
Semua orang kini sudah berkumpul di ruang perawatan Alena. Harrold, Ellen beserta Carlos dan Cathleen juga sudah tiba di London 1 jam yang lalu.
Jangan lupakan Emma yang dipanggil Bibi oleh Dean juga sudah ada di ruangan itu, dan membawa Dean bersamanya.
Semua pandangan orang beralih ke arah pintu yang sedang dibuka oleh seseorang dari luar.
Tampak dua orang perawat, masuk dengan membawa satu bayi masing-masing di tangan kedua perawat itu.
Daven, dengan tangan yang gemetar dan sedikit kaku,mengambil alih salah satu bayinya yang berjenis kelamin perempuan ke dalam gendongannya, sedangkan Ellen, mengambil alih putra kedua Daven.
"Wah,mereka sangat cute. Yang ini sangat tampan dan yang itu sangat cantik!" seru Ellen dengan manik mata yang berbinar.
"Tentu saja,Mom! lihat dulu siapa Daddy mereka." ucap Daven bangga, hingga membuat Carlos merasa jengah mendengarnya.
"Tapi aku akan tetap lebih tampan, Nek!" celetuk Dean, tanpa beralih dari buku yang sedang dia baca saat ini.
"Iya, iya kamu tetap lebih tampan." ucap Harold sembari menggusak rambut Dean.
"Kakek, rambutku jangan diacak-acak! Bibi Emma sudah susah payah menatanya, agar selalu tampak rapi." protes Dean, seraya kembali membenarkan rambutnya. Tawa semua orang yang ada di ruangan itu,pecah melihat ekspresi kesal Dean.
"Dean, apa kamu tidak senang punya adik? kenapa kamu diam saja di sana?" Alena buka suara.
"Tentu saja aku senang, Mom! tapi aku tidak mau seperti Jeslyn yang melompat-melompat kegirangan.Itu menurutku terlalu berlebihan, Mom." sahut Dean santai.
"Dari mana kamu tahu, jalau Jeslyn melompat-lompat ketika adik-adiknya lahir? kamu kan tidak ada di sana?" Kening Daven berkerut,menatap putranya.
"Aku memang tidak di sana, Dad. Tapi, aku tahu,kalau Jeslyn selalu berlebihan dalam menanggapi sesuatu.Jadi, aku yakin kalau dia pasti melompat-melompat kegirangan kemarin, dan aku tidak mau jadi seperti dia.Itu sangat menggelikan." Dean bergidik,membayangkan dia melompat-lompat seperti Jeslyn.
"Ternyata, kamu sangat mengenal Jeslyn ya? dan Mommy yakin kalau kamu pasti sangat merindukannya sekarang." ucap Alena, dengan senyum yang meledek ke arah Dean.
"Siapa yang merindukannya? aku justru merasa hari-hariku tenang tanpa kecerewetan Jeslyn Mom!" cetus Dean, seraya mengalihkan tatapannya kembali ke buku yang dia pegang.
"Cih, ternyata bukan hanya keras kepala, dinginnya kamu yang dia tiru. Gengsi yang berlebihan juga iya." Cetus Alena,yang ditujukan kepada suaminya,Daven.
Daven terkekeh, melihat Alena yang cemberut.
"Mom, Dad, siapa nama adik-adikku? kalian tidak mungkin akan melupakannya kan?" aura dingin Daven,benar-benar menular ke Dean sekarang.
"Iya, kami juga ingin tahu, siapa nama mereka." Ellen menimpali ucapan Dean, sembari meletakkan bayi yang ada dalam gendongannya, ke dalam box bayi yang sudah tersedia di dalam ruangan itu, disusul oleh Daven yang meletakkan putrinya di tempat yang sama dengan kakak laki-lakinya.
"Aku sebenarnya belum memikirkan nama, aku menyerahkan semuanya buat Daven." cengir Alena, tapi terlihat keseriusan dalam ucapannya.
"Aku sudah menyiapkan nama mereka jauh-jauh hari." Tegas Daven.
" Untuk putraku,aku beri nama Darrick Aiden Murphy yang artinya, kuat dengan semangat yang membara seperti api.Untuk putriku, aku kasih nama Darina Aileen Murpy. yanga artinya wanita cantik, berkedudukan tinggi." sambung Daven tidak kalah tegasnya dari yang tadi.
" Wow, nama yang sangat bagus!" celetuk Carlos, yang dari tadi hanya jadi pendengar yang baik saja,bersama Cathleen, yang terlihat kurang bersemangat, karena dia sampai sekarang belum hamil juga,padahal dia sudah selalu berusaha untuk bisa hamil.
