Cinta Terhalang Janji

Cinta Terhalang Janji
Dimana dedek bayinya?


Pagi kembali menyapa. Kelopak mata Alena tampak bergerak-gerak,pertanda sebentar lagi dia akan bangun. Benar saja, mata Alena tampak terbuka perlahan, dan mengerjap-erjapkannya barang sebentar.


Dia hendak menggerakkan badanya,tapi sesuatu yang berat sangat terasa menimpa tubuhnya.


Alena melihat tangan besar Daven, memeluknya dengan sangat erat, seperti takut dia akan kabur. Alena menatap wajah Daven dalam-dalam.Seulas senyuman kini sudah terbit menghiasi bibirnya. Alena tidak menyangka kalau Laki-laki dingin dan terkesan arogan ini akan menjadi suaminya dan bahkan sangat mencintainya.


Tadi malam masih teringat jelas di benaknya ucapan Daven yang membuat pipinya merona saat melihat tubuhnya yang polos.


"Wow, ternyata begini bentuknya.Dulu aku melakukannya dalam keadaan tidak sadar, sekarang aku bisa melihatnya secara sadar, kok bisa seindah ini ya?" ujar Daven malam tadi.


Alena, perlahan memindahkan tangan Daven, agar Daven tidak terbangun. Lalu Alena menggerakkan tubuhnya hendak beranjak turun. Badannya terasa pegal hampir di seluruh persendian. Bagaimana tidak, Semalaman Daven menggempurnya habis-habisan seperti singa yang bertahun-tahun tidak makan.


Alena melirik jam yang terletak di atas nakas. Tiba-tiba dia melompat kaget melihat jam yang tenyata sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Dia berlari ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Karena merasakan goncangan yang hebat pada tempat tidurnya, Daven pun ikut terkaget. Dia langsung terbangun dan melihat tempat Alena yang sudah kosong.


Alena mandi hanya 10 menit saja.Dia keluar kamar mandi dengan sehelai handuk yang melilit di tubuhnya.Wajahnya panik plus bingung mau memakai baju apa.


"Kenapa Alena?Kok wajahmu panik?" Daven yang belum membiasakan diri, mengganti panggilan Alena menjadi sayang,bertanya dengan mata yang menyipit ke aras Alena.


"Ka Dave, kamu lihat jam itu!!sudah hampir jam setengah 10. Tapi, aku baru bangun dan lupa buat sarapan buat Dean." Alena menyahuti kebingungan Daven. " Dan sekarang,bagaimana aku bisa keluar dari kamar ini? aku tidak memiliki pakaian ganti," sambungnya lagi dengan tetap ekspresi panik.


Daven terkekeh melihat tingkah Alena yang terlalu berlebihan. Tingkah Alena semakin menggemaskan di matanya kini.


"Kamu tidak perlu terlalu panik begitu Alena! Madam Brenda pasti sudah menyiapkan sarapan buat Dean. Dan untuk pakaian, kamu tunggu saja, sebentar lagi mungkin barang-barang kamu akan tiba di sini. Tadi malam aku sudah memerintahkan seseorang untuk mengantarkannya. jadi, untuk sementara kamu pakai baju aku dulu!" Daven melangkah, masuk ke ruang ganti, untuk mencari baju kaus yang bisa dipakai ole Alena.


Setelah menemukannya Daven membawa dan langsung memberikannya ke tangan Alena.Akan tetapi, Alena tidak langsung memakainya, dia menatap Daven, seperti ada yang ingin dia katakan.


"Kenapa Alena? Kenapa kamu belum memakainya? Ayo pakai! nanti kamu bisa masuk angin. " ujar Daven.


"Ka, sini deh! panggil Alena pelan seperti berbisik.


Daven mengayunkan langkahnya, mendekati Alena dengan air muka yang bingung.


Alena menarik tubuh Daven agar sedikit membugkuk. Alena mendekatkan bibirnya ke telinga Daven." Ka, aku gak punya pakaian dalam," bisiknya dengan wajah yang sudah merona.


Daven sontak tertawa, melihat ekspresi istrinya yang menggemaskan itu. "Kamu gak usah pakai dulu. Atau kamu mau pake punyaku?" tanya Daven sambil mengangkat kedua alisnya ke atas, menggoda Alena.


"Gak usah!" jawab Alena dengan bibir yang tercebik.


Suara ketukan dari luar, seketika menghentikan tawa Daven.Dia pun melangkah ke arah pintu untuk membukakan pintu.


