
Sudah 3 bulan sejak, kepergian Alena dari rumah. Hidup Daven sekarang cukup memprihatikan. Makanan sangat jarang masuk ke dalam perutnya, sehingga badannya terlihat kurus sekarang. Bulu-bulu halus juga sudah mulai memenuhi pipi Daven. Dia sekarang seperti mayat hidup berjalan.
Harold dan Ellen sangat sedih melihat keadaan putranya yang sangat menyedihkan. Mereka sudah berulang kali memberikan semangat kepada Daven, tapi satupun tidak ada yang berhasil. Daven juga sudah sangat jarang mengurus perusahaan. Harold yang seharusnya sudah saatnya ber-istirahat, di masa tuanya bersama Ellen istrinya, kini harus kembali turun tangan,mengurus perusahaan menggantikan Daven putranya. Beruntungnya, Andrew sangat bisa diandalkan untuk menjalankan roda perusahaan.
Karena ke alpaan Daven di perusahaan, membuat Andrew semakin dekat dengan Jenni.Andrew dan Jenni sekarang, hampir tiap hari harus pergi berdua untuk bertemu dengan client di luar. Seperti saat ini, mereka saat ini baru saja selesai melakukan pertemuan dengan client besar. Dan mereka berniat untuk makan siang dulu sebelum kembali ke kantor.
"Tuan, aku pamit ke toilet sebentar ya!"Jenni berdiri, lalu beranjak pergi setelah Andrew menganggukkan kepalanya.
Andrew memainkan ponselnya,sambil menunggu Jenni kembali dari toilet. Tiba-tiba sebuah suara, yang selama ini membuat dia menutup diri terhadap wanita,tertangkap oleh telinganya.
"Hai, Tuan Andrew! Bagaimana kabar anda?" sapa wanita yang ternyata Clara, mantan sekretaris, sekaligus wanita yang dulu pernah singgah di hati Andrew.
"Oh, hai! seperti yang kamu lihat ,aku baik-baik saja Nona Clara." sahut Andrew tanpa senyum di wajahnya,bahkan sangat terkesan dingin.
"Apa, kamu tidak mau menanyakan kabarku Andrew? " tanya Clara kembali,tanpa menggunakan embel-embel kata Tuan pada ucapannya.
"Untuk apa aku menanyakannya? Karena hanya dengan melihat saja, aku tahu kalau kamu baik-baik saja.Kalau kamu sakit kan gak mungkin ada di sini " sahut Andrew sedikit menyindir.
"Hmmm, orang yang fisiknya terlihat baik-baik saja, belum tentu hatinya juga baik-baik saja Drew! seperti aku, fisik ku terlihat baik, tapi hatiku tidak! "
"Oh" Andrew hanya manggut-manggut mendengar ucapan Clara.
"Kamu tidak mau tahu,kenapa hatiku bisa sakit Ndrew? " Clara bertanya dengan pandangan yang merasa heran melihat sikap Andrew yang acuh tak acuh.
"Buat apa? itu kan bukan urusanku!" ucap Andrew eksplisit.
Wajah Clara kini sudah mulai terlihat memerah,melihat tanggapan Andrew yang seakan tidak perduli dengan dirinya lagi.
"Hmm, Andrew kenapa ya? apakah dia tidak menyukaiku lagi? akh gak mungkin! Dia pasti masih sangat mencintaiku.Sepertinya dia masih sakit hati karna aku lebih memilih Steve daripada dia waktu itu! Kalau aku rayu dia dengan kata-kata manisku,dia pasti takkan bisa menolak pesona ku" Clara membatin dengan seringaian tipis yang terbit di sudut bibirnya.
"Ndrew, sekarang aku sudah pisah dengan Steve! ternyata dia selama ini hanya memanfaatkan ku, untuk membalas dendam pada mantan kekasihnya,yang tiba-tiba memutuskan hubungan karena laki-laki lain.Dan selama ini, ternyata mereka kembali menjalin hubungan lagi di belakangku.Nama perempuan itu Brianna. Kamu ingat kan dia? wanita yang dulu datang ke kantor Tuan Daven dan mengaku sebagai calon istrinya? "Clara bercerita tanpa diminta oleh Andrew,berharap Andrew bersimpati padanya. Tetapi Andrew diam saja tidak menanggapi sama sekali.
Clara tidak mau menyerah. Walaupun Andrew tidak bereaksi sedikitpun mendengar kisahnya, diapun mulai mengeluarkan air matanya, berharap Andrew akan memeluknya untuk menenangkannya.Akan tetapi,yang dia harapkan tidak terjadi sama sekali.Andrew tetap saja tidak berreaksi. "Kamu tahu Ndrew, sekarang si Steve itu sudah bangkrut, karena dia terlalu memanjakan si Ja**la**ng Brianna itu! Biar dia tahu rasa! " Kedua manik mata Clara terlihat berkilat-kilat senang,saat menceritakan kebangkrutan Steve mantan suaminya.
