Cinta Terhalang Janji

Cinta Terhalang Janji
Kamu punya kembaran.


Sheela menuntun James dengan perlahan masuk ke dalam kamar. Lalu dia mendudukkan James di atas ranjang dengan sangat hati-hati.


"Apa kamu bisa membuka pakaian kamu sendiri? Biar aku bersihkan lukanya dan membalutnya kembali." Sheela bertanya dengab sedikit gugup.


"Hmm, tentu saja boleh! yang lukakan bukan tanganku tapi perutku." kekeh James.


"Aku kan hanya bertanya saja!" Sheela mencebikkan bibirnya sembari melangkah untuk mengambil kotak P3K. Tapi, dia menyurutkan langkahnya dan berbalik menatap James.


"Oh ya James, dimana kamu letakkan kotak P3Knya?"


" Ada didalam lemari yang di sana!"


Sheela melangkah ke arah lemari yang ditunjukkan oleh James dan meraih kotak yang dia butuhkan.


Sheela tertegun sambil meneguk ludahnya sendiri, karena melihat tubuh James yang kini sudah shirtless dan menunjukkan perut James yang berbentuk seperti roti sobek. Jujur, ini kali pertama dia melihat tubuh laki-laki tanpa pakaian secara nyata, selain pada gambar dan di televisi tentunya.


"Kenapa kamu berdiam di sana? apa ada sesuatu yang terjadi?" James mengrenyitkan keningnya,heran dengan Sheela yang tiba-tiba tidak bergeming.


"Oh, tidak apa-apa!" Sheela terbangun dari alam bawah sadarnya dan mengayunkan langkahnya menghampiri James.


Sheela mulai membasahi kapas dengan alkohol, lalu mulai membersihkan luka bekas peluru, di perut James yang kembali mengeluarkan darah. sheela melakukannya sangat hati-hati dan pelan.Sedangkan James berdesis menahan perih dari alkhol yang dioleskan oleh Sheela.


"Apa aku boleh tahu kenapa kamu bisa sampai tertembak James?" Sheela tidak bisa lagi menyimpan rasa penasarannya.


James menghembuskan nafasnya ke udara, dengan sekali hentakan. Dia sudah yakin kalau Sheela akan bertanya hal itu.


"Hmm, itu sudah biasa dalam dunia bisnis Sheel! Kemarin aku hanya kurang waspada saja."bohong James,berharap Sheela tidak akan bertanya lagi.


"Oh kalau begitu, mulai dari sekarang kamu harus lebih waspada lagi." ujar Sheel sambil tetap mengganti perban di perut James.


"Udah, selesai!" sorak Sheela yang merasa puas dengan hasil karya tangannya yang cukup rapi memperban luka James.


"Kamu tunggu di sini dulu, aku mau mengambil pakaianmu. Dimana kamu menyimpan pakaian rumahanmu James?" tanya Sheela.


"Di sana!" James menunjuk kearah lemari yang berbeda.


Sheela melangkah ke arah lemari dan mengeluarkan kaos oblong dan celana pendek dari dalam lemari.Tapi sebelum itu, dia mengambil sebuah washlap dan melangkah ke arah kamar mandi untuk mengambil air, karena dia bernita membersihkan tubuh James terlebih dulu sebelum memakai pakaiannya kembali.


Ada desiran aneh yang dirasakan oleh James saat Sheela melap tubuhnya. Dia merasa tubuhnya seperti sedang dielus-elus oleh Sheela. Tanpa disadarinya, ada sesuatu yang menggeliat bangun di bawah sana. Apalagi ketika dia melihat pemandangan, dimana dua benda kenyal yang menempel di dada sheela, seakan merasa sesak di balik balutan kemeja hitam milik Sheela. Berkali-kali James meneguk ludahnya sendiri. Naluri kelaki-lakian James, sebagai laki-laki normal, mendorong James, untuk mengangkat dagu Sheela dan dengan perlahan menempelkan bibirnya ke bibir kenyal milik Sheela dan mulai me*lu*matnya dengan lembut.


Sheela yang mendapat serangan tiba-tiba dari James, tidak bergeming dengan netra yang membulat penuh. Dia tidak tahu mau berbuat apa, antara mau diam saja atau mau membalas. Bahkan washlap yang dia pegang dari tadi sudah terjatuh ke lantai tanpa disadarinya.


Sheela, berusaha membuka mulutnya untuk menyuruh James menghentikan aksinya, tapi itu justru membuat James semakin leluasa mengeksplor isi mulut Sheela. Lama-kelamaan Sheela sudah ikut terhanyut dengan permainan James. Perlahan-lahan dia mulai membalas permainan James, walaupun masih terasa sangat kaku, karena memang ini merupakan pengalaman pertamanya.


Ciuman mereka berlangsung cukup lama dan berhenti ketika James menyadari, kalau Sheela sudah mulai kesusahan bernafas.


