
"Hentikan! Sekali saja tangan kamu menyentuh Alena, aku jamin kamu akan hidup tanpa tangan seumur hidupmu." teriak seseorang dari arah pintu masuk dengan mata yang berkilat-kilat penuh amarah.
Semua mata menoleh ke arah suara yang sedang berteriak itu. Mata semua sontak membesar , dengan mulut yang ternganga.
"D-Daven," gumam Alena dengan mata yang sudah dipenuhi dengan cairan bening yang siap ditumpahkan dari wadahnya.
Daven menatap Alena intens dengan sendu.Ingin dia segera membawa wanita yang selama ini membuat tidurnya tidak nyenyak. Tapi ini bukan saatnya.Dia harus mengurus James terlebih dahulu. Dia lalu kembali menghunuskan sorot mata yang sangat tajam dan sangat menakutkan ke arah James. Lalu perlahan mengayunkan langkahnya mendekat ke arah James.
James, membalas tatapan Daven dengan tajam sekaligus bingung, kenapa Daven bisa masuk ke dalam rumahnya, dan bahkan anak buahnya tidak ada yang menyusul masuk satupun.
"Hei, siapa yang mengundang mu masuk ke rumahku? Keluar kamu dari sini!. Kalau tidak, aku akan menyuruh anak buahku untuk membunuhmu di sini." James meninggikan suaranya membentak Daven.
Daven berdecih dan mendengus,mendengar bentakan sekaligus ancaman dari James. " Hahahaha." suara tawa Daven menggelegar memenuhi ruangan itu. " Kamu mau pangggil anak buahmu? coba saja panggil sekarang! aku mau lihat seberapa hebat anak buahmu."; ucap Daven degan seringaian sinis yang terbit di bibirnya.
"Pengawal!" teriak James. Tidak ada yang datang satupun. James kembali memanggil berulang kali, tetap saja tidak ada yang datang.
" Mereka tidak akan datang James, Sekeras apapun suaramu karena anak buahku sudah menangani mereka di luar. " cetus Daven tersenyum sinis.
James mengepalkan kedua tangannya , dengan wajah yang sudah memerah penuh amarah. Dia lalu menoleh ke arah Daven dengan tatapan yang sangat tajam. "Brengsek! " umpat James, seraya melayangkan pukulannya dua kali ke wajah Daven, yang sama sekali tidak ada persiapan untuk menghindari pukulan James. "Kenapa ,kamu lakukan ini semua hah?! Kamu tidak berhak mencampuri urusanku.KELUAR KAMU! " suara James menggelegar sembari menunjuk wajah Daven.
Sudut bibir Daven terlihat mengeluarkan darah karena kerasnya pukulan James. Tulang pipinya juga kini terlihat sudah membiru. Daven meludah, dan menghapus titik darah dari sudut bibirnya. Dia mendongkkakkan wajahnya dan meghunuskan tatapan tajam dan dingin ke arah James.
" Kamu mengatakan aku tidak boleh mencampuri urusanmu? Justru hal yang menyangkut Alena adalah urusanku. PAHAM?!"
suara Daven kembali menggelegar lebih hebat dari James, dengan tangan yang terkepal.
"Tuan Daven? anda Tuan Daven Kan? " tanya Hellena dengan raut muka yang bingung. "Apa hubungan anda dengan wanita ja*la*ng tidak tahu diri ini?" sambungnya dengan wajah bengis menatap Alena yang masih menatap? Daven dengan tatapan penuh kerinduan.
Tangan Daven sontak terayun dan mencengkram kuat dagu Hellena. " Apa yang kamu katakan? sekali lagi kamu mengatakan Alena wanita Ja*la*ng, aku akan merobek mulutmu ,hingga kamu tidak bisa berbicara lagi." ucap Daven, sembari menyentak kuat dagu Hellen yang sekarang terlihat sudah memerah. "Asal kamu tahu, wanita yang kamu panggil jalang itu adalah istriku." Tegas Daven.
Kedua netra, Hellena dan Jhon suaminya terbelalak karena terkesiap mendengar kenyataan yang baru saja dilontarkan oleh Daven. Bukan hanya Hellena dan Jhon yang kaget, Alena juga tak kalah kagetnya.Karena yang dia tahu, dia sudah bercerai dengan Daven.
James sontak menarik kerah kemeja Daven dan mencengkramnya sambil mendorongnya sampai ke tembok. " Kamu jangan sembarangan berbicara. Alena bukan istrimu lagi, kalau kamu lupa.Kalian sudah bercerai." ucap James dengan sorot mata yang berapi-api.
Hellena histeris dan menangis,melihat keadaan James yang mendapat pukulan dari Daven. Jhon Papahnya James menghampiri Daven hendak menyerang Daven.Dia mengayunkan kakinya untuk memberikan tendangan ke kepala Daven. Akan tetapi, sebelum tendangan itu mendarat di kepala Daven, tangan Daven, sudah terayun untuk menangkap kaki Jhon dan menyentaknya kuat,sehingga Jhon terjerambab jatuh ke lantai.
