Cinta Terhalang Janji

Cinta Terhalang Janji
Kita harus hadir Jenni!


"Kenapa dia bisa kabur?!" intonasi suara Jenni meninggi,begitu tahu kalau Clara berhasil kabur .


"Maaf,Nona! saya sudah lalai menjalankan tugas." penjaga itu menundukkan kepalanya, tidak berani menatap wajah Jenni.


Jenni, menghembuskan nafasnya dengan keras. Berharap hembusan nafasnya dapat sedikit meringankan bebannya.


"Ya udah! kamu keluar sekarang! aku mau sendiri dulu!" ucap Jenni lesu.


"Tapi, saya tidak dipecat kan Nona?" si penjaga bertanya-tanya dengan was-was.


"Tidak! aku tahu, ini bukan kesalahanmu, dan kamu juga terluka karena wanita itu. Jadi kamu gak usah khawatir," sahut Jenni sembari memijat kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing.


"Terima kasih Nona!" wajah penjaga itu kembali berbinar. Lalu dia mengayunkan langkahnya, untuk meninggalkan Jenni,yang wajahnya terlihat tidak bersemangat sama sekali.


Jenni tersentak kaget, tersadar dari lamunannya,ketika ponselnya berbunyi. Dia dengan sigap meraih ponselnya berharap itu dari Andrew.Ternyata apa yang dia harapkan tidak terjadi,justru nama yang tertera diponselnya itu Alena. Dengan wajah yang masam, dan setengah hati Jenni menjawab panggilan Alena.


"Iya, Alena, ada apa?" suara Jenni tidak bersemangat sama sekali.


"Hei, kenapa dengan suaramu? kamu sepertinya tidak semangat menjawab panggilanku?" dapat dipastikan kalau kening Alena, pasti berkerut di ujung sana.


"Clara berhasil kabur Alena. Aku yakin, dia pasti merencanakan hal gila lainnya, untuk menghancurkanku," sahut Jenni.


Terdengar desahan nafas dari mulut Alena di ujung sana. "Untuk saat ini, kamu bertenang dulu. Aku yakin,dia tidak akan berani berbuat macam-macam padamu dalam waktu dekat ini. Ka Andrew juga pasti bisa mengantisipasi semua itu." Alena berusaha menenangkan Jenni.


"Tapi, Alena, sampai sekarang, Ka Andrew pun belum kembali, dan ponselnya pun tidak bisa dihubungi. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana Al." Suara Jenni, kini sedikit terputus-putus karena sudah sesunggukan menangis.


"Jadi, Ka Andrew dari 3 hari yang lalu belum kembali juga? kok bisa jadi begini sih?"Alena berpura-pura kesal pada Andrew.


"Kamu yang sabar ya Jen! Oh ya Jen, daripada kamu sendirian di sana, bagaimana kalau kamu kerumahku saja.Tadi, Mommy ada belikan kita gaun yang indah. Katanya buat kita pakai nanti malam."


"Memang nanti malam ada acara apa?" Jenni menautkan kedua alisnya,walaupun Alena tidak melihatnya sama sekali.


"Loh, kamu gimana sih? nanti malam kan perayaan anivarsary mommy dan daddy yang ke 33.Jadi, kita semua harus menghadirinya.Kalau tidak Mommy bisa marah nanti." tukas Alena.


"Tapi, aku tidak bersemangat untuk hadir Alena." Jenni berusaha untuk menolak.


"kenapa tidak bersemangat? mana tahu,Ka Andrew juga hadir di sana.Jadi, kamu punya kesempatan untuk menjelaskan kesalahan pahaman kalian berdua.Aku yakin, kalau Ka Andrew pasti hadir, karena dia sangat menghormati Mommy Ellen." Alena kembali membujuk Jenni untuk ikut bersamanya.


Senyum Jenni mengembang,mendengar ucapan Alena.Dia benar-benar berharap,malam ini dia akan bertemu dengan suaminya Andrew.


"Baiklah! aku akan ke rumahmu sekarang! tapi aku harus jemput Jeslyn dulu dari sekolah." suara Jenni terdengar bersemangat.


"Tidak usah! kamu langsung ke sini saja! Tadi aku sudah suruh supir buat jemput mereka berdua." sambar Alena cepat.


"Oh, begitu? ya udah, aku berangkat ke sana sekarang!"


********


"Mamaah!" Jeslyn berlari ke arah Jenni yang baru saja turun dari mobil.