Disaat bersamaan, ponsel Alena berbunyi, panggilan video yang datang dari Hanna Mamahnya. Mereka berbasa-basi sebentar yang diselingi dengan permintaan maaf dari Hanna,yang tidak bisa datang karena Jenni juga baru melahirkan.
"Mana cucu-cucuku?" tanya Hanna yang sangat antusias ingin melihat kedua cucunya yang baru saja lahir.
"Ini mereka,Mah!" Daven mengarahkan ponselnya ke arah kedua bayinya yang masih tertidur di box bayi.
"Ihh, gemasnya." Hanna mencium layar ponselnya, dengan kedua mata yang sudah berkilat-kilat karena terharu.
"Aku juga mau lihat Mah!" celetuk Jenni dari arah yang berbeda.
Hanna membawa ponselnya,mendekat ke arah Jenni yang juga sangat ingin melihat anak-anak Alena.
"Haish, kenapa mereka berdua bisa begitu menggemaskan Alena? Kalau aku ada di sana, pipi mereka pasti akan habis aku cubit." Jenni terlihat gemas, melihat baby Darrick dan Baby Darina.
"Tentu saja mereka menggemaskan, emang aku kurang menggemaskan menurutmu?" ujar Alena, membanggakan dirinya sendiri,hingga membuat Jenni berdecih,jengah mendengar Alena yang terlalu percaya diri.
"Ihh, Bibi, ganti adik Jeslyn sama adik perempuan ya! adik perempuannya sangat menggemaskan." pekik Jeslyn histeris dari ujung sana. Pekikan Jeslyn langsung menarik perhatian Dean dan juga Bibi Emma yang tersenyum samar.
"Tidak boleh! enak saja main ganti-ganti!" cetus Dean, sengaja meninggikan suaranya, agar bisa didengar oleh Jeslyn dari ujung sana.
Jeslyn sontak terdiam dengan bibir yang mengerucut mendengar teriakan Dean, tanpa mau menampakkan wajahnya sama sekali.
Setelah cukup lama berbasa-basi, akhirnya panggilan video pun, berakhir, setelah Hanna, memutuskan panggilan dari arah sana.
"Nona Alena, apakah Jeslyn baik-baik saja, dan terlihat bahagia?"tanya Bibi Emma tiba-tiba dengan mimik wajah yang sendu.
"Iya! tentu saja dia bahagia! kenapa Bi?" tanya Alena. Ekor mata Alena sedikit menyipit, menatap curiga pada Bibi Emma.
"Oh, tidak! aku hanya asal bertanya saja Nona." sahut Bibi Emma dengan sedikit gelagapan. "Kalau begitu boleh saya pamit sebentar, ke supermarket Nona, Tuan?" pamit Bibi Emma.
"Oh, tentu saja boleh,Bi!" kali ini Daven yang menjawab.
"Boleh aku ikut dengan Bibi Emma? aku mau membeli es cream." wajah Dean terlihat memohon, agar diizinkan keluar bersama Bibi Emma
"Boleh! Bibi Emma, tolong kamu bawa Dean bersamamu!" titah Daven.
"Baik Tuan!" Emma mengandeng tangan kecil milik Dean, dan mengayunkan langkah menuju pintu.
"Kenapa dengan Bibi Emma? kenapa raut wajahnya berubah ketika mendengar suara Jeslyn?" tanya Alena, tidak bisa lagi menyembunyikan keingintahuannya, setelah Bibi Emma keluar bersama Dean.
"Mungkin dia hanya risau saja, apa Jenni dan Andrew tidak akan menyayangi Jeslyn lagi, karena kehadiran Arthur dan Aaron." sahut Daven.
"Kenapa, Ka Andrew dan Jenni, tidak akan menyayangi Jeslyn lagi? itu kan tidak mungkin terjadi. Seperti aku, rasa sayangku,tidak mungkin berubah dengan kehadiran Darrick dan Darina. Bibi Emma ada-ada saja!"
"Aku sih tidak heran dengan itu, mengingat Jeslyn adalah cucunya." Daven berucap dengan tanpa sadar.Hingga membuat Alena terkesiap dengan kedua mata yang membesar.
Tbc
Dua episode lagi mungkin novel ini akan segera tamat,Terima kasih sudah sabar menunggu.Jangan lupa buat tetap mendukung novel ini,dengan like, komen dan Vote.Kasih hadiah juga boleh๐๐.