"Tuan Daven, tolong berhenti! Kalau kamu mau Alena kembali, bawa dia.Jangan kamu pukuli suami dan putraku lagi." Hellena tersungkur berlutut memohon kepada Daven
Alena yang dari tadi tidak bergeming dan serasa tidak percaya sama sekali, begitu mendengar kalau dia tidak pernah bercerai dengan Daven, tersentak tiba-tiba mendengar jeritan Hellena. Manik matanya langsung beralih menatap James yang wajahnya sudah babak belur. Dia menatap James dengan rasa kasihan, bagaimanapun laki-laki itu pernah mengisi hatinya, dan bahkan selalu membantunya.
"Ka Daven, lepaskan dia! nanti dia bisa mati, dan Kaka harus berhadapan dengan hukum," ucap Alena sedikit histeris.
"Dia memang pantas mati! Karena dia, putra ku hampir mati kedinginan dan kelaparan di jalanan." ucap Daven dengan suara yang masih meninggi sembari kembali melayangkan pukulannya ke wajah James dengan keras.
Alena tersentak kaget mendengar ucapan yang baru saja diucapkan oleh Daven. "Apa maksudmu putramu hampir mati?" tanya Alena bingung. "Apa Daven sudah menikah lagi? dan sudah memiliki putra dari wanita itu? Tapi kenapa dia mengatakan kalau dia tidak pernah bercerai denganku? Apa maksud semua ini? " batin Alena bertanya-tanya dengan kening yang berkerut
"Kamu tanyakan pada dia,apa yang telah dia lakukan pada Dean? Dia telah meninggalkan Dean di jalanan dengan cuaca yang sangat dingin dan kelaparan.Seandainya aku tidak menemukannya mungkin Dean sudah tidak bernyawa lagi." ucap Daven dengan nafas yang memburu.
"Jadi, Dean masih hidup? dia beneran belum meninggal?" tanya Alena mencengkram bahu Daven dan mengguncang-guncangnya.
"Memangnya siapa yang sudah mengatakan Dean meninggal? Dia?" Daven kembali menggeram dan menghampiri James hendak melayangkan pukulannya kembali.
"Tunggu! Jangan pukul dia lagi Ka!" teriak Alena. Kening Daven berkerut bingung, mendengar teriakan Alena yang mencegahnya untuk memukul James kembali. Sedangkan James terlihat tersenyum mendapat pembelaan dari Alena. Tapi senyum di bibirnya langsung memudar begitu melihat sorot mata Alena, yang gelap karena tertutup amarah, yang ditujukan padanya. Alena menghampiri James, " Biarkan kali ini aku yang melakukannya." Dengan cepat, Alena mengayunkan tangannya memukul wajah James dengan keras, hingga tangannya sendiri juga merasakan sakit.
"Aku benci kamu Tuan James! Kenapa kamu tega melakukan hal yang begitu kejam pada seorang anak kecil ? Apa kamu tidak ingat, dimana kamu menangis dan merasa ketakutan ketika kamu tidak bisa menemukan orangtua mu? Kamu tahu bagaimana rasanya kan? Tapi kenapa kamu tega, memberikan rasa yang sama pada putraku? " Tanya Alena dengan air mata yang sudah merembes membanjiri pipinya.
"Aku melakukannya, karena kamu tidak bisa mencintaiku karena hadirnya anak itu Alena! Aku jadi gelap mata, dan mengganggap dia jadi penghalang di antara kita.Aku takut dan tidak mau, kasih sayangmu akan lebih besar padanya dari pada ke anak-anak ku kelak, bila kita menikah nantinya.Maafkan aku Alena, aku melakukannya karena aku sangat mencintaimu dan tidak mau kehilanganmu." James berlutut memegang kaki Alena sembari menangis penuh penyesalan.
Alena menepis tangan James yang memegang kakinya dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Kamu salah,Ka James! Kamu tidak mencintaiku, kamu hanya terobsesi padaku.Cinta itu tidak egois, sedangkan ambisi itu egois. Cinta itu, akan merasa bahagia kalau melihat orang yang dicintainya bahagia, walaupun tidak bisa hidup bersama.Sekarang, aku mau pergi, dan aku tidak mau melihat wajahmu lagi.Terima kasih buat semua kebaikanmu selama ini." Alena melangkah pergi, meninggalkan James yang terduduk menyender di tembok sambil menangis terisak-isak.Kini dia menyesali keegoisannya yang menyebabkan dia kehilangan Alena untuk selamanya. Daven pun menyeringai sinis ke arah James,lalu dia menyusul Alena keluar dari ruangan itu.
Tbc
Jangan lupa, like, vote dan Komen ya gais.