
"Mom, Dad, sepertinya aku dan Andrew akan ke London, untuk waktu yang aku tidak tahu sampai kapan. Soalnya perusahaan kita di sana lagi bermasalah, dan sepertinya tidak bisa diselesaikan dalam waktu satu atau dua hari! " ucap Daven disela-sela makan malam bersama kedua orangtuanya itu.
"Apakah masalahnya sangat berat, sehingga memerlukan waktu yang lama untuk menyelesaikannya Dave? " Harold, menatap putranya dengan tatapan penasaran.
"Iya, Dad! " sahut Daven sambil memasukkan suapan terakhir ke dalam mulutnya.
"Kenapa kamu tidak meminta Paman Erland aja untuk membantu mu menyelesaikannya di sana? Jadi, kamu tidak perlu susah- susah untuk pergi ke sana." Harold memberikan saran agar Daven putranya meminta bantuan Pamannya, yang merupakan Kakak laki-laki Ellen istrinya. Yang kebetulan memang berdomisili di London untuk mengurus perusahaan keluarga dari istrinya itu.
"Pah, Paman Erland juga pasti punya segudang kesibukan. Jadi, rasanya tidak etis kalau aku meminta bantuan padanya.Lagian aku harus turun tangan untuk menangani kasus ini" sahut Daven seraya menyenderkan tubuhnya ke sandaran kursi makan itu.
"Baiklah, kalau memang itu yang terbaik!. Tapi apakah Andrew harus ikut? kan kasihan Jenni dan putrinya kalau ditinggal lama-lama "
"Hmmm, tapi aku memang sangat membutuhkan Andrew juga di sana Dad! Karena untuk saat ini aku belum menemukan orang secerdas dan secekatan seperti Andrew!"
"Bagaimana kalau kita juga ikut ke London Sayang? Jadi Jenni dan putrinya juga bisa ikut ke sana! Kebetulan aku juga sangat merindukan Kak Erland dan Kakak ipar " Ellen menimpali pembicaraan suami dan putranya dengan memberikan saran.
Harold tampak diam sambil menimbang-nimbang saran yang baru saja dilontarkan oleh istrinya itu.
"Hmm, boleh deh! ucap Harold memutuskan untuk menerima saran istrinya itu.
Setelah Ellen mendapat persetujuan dari suaminya Harold, Ellen mengalihkan tatapannya ke arah Daven putranya
"Jadi, kapan kita akan berangkat ke sana sayang?" tanya Mommy Ellen pada putranya itu.
"Besok Mom!"
"Oh, begitu! Ya udah Mommy ke atas dulu! Mommy mau menyiapkan barang-barang yang perlu dibawa kesana " Mommy Ellen berdiri dari kursinya dan beranjak meninggalkan suami dan anaknya itu.
" Ya udah, sekarang kamu hubungi Andrew aja, suruh dia membawa istri dan putrinya juga! Daddy mau telpon madam Brenda, agar membersihkan rumah kita yang disana dan mempersiapkan segala sesuatunya " ujar Harold seraya beranjak meninggalkan Daven untuk mengambil ponselnya di kamar.
Setelah kepergian Daddynya, Daven pun berdiri dan mengayunkan langkahnya menuju kamarnya sendiri. Dia meraih ponselnya dari atas nakas dan detik berikutnya, dia pun melakukan panggilan dengan Andrew.
"Ndrew, kamu besok ajak Jenni dan Anneth untuk ikut juga ke London. Karena kemungkinan kita tidak akan bisa menyelesaikan masalah disana dengan waktu 1 atau dua hari. Kasihan kalau kamu meninggalkan mereka terlalu lama! " ucap Daven.
"Tapi dimana mereka akan tinggal Tuan?" sahut Andrew dari balik telepon.
"Kalian boleh tinggal di rumah kami yang ada di sana! Kebetulan Mommy dan Daddy juga bakal ikut ke sana." tutur Daven .
"Baiklah, kalau begitu Tuan! Andrew menyanggupi saran Daven dengan hati yang senang. " Yes, berarti aku tidak perlu berpuasa lama-lama" sorak Andrew dalam hatinya.
Andrew pun meletakkan kembali ponselnya ke atas meja lagi, setelah Daven memutuskan panggilanya. Dia pun mengayunkan langkahnya untuk mencari keberadaan Jenni yang pasti sekarang lagi di kamar putri mereka Jeslyn
Semakin dekat dengan kamar Jeslyn, Andrew dapat mendengar suara sumbang istrinya, yang sedang bernyanyi bersama sang putri. Walaupun suara Jenni sumbang mendekati ke hancur, entah kenapa , putri mereka tetap suka mendengar Mamahnya itu menyanyi.
Andrew membuka pintu kamar putrinya perlahan. Suara decitan pintu yang terbuka, mampu mengalihkan pandangan kedua orang yang sangat dicintai oleh Andrew itu.Jenni hanya menoleh ke arah kedatangan Andrew sekilas. Setelah itu dia melengos, mengalihkan pandangannya kembali ke arah putrinya. Dia malas untuk menyapa suaminya itu, karena mereka seperti biasa,Jenni menuntut ungkapan cinta dari Andrew, tapi seperti biasa juga, Andrew selalu menghindar, jika diminta untuk mengungkapkan rasa cintanya.
"Papaahhh" Jeslyn bangun dari tempat tidurnya dan berlari untuk memeluk Andrew.
