
Mentari sudah kembali lagi datang menyapa. Sinarnya kini membias masuk melalu celah-celah gorden tipis berwarna putih itu. Sesuai dugaan Daven, jam sudah menunjukkan pukul delapan,tapi Alena terlihat masih betah bergelung di balik selimutnya.
Daven menggerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri untuk merenggangkan tubuhnya yang sedikit kaku. Setelah itu,dia beranjak turun dan langsung melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
Suara gemericik air dari dalam kamar mandi, akhirnya bisa menjadi alarm buat membangunkan Alena dari mimpinya.Secara perlahan kelopak matanya mulai bergerak-gerak dan detik kemudian matanya sudah benar-benar terbuka. Dia mengucek matanya sejenak,untuk menyesuaikan cahaya yang tertangkap oleh pupil matanya.
"Kamu sudah bangun sayang?" sapa Daven yang baru saja keluar dari kamar mandi, yang terbalut dengan hanya seutas handuk di pinggangnya.
"Hmm." Alena menjawab dengan malas.
"Kalau begitu kamu mandi dulu sayang! soalnya kita harus ke rumah Mommy dulu buat nitip Dean." Daven berbicara tanpa melihat Alena,karena dia sibuk membalutkan pakaiannya pada tubuhnya.
"Aku malas mandi! aku cuci muka aja ya?"Alena masih tetap di posisi yang sama,yaitu di atas ranjang sambil bersila dengan rambut yang masih berantakan.
"Sayang, kamu harus mandi! tidak boleh tidak!" suara Daven terdengar lembut,tapi terselip ketegasan yang tidak boleh terbantahkan di dalam ucapannya.
"Iya, iya, aku mandi!" Alena beranjak turun dari kasur dan masuk ke kamar mandi dengan bibir yang mengerucut.
Selang 40 menit kini keduanya sudah berada di dalam mobil dengan membawa Dean untuk dititipkan sementara di rumah utama.
"Mom, kenapa Dean tidak boleh ikut?" wajah Dean, ditekuk karena tidak bisa ikut bersama kedua orangtuannya.
"Maaf,Sayang! Dean kan harus sekolah. Kapan-kapan kita akan liburan kesana ya Sayang!" Alena menghibur putranya. Sebenarnya dia ingin membawa Dean bersama,tapi Daven melarang karena kalau Dean ikut,bukan Babymoon namanya,tapi jadi baby sitter moon.
"Benar Mom?" manik mata Dean sudah kembali berbinar, merasa senang mendengar ucapan Alena.
"Benar sayang! iya kan Dad?" Alena meminta pendapat dari suaminya yang sedang fokus mengemudi. Daven tersenyum dari balik kaca spion dan membenarkan ucapan Alena.
Tidak sampai 20 menit, mereka kini sudah tiba rumah utama. Begitu Dean turun dari mobil,dia langsung berlari masuk ke dalam rumah untuk menemui kakek dan neneknya..
" Mom, Dad, kami titip Dean di sini sementara ya! maaf kalau kami merepotkan Mommy! ucap Daven setelah mereka sudah ada di dalam rumah.
"Titip di sini seterusnya juga gak papa.Soalnya mommy suka kesepian di rumah." Ellen memebelai rambut Dean yang kini sudah berdiri di sebelahnya.
"Kalau begitu, kami pamit dulu ya Mom! takutnya nanti kami ketinggalan pesawat."
"Lho bukannya kalian bilang kalau kalian akan berangkat siang?" Harold buka suara.
"Pesawatnya jam 11 Dad! Sekarang sudah hampir jam setengah sepuluh.Daddy tahu sendiri berapa lama dari sini ke bandara."sahut Daven sambil melihat jam di pergelangan tangannya.
"Ya,udah kalian berangkat saja sekarang!"
"Iya Mom!" Kali ini Alena yang buka suara.
Setelah memberikan sedikit nasehat dan pesan buat Dean, kini Daven dan Alena mengayunkan langkahnya untuk menuju keluar. Kali ini Daven tidak mengemudi sendiri, tapi dia memerintahkan supir daddynya,untuk mengantarkan mereka ke bandara.
Baru saja mobil yang membawa mereka keluar dari area rumah utama keluarga Murpy, ada mobil lain yang masuk ke area rumah itu yang membawa Jeslyn di dalamnya.
...----------------...
Daven dan Alena segera turun dari dalam mobil, karena mereka sudah tiba di Dublin airport. Daven menggeret koper milik mereka berdua sembari mengandeng tangan Alena, menuju tempat Check in dan memperoleh boarding pass.
Setelah selesai dengan semua persyaratan, mereka berdua kini duduk di kursi ruang tunggu, menunggu pengumuman kalau mereka sudah bisa masuk ke dalam pesawat yang akan membawa mereka ke Bali.
Ekor mata Daven melihat wajah Alena yang terlihat sangat bahagia,karena tidak sabar bisa menginjakkan kakinya di Bali. Tempat yang selalu dia impikan.
