Cinta Terhalang Janji

Cinta Terhalang Janji
Meyerahkan semuanya


"Hal apa lagi yang sering kalian berdua lakukan? Apakah dia pernah menciummu?" suara Daven terdengar sangat dingin.


"Apakah kalau kecupan di kening itu termasuk dicium? kalau iya, berarti pernah.Karena Ka James sering melakukannya dulu. " Sahut Alena yang tidak peka dengan kondisi hati Daven yang sudah panas.


"Selain itu, kalian berdua ngapain aja selama ini? " Daven masih berusaha untuk menahan amarahnya.


"Kami gak ngapa-ngapain.Kalau Ka James tidak sibuk, kami paling menghabiskan waktu dengan menonton di Bioskop.Kebetulan kami sama-sama suka nonton Film romance "


Daven sontak bangun dari atas paha Alena. Dia kembali berbaring ke arah berlawanan dengan kakinya yang kini di atas paha Alena.


"Sekarang kamu pijat kakiku! " Suara Daven masih terdengar kesal saat menyuruh Alena memijat kakinya.


Mau tidak mau dengan perasaan yang sangat dongkol, Alena terpaksa memijat kaki Daven dengan terus mengumpati Daven di dalam hati.


Alena melihat Daven memejamkan kedua matanya. Alena mengibaskan tangannya di atas mata Daven yang sedang terpejam,untuk memastikan apakah Daven sudah terlelap atau hanya pura-pura.


"Tuan ... Tuan ..., apa anda sudah tidur? " Alena menguncang kaki Daven dengan pelan dan hati-hati.Tapi sama sekali tidak ada respon dari Daven. "Yes, akhirnya si singa sudah tidur." gumam Alena pelan,tapi masih bisa terdengar.


Dengan pelan dan sangat hati-hati, Alena memindahkan kaki Daven dari atas pahanya.Setelah itu dia bangkit perlahan dari duduknya, dan dengan sedikit berjinjit dia melangkah hendak meninggalkan Daven begitu saja.Akan tetapi ketika dia hendak menjauh, sebuah tangan besar menarik tangannya hingga dia terjatuh di atas badan Daven. Sontak kedua netranya membulat dengan sempurna dan langsung beradu dengan manik berwarna abu-abu milik Daven.


"Kamu mau kemana? Apakah kamu mau pergi begitu saja setelah mengataiku Singa?" tanya Daven dengan tatapan yang sangat tajam dan seringai tipis di sudut bibirnya.Kedua tangan Daven kini sudah merangkul erat pinggang ramping Alena, agar Alena tidak kabur.


"A-a-aku...." bibir Daven langsung mendarat dengan selamat di atas bibir merah milik Alena sebelum Alena melanjutkan ucapannya. Kedua netra Alena semakin membesar karena terkesiap dengan serangan tiba-tiba dari Daven.


Alena tidak membalas ciuman Daven sama sekali, disamping karena dia sangat kaget, dia juga belum punya pengalaman sekali dalam berciuman. Tapi entah kenapa Alena sama sekali tidak memberontak.Dia laksana pohon pisang yang jatuh tidak bisa melawan bahkan membalas sama sekali. Nafasnya seakan tercekat di tenggorokannya. Sehingga dia merasa sedikit kesulitan untuk bernafas.


Daven semakin membenamkan bibirnya dan menuntut balasan dari Alena.Tapi Alena terlalu bodoh untuk bisa membalas ciuman Daven. Daven semakin mengintimidasi tubuh Alena.Tangannya semakin erat merengkuh pinggang Alena dan mulai menelusuri tubuh Alena dengan gelayar hasrat yang sudah mulai memuncak. Daven berharap ciuman mereka tidak berakhir dengan cepat.


Daven membalikan tubuh Alena sehingga kini mereka sudah berganti posisi, Alena yang posisinya berada dibawah semakin terkungkung oleh Daven.Alena yang dari tadi sudah membeku, tiba-tiba tersadar dari alam bawah sadarnya.Dia sontak memberontak dan berusaha lepas dari rengkuhan Daven. Dia membuka sedikit mulutnya untuk berbicara.Tapi itu jadi kesempatan buat Daven untuk semakin memperdalam ciumannya.