Jenni menyambut lompatan Jeslyn dengan sedikit terhuyung ke belakang. "Putri cantik mamah,udah makin berat sekarang ya?"Jenni menurunkan kembali Jeslyn dari gendongannya,lalu mengecup puncak kepala putrinya itu.Lalu dia mengajak putrinya itu, untuk masuk ke dalam rumah Daven.


"Mah, tadi Jeslyn ketemu Papah. Papah tadi ke sekolahan Jeslyn." ujar Jeslyn dengan wajah yang berbinar-binar.


"Papah sekolah Jeslyn?" Jeslyn menganggukan kepalanya membenarkan pertanyaan Jenni.


"Ups! Kok mulut Jeslyn jahat sih? padahal tadi Jeslyn udah janji, gak akan kasih tahu Mamah kalau Papah datang ke sekolah. Jeslyn sudah gagal jaga rahasia!" celetuk Jeslyn denga raut muka yang berubah sedih.


"Jeslynnn, kamu tidak salah sayang! justru Jeslyn gak boleh berbohong sama mamah. Berbohong itu tidak baik dan dosa. Jadi, Papah tadi bilang apa? ayo, jujur sama mamah!" Jenni berlutut di depan putrinya itu, dengan seulas senyuman yang tersemat di bibirnya.Jenni ingin mengorek informasi tentang Andrew lewat kepolosan Jeslyn.


"Hmm, jadi kalau Jeslyn,kasih tahu Mamah, Jeslyn tidak akan berdosa lagi?" tanya Jeslyn dengan polosnya sembari mengerjap-erjapkan matanya.


"Ho oh! "Jenni menganggukkan kepalanya


"Oh, Papah tadi bilang____"


" Eh, Jenni kamu sudah sampai? kenapa tidak langsung masuk?" Alena tiba-tiba muncul dari dalam dan menghentikan Jeslyn untuk bercerita.


"Udah Alena! baru saja!" sahut Jenni.


"Kalau begitu, ayo masuk! Alena menarik tangan Jenni masuk kedalam sembari mengerlingkan matanya, ke arah Jeslyn menyuruhnya pergi bermain.


"Nih, kamu coba dulu gaun kamu!" Alena memberikan gaun yang sangat indah ke tangan Jenni.


"Gaunnya,cantik sekali Al! serius, ini Mommy yang bagi, bukan kamu?" tanya Jenni takjub dengan mata yang berbinar-binar.


"Iya, serius Jenniiii! Mommy ingin kita tampil seperti pengantin nanti malam, karena ini,perayaan anivarsary Mommy dan Daddy."


"Hmm, gak usah deh! Ka Andrew kan tidak ada, jadi aku pakai gaun yang biasa saja." Jenni meletakkan kembali gaun yang indah itu ke atas kasur.


"Jen, harus berapa kali aku bilang, kamu harus berpikir positif dan yakin kalau Ka Andrew akan hadir malam ini.Lagian, apa kamu mau mengecewakan Mommy?" Alena berusaha memotivasi Jenni.


Jenni menghela nafasnya dan meraih kembali,gaun itu. Lalu dia masuk ke ruang ganti, dan membalutkan gaun itu ke tubuhnya. Gaun itu terlihat melekat dengan indah membalut tubuhnya dan sangat nyaman dia pakai.Kebetulan warnanya merupakan warna kesukaannya.


"Wow, kamu cantik sekali Jen! it's perfect !" Seru Alena sembari berdecak kagum.


"Kamu serius Al? tapi, kenapa kamu tidak mencoba gaunmu juga?" Jenni memiringkan sedikit kepalanya, sembari menyipitkan kedua matanya.


"Aku sudah mencobanya tadi Jen!" sahut Alena sambil mengembangkan senyumannya.


"Boleh aku melihatnya? apa gaunnya sama dengan gaun yang aku pakai?" Jenni kembali bertanya.


"Hmm, baiklah!" Alena melangkah ke arah lemari dan mengeluarkan gaun yang modelnya sama dengan milik Jenni, hanya beda di warna saja.


"Atau kamu tidak suka warna itu dan mau ganti dengan milikku?" tawar Alena.


"Tidak perlu Al. Aku suka dengan warna ini." Jenni menyambar ucapan Alena dengan cepat.


"Ya udah deh!" Alena kembali melangkah ke lemari, untuk menyimpan kembali gaunnya.


Tbc


Jangan lupa,like vote dan komen. Thank you.