"Aduh, putri Papah yang cantik ini kok belum tidur sih? kok betah amat dengar suara sumbang Mamah? " tanya Andrew tersenyum seraya melirik Jenni yang mencebikkan bibirnya. Lalu dia menggendong tubuh kecil putrinya itu kembali ke atas ranjang.
" Pah, suara Mamah itu lumayan bagus kok! kenapa Papah bilang sumbang? " tanya Jeslyn sambil memiringkan kepalanya dan mengedip-ngedipkan matanya, sehingga Jeslyn kini tampak menggemaskan. Sedangkan Jenny tampak menjulurkan lidahnya ke arah Andrew.
"Iya, iya deh. Suara Mamah kamu bagus. Kapan-kapan kita ke dokter THT ya sayang! biar kita periksa telinga dulu! " ucapan Andrew, kali ini bukan mendapat juluran lidah lagi, tapi lemparan bantal dari Jenni.
Andrew menghela nafasnya, setelah puas tertawa. "Oh ya Jen, besok kalian ikut ke London bersama ku! Soalnya banyak hal yang harus diselesaikan di sana. Jadi mungkin akan membutuhkan waktu yang lama" ucap Andrew.
Jenny yang sudah tidak ngambek lagi, langsung menatap suaminya dengan mata yang berbinar-binar. " Kamu serius? apakah ini juga bisa dinamakan bulan madu kita?" Jenni bertanya dengan antusias.
Andrew menghembuskan nafasnya dengan cepat, merasa sakit di hatinya,karena semenjak menikah, dia sama sekali belum pernah mengajak Jenni untuk berbulan madu, akibat dari masalah Daven dulu.
"Sebenarnya sih tidak! Tapi selama di sana, aku akan meluangkan waktuku untuk membawa kalian berdua jalan-jalan! Andrew berucap dengan seulas senyuman yang tersemat di bibirnya.
"Apa itu bulan madu,Pah? apa itu jenis bulan juga?Jeslyn pernah dengar dan lihat, bulan purnama dan bulan sabit.Kalau bulan madu itu bentuk seperti apa,Pah? celetuk Jeslyn tiba-tiba.
Andrew dan Jenni sontak saling menatap.Mereka bingung bagaimana menjelaskan pada putri mereka yang walaupun masih kecil, tapi sangat kritis dalam bertanya.
Andrew ingin menjawab sebisanya. Tapi dia mengurungkannya, ketika Jeslyn berteriak
"Tunggu dulu! aku tahu bentuk bulan madu itu,Pah" Jeslyn berdiri dan beranjak mengambil kertas dan pensil.Setelah itu dia terlihat sedang serius menggambar di atas kertas itu.
"Gini kan bentuknya,Pah? tanya Jeslyn seraya menunjukkan hasil gambarannya ke arah Papah dan Mamahnya.
Andrew hampis saja meledakkan tawanya melihat hasil gambaran Jeslyn yang menggambar bulan dengan membuat lubang-lubang seperti sarang lebah di atas gambarannya itu. Tapi hunusan mata dari Jenni menyurutkan rasa ingin tertawanya itu.
"Hmm, kurang lebih ya seperti itu Sayang! putri Mamah ini pintar deh! Jenni mengecup pucuk kepala Jeslyn dengan penuh sayang.Jeslyn tampak tersenyum bangga dengan pujian Mamahnya.
"Apakah di London kita bisa melihat menara eiffel, Pah? " tanya Jeslyn yang wajahnya tampak berbinar bahagia.
"Menara eiffel itu di Paris Prancis sayang! Di London ,kamu bisa melihat patung Liberty dan banyak tempat wisata lain yang indah! " ucap Andrew sambil mengusap kepala putrinya itu.
"Pah, kenapa Jeslyn, Papah panggil sayang, tapi Mamah dipanggil Jenni? tanya Jeslyn tiba-tiba, hingga membuat Andrew merasa ada sesuatu yang tercekat di tenggorokannya,hingga dia merasa susah untuk meneguk ludahnya sendiri.
Jenni, mengalihkan pandangnya ke arah lain ,berusaha untuk menahan senyumannya.
"Kan Mamah namanya memang Jenni,sayang?" sahut Andrew, berharap jawabannya bisa membuat Jeslyn merasa puas dan tidak bertanya lagi.
"Aku juga namanya Jeslyn,tapi kok di panggil sayang? " tanya Jeslyn lagi.
"Itu karena, Papah sayang sama Jeslyn, makanya Papah manggil sayang sama Jeslyn"
"Berarti Papah gak sayang sama Mamah ya, makanya Mamah gak dipanggil sayang? pertanyaan Jeslyn kali ini benar-benar membuat Andrew kehabisan kata-kata.
"Rasain kamu, jawab tuh anak kamu! " batin Jenni merasa senang.
"Ya udah, bertanya nya kapan-kapan lagi ya sayang.Sekarang Papah akan bacakan buku cerita buat kamu.Setelah itu kamu tidur, biar besok bisa bangun cepat, agar kita gak telat berangkat ke Londonnya" Andrew berusaha mengalihkan perhatian Jeslyn agar tidak banyak bertanya lagi.
"Cih, bisa aja mengalihkan pertanyaan! " Jenni membatin dengan mencebikkan bibirnya.
Andrew menarik ekor matanya melirik ke arah Jenni yang cemberut. Sudut bibirnya pun tertarik membentuk suatu senyuman melihat wajah istrinya yang sedang cemberut sekarang.
Tbc
Jangan lupa dukungannya gais.Please like,vote,rate dan komen. Thank you