Raut wajah Clara sekarang berubah warna merasa malu dengan ucapan Andrew. " Emm, aku cuma mau minta maaf padamua, Ndrew! Dan aku tahu, kalau kamu pasti masih menyukaiku. Aku sekarang sadar kalau sebenarnya yang terbaik buatku dan menerimaku apa adanya itu cuma kamu!" Clara berkata terus terang, mengesampingkan rasa malunya.
"Tapi, sayangnya yang terbaik buat ku itu bukan anda Nona Clara. Karna aku sudah memiliki kekasih yang sangat aku cintai.Yang bisa menerimaku apa adanya! Tuh dia orangnya!" Andrew menunjuk ke arah Jenni yang kebetulan sudah kembali dari toilet.
Clara sontak berbalik dan melihat ke arah Jenni.Dia langsung tertawa sinis melihat Jenni yang dia kira masih menjadi cleaning service di perusahaan Daven.Walaupun dia sedikit ragu dengan asumsinya, ketika melihat penampilan Jenni yang terlihat cantik dengan kemeja blazer serta rok pendek selutut.
"Kamu lama sekali sayang di toiletnya? aku jadi merindukanmu karena kamu terlalu lama! " Andrew langsung menghampiri Jenni dan menggandeng tangannya dengan mesra. Tingkah Andrew menimbulkan kebingungan di wajah Jenni
"Ada apa dengan Tuan Andrew? Apakah tadi kepalanya terbentur sesuatu? Kalau iya, kepalanya terbentur kemana? aku mau berterima kasih pada benda itu, karena dia telah membuat Andrew mesra padaku" Batin Jenni seraya tersenyum-senyum.Sehingga sandiwara Andrew semakin terlihat nyata di mata Clara.
"Jadi, setelah aku tidak memilihmu dulu, seleramu langsung berubah serendah ini Andrew? Clara tersenyum sinis, seraya berdecak.
"Anda salah, Nona Clara.Justru aku beruntung anda tidak memilihku dulu. Seandainya kamu memilihku dulu,aku pasti akan merasa lebih menyesal, karena memiliki selera rendah, dengan menyukai wanita rendahan seperti anda, yang hanya melihat orang itu dari paras dan materi.Dan asal kamu tahu,posisi kamu sebagai sekretaris dulu sudah digantikan oleh kekasihku ini. Dan satu hal lagi, dia itu tidak seperti anda yang menilai orang dari paras dan harta." ucapan Andrew membuat wajah Jenni langsung merona.Jantungnya kini berdetak, dua kali lebih cepat. Tapi tidak demikian buat Clara. Wajah merah Clara bukan karena pujian tapi karena amarah dan malu yang bercampur aduk.
Clara meninggalkan Andrew dan Jenni dengan wajah yang sangat kesal, sambil menghentak-hentakkan kakinya. Tujuannya kini untuk merayu Andrew kembali tidak berbuah manis.
Andrew menatap kepergian Clara dengan bibir yang tersenyum sinis.Dia tidak sadar kalau dari tadi,tangannya masih setia menggenggam tangan Jenni.Jenni tersenyum-senyum melihat tangannya dan tangan Andrew yang terpaut. Tiba Andrew tersadar,saat melihat senyuman Jenni. Dia sontak melepaskan tangannya dengan sedikit kasar dari tangan Jenni.
"Kamu jangan berpikiran macam-macam! aku cuma bersandiwara,agar Clara tidak mengganguku lagi. Kamu mengerti kan?!"
"Jadi, tadi nggak beneran,Tuan?" senyum di bibir Jenni langsung surut, begitu mendengar ucapan Andrew yang hanya bersandiwara di depan Clara.
"Kamu gak menganggap itu benaran kan?" Andrew balik bertanya seraya menyipitkan matanya ke arah Jenni.
" Tadinya aku berharap itu beneran, Tuan! Karena memang dari dulu aku sudah lama menyukai, Tuan. Tapi... ah sudahlah, lupakan! mari kita kembali ke kantor Tuan!" Jenni langsung melangkah meninggalkan Andrew yang diam tak bergeming menatap kepergian Jenni.
"Dia bilang apa tadi? Dia bilang kalau dia sudah menyukaiku sejak lama? aku tidak salah dengar kan?" batin Andrew seraya menarik sudut bibirnya membentuk suatu senyuman.
Tbc
Jangan lupa like, vote dan komen. Thank you