
Tubuh James tersungkur di depan Dean dengan menerbitkan senyuman dibibirnya.
"Maafkan Paman yang dulu, Dean! hanya ini yang bisa Paman perbuat." James terkulai jatuh dengan mata terpejam.
"Pamaan! bangun paman, bangun!" Dean histeris sembari mengguncang-guncang tubuh James.
"Apa yang kalian lakukan? hah?!" bentak Carlos yang tiba-tiba sudah muncul dengan sorot mata yang sudah memerah dan rahang yang mengeras.
Carlos segera menghampiri tubuh James yang tergeletak.Lalu dia meraba pergelangan tangan James, untuk memastikan apakah James masih bernyawa atau tidak.
"Dia masih bernyawa. Kalian semua bawa dia segera ke rumah sakit. Lekas!" Carlos kembali berteriak, sehingga semua anak buahnya ketakutan, tak terkecuali dengan Clara.
Mereka dengan sigap membawa James ke rumah sakit.
Carlos memeluk Dean yang kini sudah menangis dan histeris memanggil-manggil James. Jeslyn juga terlihat histeris menangis, melihat Cathleen yang seketika jatuh pingsan, melihat peristiwa yang ada di depannya.
"Kalian urus mereka!" Carlos memerintahkan anak buahnya yang lain, untuk membawa Cathleen ke tempat lain bersama Jeslyn.
Carlos berdiri, dan menatap pria berkepala plontos dengan sorot mata yang sangat tajam.
"Siapa yang menyuruh kamu melakukan ini Hah?!" Carlos melayangkan pukulannya ke wajah pria berkepala plontos itu dengan sangat keras.
"M-maaf Tuan! Nona Clara bilang, kalau ini perintah dari anda. Dia bilang kalau anda memerintahkan untuk menghabisi mereka semua." Carlos segera menatap Clara, dengan sorot mata penuh amarah yang meluap-luap.Tidak ada lagi tatapan yang memuja, seperti yang ditujukkannya sebelumnya.
"Sejak kapan aku memerintahkan hal itu,Nona Clara?Hah?" bentak Carlos dengan sangat keras, sehingga membuat Clara beringsut mundur ketakutan.
"A-aku hanya berniat menyenangkanmu, Sayang!" ucap Clara gemetar.
"Stop, manggil aku sayang! aku merasa jijik mendengarnya." Carlos, lagi-lagi membentak Clara.
"M-maksudmu apa? b-bukannya kamu c-calon suamiku? A-aku kira kamu akan merasa senang, kalau aku sudah berhasil menyingkirkan putra musuhmu itu, sebelum kamu datang. Makanya aku berinisiatif menyuruhnya untuk melenyapkan putra Daven.
Carlos mendorong Clara, hingga tubuh Clara membentur tembok dan mencengkram pipi Clara dengan sangat kuat, sehingga Clara meringis kesakitan.
"Dengar, kamu itu bukan calon istriku, dan aku tidak sudi menikah dengan wanita murahan seperti kamu." Carlos menyentak kuat tangannya dari pipi Clara. " Bawa wanita Ja*la*ng ini dari hadapanku, dan terserah kalian mau melakukan apapun padanya.Dan satu hal lagi, jangan biarkan dia hidup!" perintah Carlos dengan sangat tegas.
"T-tidak, sayang! k-kamu jangan begitu padaku, aku sudah membantumu." Clara meronta melepaskan diri dari cekalan tangan dua orang anak buah Carlos.
"Membantu apa? kamu tidak membantu apa-apa. Apa kamu kira aku tidak tahu kalau kamu gagal menggoda para bodyguard itu? dan asal kamu tahu, kamu tidak membantu sama sekali,kamu justru hampir membuat nyawa orang melayang. Seandainya tadi peluru itu, benar-benar mengenai anak ini, aku tidak akan segan-segan membunuhmu sekarang dan kamu juga!" Carlos menunjuk ke wajah pria berkepala plontos itu, yang sudah menunduk, tidak berani menatap Carlos.
"Singkirkan wanita ular ini dari depanku,cepaat!" Tegas Carlos tak terbantahkan.
Dua orang yang mencekal tangan Clara, dengan sigap, menarik paksa Clara,membawa wanita itu jauh, dengan seringaian licik di bibir mereka masing-masing,membayangkan hal yang akan mereka lakukan terlebih dulu sebelum akhirnya menghabisi nyawa Clara nantinya.
"Dan kamu, siapkan anak buahmu semuanya! kita berkumpul di sini sebentar lagi. Ada hal penting yang harus aku sampaikan pada kalian semua. Suruh juga anak buahmu untuk memberikan makanan dan minuman buat anak ini, serta anak dan wanita yang pingsan tadi, Lekas!" pria plontos itu langsung sigap melaksanakan apa yang baru saja diperintahkan oleh Carlos.