"Hai Alena! bisa aku duduk di sini?" sebuah suara, yang sangat dikenalnya tiba-tiba langsung duduk di sampingnya, padahal Alena belum mengizinkan sama sekali.
"J-Jenni? kalian sedang apa di sini?" Alena menatap bingung Jenni dan Andrew dengan alis yang bertaut tajam.
"Mau babymoon lah! emang cuma kamu saja yang bisa pergi?" ujar Jenni cuek sembari mengunyah cemilan yang dari tadi ada di tangannya.
"Jangan bilang kalau kalian juga punya tujuan yang sama dengan kami?" Alena menyipikan matanya,menyelidik.
"Jadi, gimana dengan Jeslyn?" Alena kembali bertanya, setelah keheningan sempat terjeda beberapa saat.
"Dia di rumah Mommy dan Daddy. Karena Papah dan Mamah langsung pulang ke Canada tadi pagi." Kali ini Andrew yang menjawab,karena mulut Jenni penuh dengan makanannya,jadi tidak memungkinkan untuk menjawab.
"Kenapa kalian berdua memilih Bali juga?" kali ini Daven yang bersuara.
"Karena Alena mau ke Bali, jadi aku juga mau ke Bali." Jenni menyahut, tanpa berhenti mengunyah.
Alena berdecak, dan mendengus mendengar alasan yang cukup absurd yang baru saja keluar dari mulut Jenni.
"Aku jadi menyesal menceritakan ke kamu!" Alena mencebikkan bibirnya.
Jenni hanya terkekeh melihat kekesalan Alena.
Jangan lupakan Andrew dan Daven yang hanya menggeleng-gelengkan kepala, melihat tingkah istri masing-masing.
Ke empat orang itu,berdiri dan beranjak untuk masuk ke dalam pesawat setelah mendengar pengumuman dari pengeras suara.
Tanpa mereka sadari ada sepasang insan yang dari tadi sembunyi pada jarak 4 kursi di belakang kursi Alena dan Daven.
...----------------...
Setelah menempuh penerbangan yang cukup lama sekitar 22 jam lebih, akhirnya pesawat mereka mendarat di bandara internasional Ngurah Rai. Jenni dan Alena berjalan bergandengan tangan, sedangkan Andrew dan Daven kebagian menarik koper mereka masing-masing.
Mereka kini sudah ada di luar menunggu jemputan yang akan membawa mereka ke sebuah Villa mewah bernama Ayana Resort di daerah Jimbaran,yang sudah di booking sebelumnya oleh Daven.Vilaa yang memiliki fasilitas penginapan kelas dunia seperti Rock Bar yang dibangun di atas tebing tinggi,yang berlatarkan pantai kubu.
"Hei, tunggu! bukannya itu Carlos dan Cathleen?" Jari telunjuk Jenni menunjuk ke arah sepasang insan yang bergandengan tangan dengan mesra keluar dari gate yang sama dengan mereka.
Daven sontak, melihat ke arah yang ditunjuk oleh Jenni. Dengan geram dia berjalan menuju ke arah Carlos, di susul oleh Alena, Jenni dan Andrew di belakangnya.
"Ehem, ehem! bukannya aku menyuruhmu untum mengurus perusahaan? kenapa kamu bisa ada di sini?" Daven berusaha menekan intonasi suaranya,dari arah belakang Carlos dan Cathleen.
Kedua mata Carlos membesar,begitu mengenali suara yang baru saja berbicara padanya. Dengan memasang ekspresi seperti tidak ada masalah, dan senyuman yang dipaksakan, Carlos memutar badannya, untuk bisa melihat Daven, yang kini sudah menatapnya dengan sorot mata yang sangat tajam.
"Hei, Ka, jangan menatap seperti itu, kamu menakuti istriku!" Carlos menarik tangan Cathleen dan merangkul pundaknya.
"Kamu belum jawab,kenapa kamu bisa ada di sini?"
"Ya , aku mau bulan madulah Ka!" Carlos menjawab dengan sangat santai hingga membuat Daven geram.
"Carlos! jadi siapa yang mengurus perusahaan?"Daven terlihat frustasi sekarang.
"Aku sudah minta tolong Daddy untuk mengurusnya Ka, dibantu sama Steve."
Daven menarik nafasnya dalam-dalam dan mengembuskannya ke udara dengan sekali hentakan.
"Ya udah,kemana tujuanmu sekarang?" tanya Daven, pasrah.Karena tidak mungkin juga dia menyuruh Carlos kembali ke Irlandia sekarang, kasihan Cathleen kalau begitu.
"ke villa Paradise Loft Ka."
"Kalian ikut kami saja! kalian batalkan saja ke sana. Tapi ingat, kalian harus tetap bayar pelunasannya." Titah Daven sembari mengayunkan langkah menuju mobil yang ternyata sudah datang menjemput mereka.
Tbc.
Udah hari Senin aja nih, kalau boleh author mau minta, voucher vote rekomendasi di kasihin ke Karya ini dong,sekalian aku juga mau minta Like, dan komennya.Thank you