Cinta Terhalang Janji

Cinta Terhalang Janji
Flashback Hansel


"P-putri? aku juga memiliki seorang putri?" gumam Charles dengan lirih, merasa tercekat, seperti sulit untuk percaya.


"Iya, dan sekarang keberadaannya tidak diketahui,karena si bedebah itu, memberikannya pada orang lain!" suara Hansel meninggi sembari menunjuk ke arah Gerald.


"Bukan papah yang memberikannya pada orang lain, tapi mamah! Papah sudah berusaha untuk melarang, tapi mamah tetap tidak mengindahkan permintaan papah dan justru mengancam akan meninggalkan kami semua!" ucap Steve, melakukan pembelaan pada Gerald papahnya.


"Sudah cukup! Apapun yang anda jelaskan, tidak bisa merubah keadaan, yang mana wanita ini tega meninggalkan kami dengan alasan depresi. Jenni ayo kita pulang!" Andrew menarik tangan istrinya, dan beranjak berjalan menuju pintu keluar, meninggalkan Hanna yang kembali menangis histeris.


"Sayang!" Jenni menahan tangan Andrew sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kamu mau ikut aku, atau tidak? kalau kamu tidak ikut, aku akan pulang sendiri!" Andrew menepis tangan Jenni yang menahannya, dan kembali melangkahkan kakinya.


"Tunggu Ndrew!" seperti yang aku katakan sebelumnya, kalau yang pantas kamu salahkan di sini adalah paman bukan mamah kamu. Kamu dengarkan dulu penjelasan paman, baru kami bisa memutuskan, kamu menyalahkan mamah kamu atau tidak.


Flash back On.


"Hanna, kenapa selama ini kamu tidak kembali ke rumah, hah?! apa kamu tidak menganggap aku saudara kamu lagi?"Hansel begitu marah melihat keadaan adiknya yang seperti tidak terurus sekarang, apalagi dengan keadaan hamil yang sudah sangat besar,seperti balon yang hampir meletus.


"B-bukan begitu Hans, A-aku cuma tidak mau menyusahkanmu saja." Hanna menunduk tidak berani menatap sorot mata Hansel yang menatapnya dengan sangat tajam sekarang.


Ya, semejak dia memutuskan pergi dari rumah, dimana dia hidup bersama dengan Charles, dia memilih untuk hidup sendiri dan bahkan tidak mengabari Hansel saudara kembarnya, karena dia tidak mau membebani, kakak yang usianya berbeda hanya 5 menit itu.


"Kamu itu, adikku satu-satunya. bagaimana mungkin kamu akan menjadi bebanku? aku mengira selama ini hubunganmu dengan Charles baik-baik saja, ternyata dia sudah tega menelantarkanmu begini!" Hansel mengepalkan kedua tangannya dengan rahang yang mengeras.


"Hans, ini bukan salah Charles. Aku yang___"


"Kenapa kamu masih membela si brengsek itu, hah?! dia tidak pantas mendapat pembelaan darimu. Dia menikahimu, tapi tidak pernah mencintaimu sama sekali, apa itu pantas disebut baik?! sudahlah, sekarang kamu ikut aku pulang ke London!"


"Tidak,Hans biarkan aku di sini saja!" Hanna menangis sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tidak! kamu harus ikut aku!" Hansel menarik tangan Hanna dengan kuat, sehingga menimbulkan guncangan pada perut Hanna.


"Aw!" Hanna memegangi perutnya dengan wajah yang meringis kesakitan.


"Kamu, kenapa Hanna?" Hansel begitu panik sekarang.


"P-perutku s-sakit Hans!. A-aku sudah tidak kuat lagi!


Hansel panik, dan langsung bergerak dengab cepat memanggil anak buahnya untuk ikut membantunya membawa Hanna masuk ke dalam mobil.


Mobil Hansel melesat dengan kecepatan tinggi,dengan Hanna yang meraung-raung di dalamnya. Karena kecepatan tinggi, jarak yang biasa ditempuh dari rumah kecil Hanna ke rumah sakit sekitar 30 menit, kini dalam 15 menit mereka sudah tiba di sana.


Dokter dan perawat dengan sigap memberikan pertolongan pada Hanna. Mereka membawa Hanna ke ruang persalinan, dan mencek segalanya mulai dari tekanan darah atau tensi, posisi bayi dan kemungkinan- kemungkinan lainya. Hanna yang merasa sudah sangat lemas merasa kesadarannya mulai melemah, nafasnya mulai pendek-pendek dan tekanan darahnya mendadak sangat rendah.


"Gawat, pasien sepertinya mengalami emboli air ketuban. Segera hubungi keluarganya yang ada di depan dan suruh masuk ke sini! dan kamu, tolong persiapkan surat pernyataan kalau kita menangani pasien seperti ini.


"Bagaimana keadaan adikku Dok? kenapa dia jadi seperti itu?" Hansel panik melihat keadaan Hanna yang sekarang sangat lemah.


"Begini Tuan, adik anda sepertinya mengalami emboli air ketuban yang merupakan kondisi langka namun serius. Yang terjadi saat cairan ketuban masuk dan bercampur ke dalam aliran darah ibu. Meskipun jarang terjadi, kondisi ini sangat berbahaya karena memicu komplikasi bahkan bisa mengancam jiwa ibu dan bayinya. Jadi mau tidak mau kita harus melakukan operasi sesar secepatnya, tapi satu hal lagi Tuan, kemungkinan Tuan harus melakukan pilihan, mau menyelamatkan ibunya atau bayinya!" jelas dokter itu, yang membuat Hansel, tersungkur ke belakang.


