
Alena menangis sesunggukan di hadapan James dan kedua orangtuanya. Dia tidak menyangka demi bisa menikahinya James tega menahannya di kediamannya dan tidak mengizinkannya untuk mencari Dean putranya.
"Alena, please stop menangis! Aku kan sudah bilang kalau aku sudah memerintahkan orang-orangku untuk mencari Dean!" James menggeram, karena kesal melihat Alena yang dari tadi masih belum berhenti menangis.
"Bisa tidak kamu menghentikan tangisanmu? kuping ku sakit mendengarnya." ucap Hellena kesal. "Lagian kalau putra mu itu tidak ditemukan,kamu kan masih bisa punya anak dari putraku" sambungnya lagi.
Alena menatap Hellena dengan tatapan sendu.
"Bibi, yang hilang ini putraku. Waktu dulu Ka James hilang, bagaimana perasaan Bibi? Bibi bersedih, atau bergembira?" tanya Alena yang masih berusaha menahan amarahnya.
Hellena tidak bergeming. Dia tidak bisa menjawab sama sekali.Seketika dia terbayang, saat-saat dia kehilangan James putranya. Dimana dia hampir gila, dan berbulan-bulan mencari keberadaan James. Tapi seketika dia menatap Alena dengan tajam.
"Jangan kamu samakan anak kamu itu, dengan anakku." Hellena meninggikan suaranya. " Kalau James, satu-satunya pewaris William group, makanya pantas untuk dicari.Sedangkan putramu, bukan siapa-siapa, jadi tidak pantas untuk dicari.Yang ada dia akan jadi benalu di keluarga William nantinya. " ucap Hellena yang benar-benar merendahkan Alena dan putra Dean.
"Ingat ya Alena, kamu bisa seperti ini karena siapa? itu karena Putraku James.Kalau tidak, kamu mungkin akan menjadi gelandangan." sambung Hellena lagi.
"Justru aku menyesal mempercayai putra anda, Bi." ucap Alena. " Lebih baik aku jadi gelandangan dari pada hidup di bawah tekanan seperti ini." sambung Alena, yang merasa kesal dengan ucapan Hellena.
James mengepalkan tangannya dengan wajah yang memerah mendengar ucapan Alena yang menyesal mempercayai-nya.
"Sepertinya kamu kali ini terlalu banyak berbicara Alena.Aku tidak pernah bermaksud menekanmu. Kamu lah yang memaksaku untuk berbuat begitu." ucap James dengan nada kesal. " Selama ini, aku sudah berusaha memberikan yang terbaik buatmu, tapi kenapa kamu tidak pernah bisa mencintaiku lagi? hah?!" James membentak, sehingga membuat Alena terjengkit kaget.
Jhon, Papahnya William yang sedari tadi menatap layar ponselnya dan tidak terlalu memperdulikan situasi yang sedang terjadi, tiba-tiba mengakat wajahnya dari layar ponsel dan menatap istri dan putranya itu.
"James, tadi pagi ditemukan mayat seorang anak kecil laki-laki berusia sekitar 4 tahun di Sloane Street.Aku rasa itu Dean,karena ciri-cirinya juga sama." ujar Jhon sembari menunjukkan sebuah artikel berita di ponselnya ke arah James dan Istrinya.
"Itu tidak mungkin, Paman! " pekik Alena, yang langsung berdiri dan tanpa memperdulikan etika lagi, Alena merampas ponsel dari tangan Jhon untuk melihat kebenaran dari berita itu.
Tubuh Alena tersungkur ke lantai." Gak mungkin...., berita ini pasti tidak benar," Alena kembali menangis histeris, begitu melihat ciri-ciri bocah laki-laki sangat mirip dengan Dean putranya.Mulai dari tinggi badan, usia sampai pakaian yang dipakai. Hanya saja Alena tidak bisa melihat wajahnya. Karena media tersebut mensensor wajah bocah laki-laki itu.
Tiba-tiba Timbul perasaan iba, pada James, melihat Alena yang menangis histeris.Ada perasaan bersalah yang muncul dihatinya. Dia yakin, kalau mayat anak laki-laki yang ada di berita itu, pasti mayat Dean. Karena dia meninggalkan Dean memang di sekitar jalanan Sloane street yang dari dulu sudah terkenal sepi itu. Karena terlalu sepi, makanya jalan itu sering dipakai orang-orang untuk balapan motor. Tapi dibalik rasa iba-nya itu, terselip juga rasa bahagia, dimana anak itu tidak akan pernah muncul lagi sampai kapanpun.
