamu bisa menghubungiku kalau ada apa-apa." James berdiri dan beranjak meninggalkan Sheela yang diam terpaku melihat kepergian James.
Tadinya Sheela berharap, kalau James menolak permintaannya, yang menyuruhnya untuk pulang karena sudah memiliki ketertarikan padanya.Teryata, Sheela salah! James justru terlihat seperti mengharapkan untuk segera pulang. "Huft, sepertinya dia tidak tertarik padaku.Tapi iya juga sih, justru aneh kalau orang seperti dia suka sama gadis sepertiku." Sheela membatin sembari menghela nafasnya.
*********
Sudah semingu lamanya Devan menghabiskan waktu bersama Alena dan Dean di London. Demikian juga halnya dengan Andrew dan Jenni serta Jeslyn.
Hari ini, mereka akan kembali ke Irlandia. Semua data-data Alena sudah dikembalikan oleh James lewat jasa pengiriman, disertai dengan ucapan permintaan maafnya.
Sesampainya di Irlandia, Daven tidak membawa Alena ke Mansion tempat Harold dan Ellen tinggal. Akan tetapi, Daven langsung membawa Alena ke rumah, yang pernah mereka tempati bersama. 6 hari yang lalu, Daven sudah menyuruh orang untuk membersihkan rumah itu, dan mendekor kamar putranya, dengan tokoh-tokoh super hero yang disukai oleh putra itu.
Kedua netra Alena, berkilat-kilat karena tertutup oleh cairan bening, begitu melihat rumah yang banyak memberikan kenangan antara dirinya dan Daven, walaupun cuma hanya 4 bulan saja.
"Apa ini rumah kita Dad?" tanya Dean setelah mereka menginjakan kaki mereka di lantai rumah itu.
"Iya,sayang! dulu Mommy dan Daddy tinggal di sini." Sahut Daven seraya menyematkan senyumannya.
"Sekarang, Ayo daddy antar kamu ke kamarmu." Daven meraih tangan kecil Dean dan membawanya naik ke atas menuju kamarnya.
Dean menatap kamarnya dengan mata yang berbinar-binar. "Dad, bagus sekali kamar Dean."
"Kamu suka?" tanya Daven yang dibalas anggukan kepala oleh Dean.
"Baiklah, sekarang kamu istrirahat dulu! dan nanti kalau kamu mau main, di ruangan itu, adalah ruangan mainan kamu. kamu bisa main sepuasnya di sana." Daven menunjukkan sebuah ruangan yang sedang tertutup yang langsung terhubung ke kamar Dean.
"Terima kasih Dad!" ujar Dean dan langsung menghambur naik ke atas ranjang dan melompat-lompat di atasnya.
Daven keluar dari kamar putranya dan beranjak menuju kamarnya dan Alena. Dia membuka kamarnya perlahan, dan menguncinya kembali. Matanya mengedar, untuk mencari keberadaan Alena, tapi dia tidak menemukan adanya Alena di kamar.
"Sayang, kamu dimana?" Daven mencari ke seluruh penjuru ruangan, namun tetap tidak menemukan keberadaan Alena.
Wajah Daven seketika berubah panik, trauma akan kehilangan Alena kembali muncul. Dia berlari kembali keluar dari kamar sembari meneriakkan nama Alena.
"Ada apa Sayang?" kepala Alena tiba-tiba muncul dari kamarnya dulu.
Daven sontak berlari dan langsung menarik Alena kedalam pelukannya.Rasa panik yang tadi sempat menghinggapinya, sekarang menguap entah kemana,setelah melihat wajah Alena.
"Sayang, kamu kenapa? apa yang terjadi?" tanya Alena dengan raut wajah yang bingung.
"Memangnya siapa yang pergi Sayang? aku gak bakal kemana-mana.Please pelukannya dilepas dulu, kalau tidak aku bisa mati karena sulit untuk bernafas." ujar Alena seraya berusaha melepaskan pelukan Daven.
Daven melonggarkan pelukannya dengan manik mata yang sudah berkaca-kaca.
"Aku tadi takut sayang, ketika aku tidak menemukanmu di kamar. Aku kira kamu pergi lagi."
"Aku hanya ke kamar ini sebentar, sayang. Aku cuma mau melihat kondisi kamar ini, bagaimana sekarang." Alena tersenyum ke arah Daven.
Alena begitu tersentuh melihat kepanikan Daven. Dia tidak menyangka, kalau kepergiannya dulu meninggalkan trauma yang mendalam.
"Ayo, sayang, kita masuk dulu! Kamu istirahat aja dulu di sana, masih ada yang mau aku cari." ucap Alena sembari menarik tangan Daven masuk.
"Kamu mau cari apa?" tanya Daven dengan kening yang berkerut.
Alena menggigit bibir serta meremas tanganya, merasa malu untuk mengungkapkan benda apa yang sedang dicarinya.
"Em ... em, aku ... aku ... aku lagi__"
"Lagi cari apa, hem?" Daven mulai mendekat ke arah Alena seraya menatap intens wajah Alena yang kini terlihat gugup.
"Cari apa?" wajah Daven kini sudah persis dekat di wajah Alena.
"Aku lagi cari sertifikat rumah yang kamu berikan dulu." Ucap Alena dengan sangat cepat , secepat hembusan angin kereta api yang baru lewat.
Alena sontak menutup mulutnya yang sudah keceplosan mengucapkan apa yang sebenarnya dia cari.
Daven sontak tertawa terbahak-bahak sampai matanya berair dan perutnya mengeras melihat ekspresi Alena yang tampak lucu dan menggemaskan.
Alena mencebikkan bibirnya, disertai wajah yang merona.Dia cemberut sekaligus malu, dia kini merasa seperti wanita yang jual mahal dulu, yang sok tidak mau menerima rumah pemberian Daven.
"Tertawa aja terusss, sampai aku potong pita suaramu agar kamu tidak bisa tertawa lagi!" cetus Alena kesal sembari memberanikan diri menatap tajam ke arah Daven.Padahal aslinya, dia sangat takut melakukan hal itu.
Ternyata reaksi Alena yang pura-pura marah membuahkan hasil. Daven tiba-tiba menghentikan tawanya, dan meneguk ludahnya berkali-kali, melihat sorot mata Alena yang tajam.
"Sayang, jangan marah ya! aku tadi gak bermaksud menertawakan kamu kok." bujuk Daven dengan raut wajah memelas.
Alena ingin tertawa melihat, raut wajah Daven. Tapi dia berusaha menahannya, dan tetap berpura-pura marah.
Daven semakin ketakutan ketika Alena tidak bereaksi sama sekali. "Sayang please jangan marah ya!" Daven kembali membujuk Alena yang sekarang, justru mengalihkan wajahnya ke arah lain.
Alena menarik ekor matanya melirik ke arah Daven, yang air mukanya tampak frustasi. Melihat raut wajah Daven yang seperti itu membuat Alena merasa kasihan.
"Sayang, aku gak marah kok, aku cuma sedikit kesal aja tadi." Alena kini sudah mulai tersenyum ke arah Daven dan dibalas dengan senyuman juga oleh Daven.
"Sayang, kalau boleh tahu, kamu cari sertifikat itu buat apa?" Daven kembali bertanya.
"Sekali lagi kamu menanyakan itu, aku akan benaran marah" Alena berdiri dan beranjak keluar meninggalkan Daven.
"Sayaaang!" teriak Daven sembari mengejar Alena.
Tbc