"B-bagaimana bisa Dok? kenapa aku harus dihadapkan dengan pilihan itu?"


"Memang ibu dan bayi bisa saja selamat, tapi kemungkinannya sangat kecil Tuan.Dari kasus Ibu yang mengalami emboli air ketuban, sekitar 10% kasus yang dapat bertahan hidup. Sedangkan 70% yang mengalami kondisi ini, akan mengalami gangguan kesehatan dan gangguan saraf. Tapi muzizat itu kemungkinan masih ada, yang penting anda jangan berhenti berharap," sambung sang dokter itu untuk menenangkan Hansel.


"Baiklah Dok, aku memilih selamatkan ibunya!" putus Hansel tegas.


"Baiklah, silahkan tanda tangan disini, Tuan!" dokter itu memberikan sebuah surat pernyataan yang harus ditandatangani oleh Hansel. Hansel nyaris saja menandatangi surat pernyataan, tapi tiba-tiba terhenti ketika dia mendengar suara lirih dari Hanna yang sedikit masih memiliki kesadaran.


"Dok, selamatkan saja anak-anakku! aku mohon. Hans tolong biarlah anak-anakku yang selamat, jangan aku!" Hanna berucap dengan sadikit tersendat-sendat.


"Tapi, Hanna?"


"Hans, tolong! mereka tidak berdosa dan pantas untuk mendapat kesempatan untuk hidup juga.Dan tolong, jika aku tidak bisa selamat lagi, kamu merawat mereka dengan baik." dari kedua sudut mata Hanna kini sudah merembes air mata.


Dengan berat hati akhirnya Hansel menanda tangani surat pernyataan yang menyatakan menyelamatkan bayi.


Setelah Hansel menandatangani surat pernyataan itu, dokterpun segera melakukan tindakan operasi sesar. Di luar Hansel tidak berhenti berdoa agar Hanna diberikan muzizat, sehingga ibu dan Janin bisa diselamatkan.


"Bagaimana Dok?" Hansel segera menghambur menghampiri dokter, ketika dokter itu keluar dari ruang operasi.


"Kedua bayinya selamat Tuan. Nona Hanna, tadi sempat mengalami kejang, dan pendarahan yang hebat. Akan tetapi, kami berhasil mengatasinya, dan Nona Hanna untuk sementara ini masih bisa diselamatkan, dan sekarang dia tidak sadarkan diri. Mudah-mudahan nanti tidak akan terjadi masalah lagi." Hansel menghembuskan nafasnya, lega mendengar penuturan dokter itu.


Hampir seminggu, Hanna tidak bangun dari tidurnya, atau dengan kata lain koma. Hansel merasa sedih, sekaligus marah menyalahkan Charles atas semua yang terjadi.Karena itulah ketika dia melihat Gerald dan istrinya yang mengalami kesulitan biaya, untuk kesembuhan putranya, dia pun menawarkan bantuan dengan syarat mereka mau merawat kedua bayi yang baru dilahirkan Hanna.Dan dia berjanji setiap bulannya akan mengirimkan uang untuk kebutuhan keduanya. Istri Gerald yang notabene sudah bosan hidup miskin, menerima dengan senang hati tawaran Hansel.


2 minggu kemudian, Hanna menampakkan tanda-tanda akan sadar dari tidur panjangnya.


"Hanna kamu sudah sadar? bagaimana keadaanmu? dimana yang sakit?" Hansel bertanya beruntun dan bernafas lega melihat Hanna sudah membuka matanya.


"Hans, apa aku masih hidup?"


"Iya, kamu masih hidup!" Hansel menerbitkan seulas senyuman di bibirnya.


"Kalau begitu, dimana anak-anakku Hans?" Hanna menggerakkan matanya, melihat ke sekeliling, untuk mencari keberadaan bayi kembarnya.


"Maaf Hanna, kedua anakmu tidak bisa diselamatkan!" Hansel menunjukkan wajah menyesal dan sedih di depan Hanna.


"Bagaimana bisa? bukannya aku sudah bilang, kalau dokter harus menyelamatkan mereka dab bukan aku?" Hanna histeris.


"Awalnya begitu Hanna, tapi di tengan persalinan, jantung kedua anakmu melemah, dan kemungkinan tidak bisa diselamatkan lagi, makanya dokter beralih,untuk menyelamatkanmu saja." Hansel yang sudah mempersiapkan jawaban jauh-jauh hari, tidak terlihat gugup lagi untuk menjelaskan.


Hanna, menangis histeris dan meneriakkan kata maaf pada kedua anaknya, karena merasa tidak mampu menjaga keduanya dengan baik.


"Maafkan aku Hanna! aku terpaksa berbohong, karena aku tidak ingin gara-gara mereka kamu tidak bisa melupakan Charles." Bisik Hansel pada dirinya sendiri.


**Flashback off


Tbc


sumber mengenai emboli air ketuban bisa di search di google. https//hellosehat.com, https//health.kompas.com. Bagi para tim medis yang membaca ini, dan merasa ada kesalahan aku meminta maaf. Terima kasih


Mohon dukungannya ya gais, dengan like, vote dan komen. Thank you**