Alena yang sudah kehabisan tenaga untuk memberontak,akhirnya pasrah dan diam saja. Dia tidak berusaha melepaskan diri tapi juga tidak membalas sama sekali.Cairan bening tiba-tiba merembes keluar dari sudut mata Alena.


"Ma-maaf. Aku tidak sengaja! aku harap kamu melupakan apa yang baru saja terjadi.Anggap saja ini tidak pernah terjadi." ujar Daven sambil berlalu meninggalkan Alena.


Mendengar ucapan Daven yang menyuruhnya melupakan yang baru terjadi semakin membuat air mata Alena semakin deras menetes dari kedua matanya.


"Dia menyuruhku melupakannya? Dia anggap aku ini apa? Apa dia menggangap aku patung yang tidak punya perasaan sama sekali? Dia memang manusia yang hidup tanpa hati" batin Alena yang langsung beranjak dari tempat itu seraya menghapus air matanya dengan jarinya.


*******


Hari berganti hari, minggu berganti minggu dan kini pernikahan Daven dan Alena sudah memasuki bulan ke 3. Hubungan Daven dan Alena sudah semakin dekat.Hal yang belum mereka lakukan itu, mereka masih tidur di kamar masing-masing. Daven menyadari kalau hatinya sudah mulai di isi dengan nama Alena,demikian juga dengan Alena. Tapi lagi-lagi setiap Daven ingin semakin dekat dengan Alena, dia akan teringat dengan janji yang pernah dia ikrarkan dulu. Cintanya kini terhalang oleh janji.


Setiap Daven mengingat akan janjinya, Daven akan sering berucap kata-kata yang menyakitkan pada Alena. Dia melakukan itu, agar Alena tidak mempunyai harapan lebih untuknya.Tapi setiap dia bertindak kasar dengan menyakiti Alena, dia akan merutuki dirinya sendiri setelah dia sedang sendiri.


Sama halnya dengan Daven, Alena juga merasakan hal yang sama. Ada ketakutan yang selalu muncul di dalam hati Alena, seandainya wanita yang dicari Daven selama ini ditemukan. Mereka kini hanya bisa mencintai dalam diam.


Malam ini Daven diantar pulang oleh Andrew dalam keadaan setengah sadar. Baru kali ini Daven minum dengan banyak.Itu pun dia lakukan hanya untuk menghormati klien besar yang mengajaknya untuk minum.


Seperti biasa, Alena selalu menyambut kepulangan Daven di depan pintu. Melihat Daven yang sudah sangat mabuk, Alena memapah tubuh Daven sampai ke kamarnya.


"Ka Daven kok sampai mabuk begini sih? " tanya Alena ketika dia sudah berhasil membaringkan tubuh Daven di atas kasurnya. Ya... sudah dua bulan ini, Daven melarang Alena memanggil dia Tuan.Karena Alena tidak menemukan panggilan yang pas, akhirnya dia memanggil Daven Kakak sama seperti halnya dia memanggil Andrew.


Dengan cekatan dia membuka sepatu Daven dan menaikkannya ke atas kasur. Di saat Alena hendak meninggalkan Daven, lengan besar milik Daven menarik Alena ke tempat tidur dan memeluknya sangat erat. Melihat belahan bibir Alena yang sedikit terbuka, Daven pun membenamkan ciumannya di dibibir Alena.Kali ini Alena membalasnya. Ciuman yang semula lembut kini berganti semakin cepat dan semakin menuntut lebih. Ciuman itu kini beralih ke leher dan memberikan tanda kepemilikan disana. Setelah dari leher, kini semakin turun ke dada, dan tangan Daven juga sudah ikut bekerja untuk menelusuri bagian-bagian sensitif pada tubuh Alena. Karena gairah nafsu sudah mengambil alih dirinya, Daven pun lupa dengan janji yang dibuatnya.Malam ini dia pun melakukan hal yang sepatutnya sudah dilakukannya semenjak Alena sudah sah menjadi istrinya.


Setelah menyerahkan semuanya pada Daven, dua titik cairan bening kini merembes keluar dari sudut matanya dan membasahi pipinya. Alena menangis bukan karena menyesal dengan kejadian yang baru saja terjadi, tapi dia menangis karena dia memikirkan hal yang akan terjadi bila wanita yang dicari Daven ditemukan.


Tbc


Jangan lupa dukungannya.Please like, vote dan komen.Thank you