"Tuan, ini ada barang-barang Nona Alena.Tadi ada orang yang mengantarkannya." ucap sesorang yang berdiri di depan pintu, yang ternyata madam Brenda.


"Oh iya Bibi, terima kasih!" Daven mengambil alih koper Alena dari tangan madam Brenda.


"Sama-sama Tuan! Oh iya Tuan, apa aku membawakan sarapan buat anda dan Nona Alena?" tanya madam Brenda, sebelum dia meninggalkan Daven.


"Tidak usah Bi! Aku akan turun dengan Alena nanti!" sahut Daven.


*******


30 menit kemudian tampak Daven dan Alena turun ke bawah.Alena tampak menundukkan kepalanya merasa malu untuk menatap Ellen mertuanya yang kini sedang duduk bersama dengan Jenni. Sedangkan Dean terlihat bermain sendiri.


"Bagaimana tidurnya Alena? tidak ada yang mengganggu kan?" sindir Ellen sambil melirik Daven.


Daven mendengus kesal, merasa tersindir dengan ucapan Mommy-nya.


"Mom, Dad, dedek bayinya mana?" celetuk Dean tiba-tiba seraya matanya mengedar seperti mencari seseorang.


"Hah? dedek bayi?, dedek bayi apa?" raut wajah Alena terlihat kebingungan.


"Bibi Jenni bilang, mommy dan Daddy lagi buat dedek bayi buat Dean, dan Dean disuruh tidak boleh ganggu. Apa dedek bayinya masih tidur?" tanya Dean beruntun.


Alena sontak menghunuskan tatapannya ke arah Jenni, dan yang ditatap bukannya takut malah nyengir ke arah Alena seraya mengacungkan jari tengah dan jari telunjuk bersamaan.


"Dedek bayinya, tidak bisa dibuat hanya sekali sayang! perlu berulang kali membuatnya dan harus kerja keras." Jenni menjelaskan pada Dean, yang membuat Dean semakin kebingungan.


"Oh ya? Apa buat Dede bayi itu susah? " Dean yang kurang puas dengan jawaban Jenni kembali bertanya.


"Sama halnya seperti membuat kue, walaupun bahannya sudah lengkap, kalau dalam proses pembuatannya salah, kue itu bisa gagal." sahut Jenni yang semakin membuat Dean bingung dan gagal paham.


"Itu mungkin Bibi! Karena Bibi gak bisa bikin kue.Kalau Mommy tidak pernah gagal kok membuat kue." tukas Dean frontal, yang tidak memperdulikan apakah orang yang di ajaknya bicara, sakit hati atau tidak.


Jenni mendengus kesal, mendengar ucapan Dean yang eksplisit. Sedangkan Alena dan Ellen, terlihat menahan tawa melihat Jenni yang kehabisan kata-kata.


"Ok, Dean, intinya membuat adik bayi itu tidak susah dan malahan e____,"


"Jenni, stop meracuni putraku!" Alena buru-buru menyela ucapan Jenni, karena dia tahu Jenni akan mengatakan enak.


"Mommy, Bibi Jenni tidak pernah meracuniku.Kalau dia meracuniku, aku pasti sudah mati.Jadi jangan marahin Bibi Jenni!" ucap Dean, yang tidak diterima kalau Jenni disalahkan.


"Boys, sekarang ..., kamu main dulu ya! Mommy dan Daddy mau sarapan dulu. Intinya Dede bayi itu tidak akan cepat jadinya, perlu menggu waktu yang lama, dan stop bertanya kenapa". ucap Daven langsung, sebelum Dean bertanya kenapa.


"Baik, Dad!" Dean melangkah sedikit menjauh, dan mulai bermain lagi.


"Jen, Andrew dan Jeslyn kemana?" tanya Daven yang tidak melihat keberadaan Andrew dan putri kecilnya dari tadi.


"Hmm, mereka berdua lagi bermain, membuat manusia salju di luar. Dean tadi sudah diajak, tapi dia tidak mau sama sekali." sahut Jenni.


"Ayo, sayang! kita sarapan dulu! ucap Daven tanpa sadar memanggil Alena sayang. sehingga membuat Jenni berdecih.


"Huft, aku kalah satu langkah dari Alena.Baru bertemu saja udah dipanggil sayang, aku udah hampir 5 tahun bersama tidak pernah di panggil sayang." Jenni menggerutu pelan, tapi masih bisa di dengar oleh semuanya.


Tbc


Jangan lupa like, rate, vote dan komen. Kasih hadiah juga boleh😁😁😁