
Clara berjalan dengan anggun masuk kedalam sebuah pub, sambil memamerkan lekuk tubuhnya yang seksi, untuk menarik para pria hidung belang. pub yang didatangi oleh Clara adalah termasuk pub yang biasanya didatangi oleh pengusaha-pungusaha sukses yang mau melepas kepenatan mereka selepas sibuk bekerja.
"Berikan aku whisky!" seru Clara pada seorang bartender, setelah dia mendaratkan tubuhnya,duduk di depan meja bar.
"Ini whisky anda, Nona." Bartender itu meletakkan sebotol whisky beserta gelas di depan Clara.
Tanpa pikir panjang, Clara,menuangkan whisky itu kedalam gelas dan menyesapnya dengan penuh nikmat.
"Hai, Nona apa anda lagi butuh teman?" tanya seorang pria yang sangat tampan, yang langsung duduk di samping Clara.
Clara termagu dan terpukau, melihat ketampanan pria itu. Dia menelisik wajah dan tubuh pria tampan yang hampir tidak ada cacatnya, dan satu lagi penampilannya terlihat seperti orang yang sangat kaya tentunya.
Pria itu berdehem dan mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Clara.
"Hei,Nona! apa anda baik-baik saja?" pria tampan itu,kembali bertanya.
"Eh, I-iya Tuan! aku baik-baik saja, terimakasih!" Clara langsung mengangkat salah satu kakinya, sehingga paha mulusnya terpampang jelas di depan mata pria tampan itu.
"Hmm, boleh aku tahu nama anda Nona?" sorot manik mata pria itu,menatap Clara dengan tatapan tajam.
"Hmm, aku Clara Tuan, dan anda?" Clara menyebut namanya dengan nada suara yang sangat lembut.
"Nama yang cantik, secantik orangnya!" puji pria yang memiliki manik berwarna hazel itu dengan senyuman manisnya, hingga membuat wajah Clara memerah dan hatinya berbunga-bunga. "Aku Carlos Damian Abraham. Kamu bisa memanggilku Carlos saja!" sambung pria bernama Carlos itu lagi.
"Tunggu! K-kamu Carlos Damian, putra dari Charles Abraham? pemilik C.A.Group?" Clara bertanya dengan mata yang membesar,dan mulut yang sedikit terbuka, karena terkesiap,tidak menyangka akan bertemu dengan putra pemilik perusahaan terbesar di Kanada.
"Wow, anda hebat? bagaimana anda bisa tahu C.A. Group? sepertinya anda bukan orang sembarangan." Carlos menatap Clara, dengan alis yang bertaut tajam.
"Aku bukan siapa-siapa Tuan! aku dulu pernah bekerja lama sebagai sekretaris di Murpy Group. Makanya aku bisa tahu daftar perusahaan-perusahaan besar baik di dalam maupun di luar negri. Hanya saja dulu, saya sempat bingung,kenapa Murpy group tidak pernah ada kerja sama dengan C.A. Group?" Clara mengemukakan kebingungannya.
"Oh, itu biasa di dunia bisnis Nona Clara, jadi kamu tidak perlu heran dengan hal itu." Sahut Carlos santai.
"Oh ya, kenapa kamu berhenti bekerja dari sana? bukannya di sana karyawannya di gaji dengan tinggi?apalagi kamu sudah memiliki jabatan sekretaris, pasti pendapatan kamu juga sudah tinggi." Carlos kembali bertanya.
"Oh, itu karena aku sendiri yang mengundurkan diri Tuan. Aku disakiti oleh Andrew,asisten pribadi Tuan Daven. Setelah dia mendapatkan semuanya dariku, dia mencampakkanku begitu saja. Aku dibuangnya seperti sampah dan menikah dengan wanita lain." Clara berucap dengan mimik sedih. Dia mulai memainkan sandiwaranya untuk menarik empati dari Carlos.
"Hah? brengsek! kenapa ada laki-laki sebejat itu?!" umpat Carlos marah. Entah amarahnya benar atau tidak, hanya dia yang tahu.
Clara tersenyum sinis, melihat umpannya untuk menarik empati dari Carlos sepertinya berhasil.
"Iya, dia memang laki-laki brengsek, dan aku berniat akan membalasnya nanti!"