Carlos lalu menghampiri Dean yang masih terlihat Shock dengan tertembaknya James di depan matanya.
"Dean, kamu yang tenang ya! paman tadi tidak akan kenapa-napa!" Carlos mencoba menenangkan Dean, walaupun dia kurang yakin, kalau James masih bisa bertahan atau tidak.
"Mari, mendekatlah! paman bukan orang jahat." Carlos mengulurkan tangannya, menggapai Dean yang terlihat ketakutan padanya. Carlos seketika merasa ingin memeluk Dean erat-erat, untuk memberikan kenyamanan pada bocah berusia 4 tahun itu.
Dean tidak sepenuhnya percaya pada Carlos,karena dia melihat kalau orang-orang yang telah menculik mereka adalah anak buahnya. Akan tetapi, entah kenapa, ada rasa nyaman ketika Dean menatap tatapan tulus dari Carlos. Dean seperti melihat tatapan Daven daddynya ada pada tatapan Carlos. Dengan tangan gemetar, dia menyambut tangan Carlos yang terulur padanya.
Carlos, memeluk Dean dengan erat dan menggendong Dean, ke ruangan dimana Jeslyn dan Cathleen berada.
"Dean, kamu di sini aja dulu ya! jangan keluar dari ruangan ini, Ok!" Carlos lalu, mengalihkan tatapannya pada Cathleen yang sudah siuman dari pingsannya.
"Nona, kamu jaga mereka berdua! Jangan pernah mencoba untuk keluar dari ruangan ini!" perintah Carlos yang terkesan mengancam.
Carlos, mengayunkan langkahnya, keluar dari ruangan itu dan menutup pintu serta menguncinya dari luar.
Lalu dia mengumpulkan semua, anak buahnya dan memberikan mereka intruksi, tentang apa yang akan merema lakukan selanjutnya.
"Dengar, kalian harus benar-benar melakukan intruksi yang baru saja aku berikan! aku tidak mau sampai gagal lagi. Mungkin sebentar lagi, Daven dan yang lainnya akan tiba disini. Jadi, kalian harus benar-benar mempersiapkan jebakannya secepat mungkin. Mengerti!" suara Carlos terdengar tegas dan menggelegar memenuhi ruangan itu.Di sudut bibirnya terbit sebuah seringaian licik dan senyum sinis menghiasi bibirnya.
"Mengerti, Tuan!" sahut semua anak buahnya kompak.
********
" Mommy, Daddy, kenapa kalian berdua bisa ada di sini?" Daven bertanya sembari memicingkan kedua matanya ke arah orangtuanya. Dia merasa bingung, ketika tadi melihat mobil orangtuanya melaju dengan kencang, melewati mobilnya. Mereka menghentikan mobil mereka di jarak yang tidak terlalu dekat dengan gedung, yang dapat dipastikan tempat dimana Dean dan Jeslyn disekap.
"Kami khawatir sayang! tadi ada orang yang menelepon ke rumah. Si penelepon itu,mengatakan kalau Dean dan Jeslyn dia culik. Si penelepon itu menyuruh Daddy dan Mommy untuk datang ke tempat ini,kalau tidak mereka akan menghabisi Dean dan Jeslyn." wajah Ellen terlihat sangat panik.Pipinya kini sudah basah oleh air mata, yang sudah merembes dari tadi.
"Apa peneleponnya seorang perempuan Mom?" tanya Andrew yang ingin memastikan kalau tebakanya benar.
"Bukan Ndrew! dia seorang pria." kali ini Harord yang menjawab.
"Pria? sepertinya tebakanku benar, ada dalang di balik ini semua. Tapi siapa dia? apa alasan dia melakukan ini semua?" guman Andrew.
"Mom, kalian tidak memberitahukan Alena dan Jenni kan, kalau anak kami diculik? tanya Daven. "Kami tidak mau mereka panik Mom?" sambungnya lagi.
"Tidak sayang!" Mommy dan Daddy langsung datang ke sini tadi. Kami tidak berpikir untuk mengabari Alena dan Jenni."
"Syukurlah!" Daven terlihat lega.
"Kalian semua berjaga-jaga, jangan sampai ada yang ketahuan!" perintah Daven pada semua anak buahnya.
"Ndrew, apa kamu sudah mendapat kabar dari James?"
"Ponselnya sama sekali tidak bisa dihubungi, Tuan." Andrew menyahuti Daven dengan raut wajah yang sukar untuk dibaca.
"Apa ini, akal-akalan James Tuan?" Andrew akhirnya mengungkapkan kecurigaannya.
Tbc
Jangan lupa like, vote dan komen.Thank you