Sheela langsung meraup oksigen kembali, ketika James melepas pagutannya. Wajah Sheela seketika memerah seperti kepiting yang baru saja dikeluarkan dari pemanas, malu menatap wajah James.Demikian juga James yang merasa malu, dengan tindakannya yang berani untuk mencium Sheela.


"Emm, m- maaf! apa kamu marah, karena aku sudah berani menciummu?" tanya James hati-hati.


Sheela menggelengkan kepalanya. " Aku ini sudah menjadi istrimu, jadi kamu punya hak untuk melakukan itu, walaupun kamu tidak mencintaiku." sahut Sheela dengan lirih.


"Bukannya tadi aku sudah berkata, kalau aku akan mencoba menerimamu dan mencoba untuk mencintaimu? jadi kamu jangan kamu pernah mengucapkan perkataan seperti itu lagi." tegas James.


"Apa aku terlihat seperti bercanda? aku tidak pernah bercanda dalam hal ini! tukas James dengan sangat tegas.


Sheela kembali menatap manik mata James, untuk mencari kebenaran pada ucapan James, dan dia kini melihat adanya keseriusan di manik mata itu.


"Terima kasih James! aku juga akan berusaha menjadi istri yang baik untukmu.Sekarang kamu bisa mengenakan pakaianmu,dan aku akan ke bawah untuk membuat makan malam untuk kita." Sheela nyaris berjalan meninggalkan James, tapi terhenti ketika james berucap. "Tidak usah Sheel! aku akan suruh Fred buat beli makanan saja buat kita.Atau kita delivery saja! " tukas James.


"Kalau begitu, aku mau ke kamarku dulu James, aku__"


"Mulai malam ini, tidak ada lagi kata, kamarku dan kamarmu.Sekarang yang ada kata kamar kita." ucap James tegas.


perkataan James membuat kedua manik mata Sheela menggenang seketika.Dia tidak pernah menyangka, kalau dia tidak perlu menunggu lama untuk dianggap sebagai seorang istri sebenarnya.


"Tapi James, aku kamarku dulu, hanya buat mandi dan berganti pakaian saja.Nanti aku akan kembali lagi ke sini."


"Oh, begitu? ya udah kamu pergi aja dulu ke sana! Besok semua barang-barang kamu, dipindahkan ke kamar ini." ucap James.


***********


Andrew memasuki sebuah restoran dimana dia mengadakan pertemuan dengan Gerald Papah angkatnya bersama dengan Steve.


Andrew melihat Steve melambaikan tangannya dari sebuah meja, yang disana sudah duduk seorang pria setengah baya.


Dengan jantung yang berdetak hebat, karena pertemuan pertamanya dengan sang papah angkat, Andrew melangkah mendekati meja tempat dimana Steve dan papah angkatnya berada.


" Hai, Aland, Papah merindukanmu nak!" Gerald berdiri dan menyapa terlebih dahulu sebelum Andrew menyapa seraya merentangkan tangannya hendak memeluk Andrew.


"Hai, Pah! aku juga merindukanmu!" Andrew membalas pelukan Gerald. Karena memang, dulu, selain Steve, Gerald juga selalu memperlakukannya dengan baik,walaupun dia melakukannya sembunyi-sembunyi di belakang mamah angkatnya.


"Papah tidak menyangka kalau ternyata Andrew yang sering papah lihat mendampingi Daven, adalah Aland yang sudah lama Papah dan Steve cari.


"Aku juga bingung, darimana Ka Steve bisa mengenaliku?"


"Sangat muda untuk mengenalimu.Aku melihat tanda lahir di belakang telingamu ini, makanya aku langsung mengenalimu." tukas Steve.


Setelah memesan makanan mereka masing-masing dan sambil menunggu pesanan, Andrew pun melontarkan pertanyaan yang benar-benar ingin dia tanyakan. Apalagi kalau bukan mengenai identitas orangtuannya sebenarnya.


"Apakah Papah punya photo yang menitipkan aku pada kalian Pah?"


"Sayangnya Papah tidak punya Land! Dan kebetulan dia juga tidak memberitahukan siapa dia sebenarnya."


"Oh begitu? apa Papah masih punya, bukti penerimaan uang yang selalu dia kirimkan? supaya aku bisa menyelidiki siapa pengirimnya dan darimana uang itu dikirimkan?" Tanya Andrew lagi.


"Hmm, kalau papah sih tidak punya! karena semua itu mamahmu yang urus.Tapi, nanti aku akan mencoba untuk mencarinya.


"Ok, Pah! terima kasih banyak!" sahut Andrew dengan senyuman yang tulus terbit di bibirnya.


"Satu hal lagi yang harus kamu tahu Land, kalau sebenarnya kamu punya kembaran perempuan."


Tbc


Jangan lupa buat like, vote dan komen. Thank you