Clara berpura-pura kaget, dan menatap Carlos dengan tatapan yang sepertinya sedang kebingungan. "Kenapa kamu mau membantuku? kamu bahkan baru mengenalku."
"Aku memang baru mengenalmu.Tapi aku sangat tidak suka,jika ada laki-laki yang memperlakukan seorang wanita dengan tidak baik. Selain itu, aku sepertinya memiliki ketertarikan padamu." Carlos berucap to the point, hingga membuat senyum di bibir Clara merekah dengan semburat merah di pipinya.
"Anda terlalu berlebihan Tuan! aku menjadi merasa tersanjung, pria tampan seperti anda bisa tertarik dengan wanita sepertiku." Clara pura-pura merendah.
"Yes, sepertinya pesonaku belum luntur. Tidak mendapatkan Andrew, aku bisa mendapatkan laki-laki super kaya, yang setara dengan Tuan Daven." Clara membatin dengan seringaian tipis di bibirnya.
"Kamu tidak boleh begitu, justru aku yang merasa tersanjung bisa berkenalan dengan wanita secantik anda." Carlos meraih tangan Clara dan mengecup mesra punggung tangan wanita itu.
"Hmm, sebenarnya aku masih ingin di sini bersamamu, tapi aku harus pergi karena ada sesuatu yang penting yang harus aku kerjakan. Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Carlos dengan raut wajah yang sepertinya berat meninggalkan Clara.
"Tidak apa-apa Tuan!" Clara tersenyum terpaksa.
"Oh,iya, minuman kamu, biar aku yang bayar!" Carlos mengeluarkan black card yang pastinya berisi nominal uang yang tidak terhitung jumlahnya, hingga membuat Clara meneguk ludahnya sendiri, dan benar-benar berniat untuk segera memiliki Carlos secepatnya.
"Hmm, aku boleh minta nomor ponsel kamu? supaya aku bisa menghubungi kamu lagi." Carlos memberikan ponselnya ke tangan Clara, dan Clara dengan senang hati mengetikkan nomornya di ponsel Carlos.
"Udah!" seru Clara dan menyerahkan kembali ponsel Carlos.
"Hmm, Nona Clara ... tawaran aku yang tadi masih berlaku lho. Aku bersedia membantumu untuk membalas dendam pada Andrew,laki-laki brengsek itu. Karena jujur aku juga ingin menghancurkan Daven Alexander Murpy itu.Untuk alasannya apa? suatu saat aku akan memberitahukannya padamu. Jadi, kita bisa bekerja sama untuk menghancurkan dua orang itu." ucap Carlos sembari menyeringai sinis.
"Oh ya, ini kartu kamu pegang saja.Nanti aku akan kirim ke ponselmu sandinya. Kamu bebas belanja apa saja." Clara menerima black card itu, dengan mata yang berbinar-binar.
"Ini serius untukku?" Clara, bertanya memastikan.
"Iya, tentu saja aku serius. Untuk kamu apa sih yang nggak?" Carlos mengerlingkan matanya ke arah Clara yang kini kembali tersipu malu.
"nanti aku akan menghubungi kamu lagi, dan besok aku harap kamu tidak keberatan untuk bertemu lagi denganku." Carlos berdiri dan meraih kembali tangan Clara dan membawanya ke bibirnya. Lalu diapun beranjak meninggalkan Clara yang kini merasa menjadi seperti seorang wanita tercantik di dunia.
"Carl, apa kamu serius, memberikan kartumu itu padanya? Besok dia pasti akan menghabiskan uangmu. Dia itu mantan istriku, jadi, aku kenal baik bagaimana sifatnya yang suka menghambur-hamburkan uang." ujar seorang laki-laki yang dari tadi memperhatikan interaksi Carlos dan Clara dari jarak yang tidak terlalu jauh dari mereka.
"Aku tahu Steve! Aku juga tidak mau jadi laki-laki bodoh sepertimu yang bisa bangkrut gara-gara seorang wanita. Tapi, aku tidak perduli, seberapa banyak yang akan dia habiskan nanti. Yang penting dia bisa menjadi kambing hitam, buat diriku bisa membalaskan dendam pada keluarga Murpy. Jadi, dia hanya pion bagiku, tidak lebih." Carlos,menyeringai sinis sembari mengepalkan kedua tangannya.
Tbc
Jangan lupa,like Vote dan komen ya gais.Thank you