Alena sontak berdiri dan berlari keluar sambil menangis, untuk menuju tempat dimana mayat itu berada. Sedangkan James yang melihat Alena berlari keluar, segera mengejar Alena kembali. " Kamu mau kemana?" James menangkap tangan Alena sebelum Alena sampai di pintu, lalu membawa paksa Alena kembali untuk masuk.
"Lepasin Ka James! " Alena berusaha menarik tangannya agar terlepas dari tangan James. "Aku mau melihat, apakah itu baneran Dean atau tidak! jadi tolong lepasin tanganku!" mohon Alena dengan wajah yang sudah bersimbah dengan air mata.
"Ok, kita akan kesana sama-sama.Dan jika benar itu Dean, aku akan mengurus pemakamannya juga.Tapi, sebelum kesana kita ke butik dulu buat fitting gaun pengantin.Karena kita sudah ditungguin dari tadi," ujar James melembutkan nada suaranya, tapi masih tetap lebih memikirkan rencana pernikahannya.
Alena mendongkkakkan wajahnya menatap James dengan tatapan sinis sembari berdecak dan menggeleng-gelengkan kepalanya. " Ck, Dalam keadaan begini, kamu masih tetap memikirkan pernikahan? Apa kamu sudah tidak punya hati nurani lagi? " ucap Alena yang kini menatap James penuh kebencian. " Aku seperti bersama orang asing sekarang. Orang yang hatinya sangat jahat seperti iblis, Wujudmu aja yang menyerupai manusia, tapi sebenarnya kamulah gambaran iblis yang sebenarnya." Ucap Alena sambil menatap James dengan sorot mata tajam dan berkilat-kilat penuh kebencian.
James sedikit bergidik melihat sorot mata tajam dari Alena. Dia tidak menyangka, kalau Alena bisa semarah ini,dan bahkan tidak memanggilnya dengan sebutan Kakak lagi.
"Hei, dasar perempuan ja*la*ng! berani sekali kamu mengatakan anak saya iblis, hah? " Hellena mengayunkan tangannya hendak menampar pipi Alena.Tapi, Alena segera menahan tangan Hellena dan menghempaskannya dengan keras." Jadi menurut anda, apa sebutan yang pantas buat orang seperti dia? Malaikat? apa pantas putra anda disebut sebagai malaikat?" Alena menyeringai sinis ke arah Hellena yang tidak bergeming sama sekali. " Jangankan malaikat, untuk disebut manusia saja dia tidak pantas. " tukas Alena, yang kali ini benar-benar sudah dirasuki oleh amarah yang amat sangat.
Amarah yang selama ini berusaha untuk dipendam oleh Alena, kali ini meledak seketika. Dia mengalihkan tatapannya ke arah James yang terpaku dan membeku, karena perubahan Alena yang tiba-tiba. "Dengar ya, Tuan James Reynald William, sampai kapanpun aku tidak mau menikah dengan orang seperti kamu. Kamu mau uang kamu? silahkan ambil semuanya.Toko itu aku kembalikan, rumah juga aku kembalikan,semua yang kamu pernah berikan aku akan kembalikan juga.Karena semua yang kamu pernah kamu berikan padaku, aku tidak pernah menggunakannya sama sekali." Alena diam sejenak untuk mengambil jeda sembari menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskanya kasar."Aku lebih baik jadi gelandangan, dan mati di jalanan, dari pada aku menikah dengan orang seperti mu." Ujar Alena dengan mata yang berapi-api.
James, mengepalkan kedua tangannya dengan kencang.Wajahnya kini sudah sangat memerah seperti terbakar api. Nafasnya juga sudah memburu, itu terlihat dari bahunya yang naik turun. James menghampiri Alena, dan tangannya terayun hendak memberikan pukulan ke wajah Alena.
"Hentikan! Sekali saja tangan kamu menyentuh Alena, aku jamin kamu akan hidup tanpa tangan seumur hidupmu." teriak seseorang dari arah pintu masuk.
Tbc
Jangan lupa buat ninggalin jejak ya thayank-thayangku😁