Cinta Terhalang Janji

Cinta Terhalang Janji
James membawa Dean


Pagi kembali menyapa.Jenny sebenarnya sangat malas untuk bangun,karena udara sangat dingin. Kebetulan musim gugur sudah akan berlalu, dan Musim dingin akan segera datang, dimana salju akan turun sebentar lagi di belahan negara Eropa, baik itu di Irlandia maupun di London.


Tadi malam, Jenni sudah mempersiapkan semua barang-barang yang akan mereka bawa ke London, khususnya baju-baju hangat buat mereka pakai nantinya.


"Drew, ayo bangun! nanti kita telat! " Jenni menepuk-nepuk pipi suaminya itu dengan lembut.


Andrew menggeliat, dan mengerjap-erjapkan matanya, lalu mengucek dengan lembut untuk memberikan kenyamanan buat matanya yang baru saja menangkap cahaya. Setelah itu seulas senyuman terbit di bibirnya ketika melihat wajah cantik istrinya yang kini sudah sangat dekat dengan wajahnya.


Andrew langsung menarik kepala Jenni mendekat kewajahnya,agar dia bisa lebih leluasa untuk memberikan ciuman di bibir merah milik istrinya itu. Bibir itu kini sudah menjadi candu buat Andrew. Dia tidak pernah puas, untuk mencium bibir itu.


Ciuman Andrew awalnya perlahan,lama kelamaan ciuman itu berlangsung semakin panas.Cuaca dingin kini berubah panas karena ada sesuatu yang sudah mengeliat dibawah sana.


Sebelum pergulatan benar-benar terjadi, Jenni langsung berusaha melepaskan diri dari kunkungan Andrew suaminya. " Ndrew, Stop! kita bisa telat kalau kita melakukannya sekarang! "


" Kita itu naik pesawat pribadi Jen. Jadi kamu tidak usah khawatir.Lagian Tuan Daven juga kali ini pasti masih tidur.Jadi kita bisa melakukannya 1 kali aja ok!" ucap Andrew yang kembali memagut bibir Jenni sebelum Jenni sempat menjawab lagi.


Kini Jenni pun pasrah berada di bawah kungkungan Andrew suaminya.Karena dia juga tidak bisa berbohong kalau tubuhnya juga sudah meminta lebih.


Kali ini permainan mereka tidak berlangsung lama.Mereka buru-buru menyelesaikan olahraga pagi mereka dengan cepat mengingat kalau hari ini,mereka akan berangkat ke London.


Setelah selesai melakukan pergulatan panas mereka, Jenni segera melangkah ke kamar mandi, untuk membersihkan tubuhnya. Lalu dia berganti pakaian dan menyiapkan pakaian suaminya yang kini gantian sedang mandi. Setelah itu Jenni membangunkan Jeslyn dan menyiapkannya, mulai dari mandi, berpakaian sampai menguncir rambut lebat milik Jeslyn.


1 jam kemudian kini mereka telah tiba di rumah Daven, yang terlihat sudah siap untuk berangkat juga. Setelah itu mereka sama-sama berangkat menuju landasan pesawat pribadi mereka yang tidak jauh dari kediaman Harold dan Ellen.


Jarak antara Irlandia dan London tidak terlalu jauh. Tidak sampai 2 jam mereka kini sudah mendarat di London dengan selamat. Setelah mereka sampai di rumah keluarga Daven yang ada di London, Daven dan Andrew langsung berangkat ke perusahaan tanpa meng-istirahatkan tubuh mereka terlebih dahulu.


*******


James terlihat kembali mendatangi toko kue Alena, untuk mengajaknya fitting baju pengantin.


"Alena, apa kamu bisa memberikan waktu kamu sebentar, untuk pernikahan kita? Sekarang aku mau mengajak kamu buat fitting gaun pengantimu! terselip rasa kesal pada ucapan James,karena Alena benar-benar bersikap apatis terhadap pernikahan mereka.


"Maaf , Ka James, hari ini aku sibuk sekali.Kaka juga bisa melihatnya kan? " ucap Alena yang masih saja terlihat acuh.


"Bisa gak kamu, sedikit aja kasih perhatian buat pernikahan ini Alena? " James kali ini benar-benar tidak bisa menahan emosinya lagi, melihat sikap apatis yang ditunjukkan oleh Alena.


" Kak, yang menginginkan pernikahan ini kan Kaka, bukan aku. Jadi Kak James aja yang mengurus semuanya! " Alena kali ini sudah mulai bersikap tegas.


