Cinta Terhalang Janji

Cinta Terhalang Janji
Aku bahkan sudah merasakan bibirmu yang manis


Alena menghabiskan waktu 15 menit untuk membersihkan tubuhnya. Setelah selesai, diapun mengambil pakaian yang dipinjamkan oleh Jenni. Kedua netranya terbelalak melihat pakaian yang di berikan oleh Jenni, sebuah daster mini di atas lutut dan tanpa lengan.Memang gak tipis seperti lingeria, tapi kalau dipakai, bisa mengundang nafsu bagi laki-laki normal yang melihatnya.


"Kok seperti ini sih pakaiannya? gimana aku mau keluar dari sini?" batin Alena gusar.


Alena membuka pintu kamar mandi dengan perlahan dan mengintip untuk melihat apakah Daven masih berada di kamar atau tidak. Dia pun akhirnya menarik nafas dengan lega, ketika dia tidak menemukan keberadaan Daven di kamar itu. Dengan parlahan dia keluar dari dalam kamar mandi, setelah hampir setengah jam berada di dalam sana.


"Kenapa kamu harus ngintip dulu baru keluar? " Daven bersuara, yang dari tadi ternyata sedang menyender di tembok dekat pintu kamar mandi.


Alena terjengkit kaget dan refleks menoleh ke belakang. Tampak di sana Daven, berdiri sambil bersedekap dengan senyum meledek di bibirnya. "K-ka Daven, sejak kapan ada di sana?" tanya Alena sembari menarik-narik pakaiannya ke bawah.


"Sejak kamu ngintip-ngintip dari kamar mandi." sahut Daven dengan senyum meledek yang masih tersemat di bibirnya, sambil menyelidik tubuh Alena dari atas ke bawah.


Semburat merah, kini terbit di pipi putih Alena.Dia memalingkan wajahnya agar Daven tidak bisa melihat rona di pipinya itu.


"Siapa yang ngintip? aku cuma mengintai saja." gumam Alena sangat pelan, tapi masih bisa tertangkap oleh indra pendengaran Daven.


"Mengintip dan mengintai, apakah itu berbeda? tapi sepertinya sama aja," Daven mengayunkan langkahnya mendekat ke arah Alena.


"Hmm, dan sepertinya kamu berniat menggodaku ya? " Daven kembali menyusuri seluruh tubuh Alena.


" Si-siapa yang mau goda Kakak?" Alena kelihatan semakin gugup dengan semakin dekatnya Daven padanya.


"Jadi maksud kamu memakai pakaian seperti itu apa?"


"Ini, dipinjamin sama Jenni Ka! Aku tidak tahu kalau pakaiannya seperti ini. Aku gak punya pakaian lagi, yang tadi sudah terlanjur basah." tutur Alena, yang masih tetap terlihat sangat gugup.


"Hmm, kayanya aku harus berterima kasih pada Jenni besok, dan kasih dia hadiah! " Daven tersenyum dan manik mata yang penuh hasrat.


Mata Alena membesar dengan sempurna, mendengar ucapan Daven yang ambigu.


"M-maksud Ka Daven apa?" tanya Alena sembari menyipitkan matanya.


"Gak bermaksud apa-apa. Kamu tunggu di sini ya! jangan kemana-mana!, aku mau mandi dulu!" Daven menatap Alena dengan tatapan penuh peringatan. Lalu melangkah masuk ke kamar mandi.


"Aku mau pergi kemana coba dengan pakaian seperti ini? Kayanya ini, akal-akalan Jenni deh, biar aku gak bisa keluar dari sini. Arghhh, awas kamu Jenni! " gumam Alena sembari mengumpat.


"Aduh, aku lapar sekali. Gimana mau keluar begini?" Alena lagi-lagi menggumam sembari merebahkan tubuhnya di sofa. Alena memejamkan matanya dan tanpa menunggu lama, Alena pun terlelap.


15 menit kemudian Daven keluar dari kamar mandi, dengan handuk yang melilit pinggangnya. Dia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Alena. Kedua matanya akhirnya menangkap keberadaan Alena yang terlelap di atas sofa. Daven mengayunkan langkahnya untuk menghampiri Alena. Dia berjongkok dan menatap wajah Alena dengan intens. Wajah yang selama ini sangat di rindukannya.Dengan perlahan dia mendaratkan bibirnya di kening Alena, mengecupnya dengan cukup lama.


Kedua matanya menelusuri tubuh Alena dari atas ke bawah. Seketika ada yang berdiri tegak di bawah sana tapi bukan keadilan, ketika melihat pakaian Alena yang tersingkap hampir mencapai pangkal pahanya.


Daven meneguk ludahnya berkali-kali, dan nafasnya kini sudah memburu. Daven segera berdiri, berbalik buru-buru menjauh dari Alena dan segera menuju ruang ganti untuk mengenakan segera pakaiannya.


Setelah mengenakan pakaiannya, Daven kembali, menghampiri Alena dan berusaha menahan hasratnya yang sudah bergemuruh. Dia pun mengangkat tubuh Alena untuk memindahkannya ke atas kasur.


Merasa tubuhnya seperti terangkat, Alena membuka matanya dan kaget, ketika mengetahui Daven menggendongnya.


"Ka turunkan aku!" Alena sedikit meronta meminta agar Daven menurunkannya


"Alena, jangan bergerak! kamu bisa jatuh," Daven menurunkan tubuh Alena dengan perlahan.


"Kaka mau apa?" tanya Alena sebari menyilangkan tangannya di dada.


"Tapi kenapa,Kaka mindahin aku ke kasur? itu kan kasur Kaka? aku tidak pantas tidur di sana, jadi biarkan aku tidur di sofa aja.


Daven menggeram mendengar ucapan Alena." Kamu itu istriku, jadi kasur itu milik kamu juga." ujar Daven berusaha menahan emosinya.


"Tapi dulu, aku juga istrimu. Kamu melarangku untuk masuk ke kamarmu, tapi kenapa sekarang____"


Mata Alena membesar ketika tiba-tiba Daven mendaratkan bibirnya ke bibir Alena, untuk menghentikan celotehannya.


Alena tidak membalas tapi juga tidak menolak. Tubuhnya kini serasa membeku mendapat serangan Daven yang tiba-tiba.


"K-ka ...," Alena membuka mulutnya, untuk menghentikan ciuman Daven. Tapi, mulut Alena yang sempat terbuka sedikit,justru membuat Lidah Daven leluasa masuk kedalam mulut Alena dan mengeksplor mulut Alena seperti mengabsen jumlah gigi Alena, masih utuh atau nggak.


Alena yang awalnya tidak membalas, kini sudah terbuai dan membalas ciuman Daven.Walaupun masih kaku, tapi tidak bisa dikatakan payah juga.


"Krukkk" bunyi perut Alena yang lapar, seketika menghentikan kegiatan mereka berdua.


"Kamu lapar ya?" tanya Daven yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Alena. Raut wajah Alena terlihat lucu dan menggemaskan, membuat Daven terkekeh. Sedangkan Alena langsung mencebikkan bibirnya ketika melihat Daven yang seperti meledeknya.


"Kamu tunggu di sini! aku akan ambilkan makanan untukmu" Daven mengayunkan langkahnya menuju pintu,untuk keluar mengambilkan makanan.


Baru saja Daven membuka pintu, Madam Brenda sudah ada di depan pintu, membawakan nampan yang berisi makan malam untuk Daven dan Alena.


"Tuan, ini makan malamnya.Nyonya Ellen menyuruhku untuk membawakan ini buat Tuan dan Nona Alena!


"Oh, terima kasih Bi! padahal tadi aku mau ke bawah, mau ambil sendiri." Daven mengambil alih nampan itu dari tangan Brenda.


"Oh ya, Bi, apa Dean sudah makan malam? tanya Daven, sebelum Brenda beranjak pergi.


"Sudah, Tuan! tadi Tuan muda Dean makan malam.bersama semuanya di bawah." sahut Brenda.


"Oh,ok, Bi! Bibi boleh pergi sekarang!" Daven menutup pintu kembali,setelah Madam Brenda beranjak pergi meninggalkan kamar Daven.


Daven meletakkan nampan berisi makanan itu di atas meja, dan memberikan makanannya pada Alena.


"Terima kasih! " ujar Alena sembari menerima makannya dari tangan Daven.


Alena makan dengan sangat lahap, karena kebetulan dia sangat lapar. Seharian ini tidak ada yang masuk ke dalam perutnya, karena dia tidak berselera mengingat keberadaan putranya yang hilang.


"Pelan-pelannya makannya Alena! tidak akan ada yang mau mengambil makanan itu dari mu!" ujar Daven sambil mengusap sudut bibir Alena yang terselip saus di sana, dan menjilatnya.


Alena terbatuk-batuk melihat Daven menjilat sisa saus dari bibirnya tanpa merasa jijik sama sekali. Daven langsung meraih gelas berisi air minum dan memberikannya pada Alena.


"Ka Daven, kenapa dijilat? Kaka tidak merasa jijik?" tanya Alena.


"Kenapa harus jijik? aku bahkan sudah merasakan manisnya bibirmu tadi, " sahut Daven dengan frontal, membuat pipi Alena kembali memerah.


Tbc


Jangan lupa ritualnya ya gais.Please like, vote dan komen.Thank you😁🥰