Mendengar ucapan Alena, James mengepalkan tangannya dan wajahnya juga kini sudah berubah merah karena amarah yang amat sangat. Dia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dalam sekali hentakan, untuk bisa meredam sedikit amarahnya.


"Aku sudah mengurus segalanya Alena! Tapi,untuk gaun pengantin, tidak mungkin aku yang mencobanya kan?" kali ini James sudah kembali bersikap lembut setelah dia berhasil menguasai diri.


"Berapa banyak orderan yang kamu terima? biar aku yang membayar ganti ruginya semua! "


"Ka, ini bukan masalah ganti rugi, tapi ini masalah kepercayaan.Dan satu hal lagi, aku sudah banyak memakai uang Kakak.Jadi, aku tidak mau menambahi lagi, takutnya aku akan susah untuk bisa mengembalikan kembali uang mu itu " terselip sebuah sindiran dalam ucapan Alena sehingga membuat James merasa tertohok dan tidak bergeming sama sekali.


"Baiklah, kalau kamu bilang besok saja, ya udah aku mengalah!" ucap James menahan amarahnya.


Ekor mata James menagkap sosok Dean yang sedang bermain mobil-mobilan di sebuah meja sudut ruangan itu. Seringaian tipis muncul di bibirnya.Seketika James mengingat semua ucapan yang diucapkan oleh Mamahnya kemarin. "Ehm, kayanya ini waktu yang tepat buat ku untuk nyingkirin anak pembawa sial itu!" James berbisik pada dirinya sendiri.


"Alena, sepertinya Dean cukup bosan bermain sendiri. Gimana kalau aku membawanya keluar jalan-jalan sebentar. Aku mau berusaha untuk lebih dekat sama Dean. Karena mau tidak mau dia kan sebentar lagi juga akan jadi anak ku! "


"Tidak usah Ka! dia juga sepertinya betah tuh main sendiri! Lagian nanti ngerepotin Kak James " Alena menolak secara halus permintaan James.


"Ayolah, Alena... , aku hanya akan mengajaknya jalan-jalan sebentar saja, masa tidak boleh. Lagian aku tidak akan merasa direpotkan"James kembali berusaha menyakinkan Alena.


Alena menyipitkan matanya menatap curiga ke arah James. " Bukannya, Ka James tidak menyukai Dean? kenapa hari ini Kakak tiba-tiba ingin mengajaknya jalan-jalan?"


"Semua orang pandangannya bisa saja cepat berubah Alena. Aku cuma berpikir, tidak ada gunanya aku membencinya.Dia tidak tahu apa-apa!.


"Hmm, Kak James coba tanya anaknya saja! Kalau dia mau, ya udah Kak James boleh bawa, tapi janji, hanya sebentar ya Ka! "Kali ini Alena tidak sanggup menolak permintaan James.


"Terima kasih Alena. Aku kesana dulu ya! " James mengayunkan langkahnya menghampiri Dean yang masih asik bermain sendiri.


Entah apa yang dibicarakan oleh James, sehingga Dean tampaknya mau berdiri dari tempatnya, dan mengikuti James dari belakang untuk kembali ke arah Alena.


"Mom, apa aku boleh pergi dengan Paman James? katanya dia mau membawaku untuk membeli mainan robot-robotan baru? " tanya Dean sambil mengerjap-erjapkan matanya.


" Apa Dean benar-benar mau ikut Paman? " tanya Alena sambil berlutut di depan putranya itu. Selama ini Dean kurang suka juga dengan James, makanya Alena bertanya untuk memastikan. Alena langsung mendesah pasrah ketika dia melihat Dean menganggukkan kepalanya.


"Ya udah, kamu boleh pergi dengan Paman James! Tapi kamu jangan banyak minta sesuatu ya! " pesan Alena, dan lagi-lagi mendapat anggukan dari kepala mungil Dean.


James menggandeng tangan kecil milik Dean, menuju ke tempat mobilnya parkir. Setelah mereka di dalam mobil, James melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menyusuri jalanan, tanpa menanggalkan senyuman sinis dari bibirnya.


Apa yang akan terjadi pada Dean selanjutnya? temukan jawabannya pada part berikutnya ya gais.


Tbc


Jangan lupa buat like, vote dan komen.Sekarang sudah hari Senin, kalau berkenan vote rekomendasi yang otomatis di bagi sama pihak MT/NT bolehlah di kasih ke novel ini. Thank you😀😘🤗