
"Oh, sheela! Aku James! tepatnya James Reynald William." James mengulurkan tangannya ke arah Shella, dan Sheela langsung menyambut uluran tangan James,tanpa menanggalkan senyuman dari bibirnya.
"Sepertinya aku pernah mendengar nama itu. Apa kamu ada kaitannya dengan William group?" tanya Sheela, sembari memicingkan kedua matanya.
"Emm! Aku putra dari Jhon William," sahut James tanpa senyuman.
Sheela langsung terkesiap dan buru-buru menjaga jarak dari James. " Maaf, Tuan James, aku benar-benar tidak tahu." Sheela langsung membukkukan sedikit badannya.
"Kamu gak usah terlalu sungkan begitu, dan tidak usah memanggil ku Tuan! panggil James saja!"
"Emm, tapi___"
"Gak ada tapi-tapi!" tegas James.
"Oh, ok Tu ..., eh James." Sheela terlihat sangat
gugup.
"Maaf, boleh aku pamit pulang sekarang? soalnya adik ku menungguku di rumah." tanya Sheela dengan hati-hati.
"Dimana rumah kamu? biar aku antarkan saja! Kedua bajingan tadi mungkin masih ada di sekitar sini." ucap James.
"Tidak usah, James. Aku bisa pulang sendiri. Aku yakin mereka tidak akan berani lagi untuk datang kesini!" Sheela berusaha untuk menolak, karena merasa tidak enak hati.
"Tidak ada yang bisa menjamin itu.Ayo aku antar! " James mengayunkan langkahnya mendahului Sheela yang sepertinya masih enggan untul mengikuti James.
James memutar badannya kembali, dan melihat, kalau Sheela, masih belum bergerak dari tempatnya.
"Kenapa kamu masih diam aja di sana? Apa aku perlu menggendongmu?"
Wajah Sheela sontak merona mendengar ucapan James.
"Oh, tidak usah, James! aku bisa jalan sendiri." Sheela segera menghampiri James dengan sedikit berlari.
James sebenarnya sudah siap untuk melajukan mobilnya. Akan tetapi entah kenapa dia belum juga menjalankan mobilnya itu. Dia menoleh ke arah Sheela yang juga menatapnya dengan raut wajah yang bingung.
James memberikan isyarat lewat matanya, agar Sheela memasangkan seatbealt(sabuk pengaman)nya. Akan tetapi, Sheela sama sekali tidak mengerti maksud dari isyarat mata yang dibuat oleh James. Sheela justru mengangkat alisnya ke atas, seperti bertanya ada apa.
James, menghela nafasnya dengan kasar, lalu melepaskan sabuk pengamannya terlebih dahulu. Dia mendekat ke arah Sheela seperti hendak menciumnya, hingga membuat Sheela beringsut mundur sambil menyilangkan tangan di dadanya,sampai tubuhnya menyender ke jendela mobil James.
Ketika James mendekat, aroma mint yang keluar dari mulut James, membuat Sheela meremang dengan jantung yang berdetak dengan sangat cepat. Tanpa sadar dia menutup matanya, seperti pasrah menyambut datangnya bibir James yang mendarat ke bibirnya.
"Udah! kita bisa jalan sekarang!" ujar James, yang membuat Sheela tersentak dan langsung membuka matanya.
"****! bisa-bisanya aku berpikir, kalau dia mau menciumku." batin Sheela, sembari menepuk-nepuk jidatnya. Lalu dia pun mengeleng-gelengkan kepalanya dengan wajah yang sudah memerah maksimal.
James kembali memasangkan sabuk pengaman buat dirinya sendiri,lalu memutar kontak kunci mobil dan melajukannya perlahan.
"Kamu kenapa?" tanya James yang bingung melihat tingkah Sheela.
James, mengedikkan bahunya, seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu dia kembali fokus mengemudikan mobilnya.
******
Brianna berjalan dengan angkuh, masuk ke sebuah club malam di Irlandia. Semenjak orangtua dan kekasihnya Steve bangkrut, dia harus menjual diri untuk bisa memenuhi kehidupan Glamournya.
kedua netra nya mengedar untuk mencari keberadaan laki-laki yang telah membookingnya. Karena terlalu fokus mencari, tiba-tiba Brianna menabrak seseorang hingga terjatuh.
"Kamu bisa jalan mata gak sih?" terdengar suara seorang perempuan, membentak Brianna, sembari berdiri dan menepuk-nepuk debu yang menempel di gaun seksinya.
" Cih, harus kamu juga pake mata dong!" bukannya mintah maaf, justru di balik membentak wanita itu.
"Hei, harusnya kamu minta maaf, bukannya malah membentak aku balik!" suara wanita itu sudah semakin meninggi, seraya menghunuskan sorot mata yang tajam ke arah Brianna. Akan tetapi, dia tiba-tiba terkesiap, begitu melihat siapa wanita di depannya yang tengah berdiri dengan angkuhnya.
"Hei, tunggu dulu, bukannya kamu Brianna? wanita yang sudah merusak rumah tanggaku dengan Steve? ada urusan apa kamu di sini?" ucap Wanita, yang ternyata Clara, mantan wanita yang pernah disukai oleh Andrew, seraya menatap penampilan Brianna dari atas sampai kebawah.
"Mau apa pun aku disini, itu bukan urusanmu! minggir kamu!" Brianna mendorong tubuh Clara ke samping, dan dia mengayunkan langkahnya hendak meninggalkan Clara.
"Jangan bilang kamu menjadi wanita panggilan sekarang?" ucapan Clara langsung menyurutkan langkah Brianna yang wajahnya sekarang sudah memerah karena amarah yang sudah sampai ke ubun-ubunnya. Dia pun langsung berbalik kembali dan menghampiri Clara yang kini tengah menyeringai sinis ke arahnya.
"Jaga mulutmu! bukannya tadi aku sudah bilang, apa pun yang aku lakukan, itu bukan urusanmu." ucap Brianna seraya mencengkram dagu Clara.
Clara menepis dengan kasar tangan Brianna yang sedang mencengkramnya. " Memang bukan urusanku, hanya saja aku kasihan dengan Steve, yang bisa terjebak dengan wanita murahan sepertimu, yang menghalalkan segala cara untuk bisa hidup mewah, dan begitu dia bangkrut, langsung kamu campakkan seperti barang usang."
"Cih, kamu tidak usah munafik.Aku juga tahu, kalau kamu berada di tempat ini juga karena kamu wanita panggilan kan? dan asal kamu tahu, aku juga tahu kalau dulu, kamu mau menikah dengan Steve, juga karena kamu menginginkan kehidupan yang mewah kan?" Brianna berucap sembari menyeringai sinis ke arah Clara, yang kini terlihat menggeram, dengan dada yang sudah menggemuruh. Tapi dia tidak menampik kalau semua yang dikatakan oleh Brianna benar adanya.
"Daripada kita bertengkar, bagaimana kalau kita bekerja sama saja?" ucap Brianna dengan sudut bibir yang terangkat.
"Apa maksudmu kita bekerja sama?" sahut Clara sembari menyipitkan matanya ke arah Brianna.
"Kita bekerjasama untuk mendapatkan laki-laki yang kita inginkan.Aku dengan Daven, kamu dengan Andrew. Aku juga tahu, kalau kamu juga sakit hati kan, ketika Andrew menolakmu?"
"Aku tidak mau! Kamu tahu sendiri bagaimana bahayanya kedua orang itu, kalau seandainya perbuaatan kita terbongkar nantinya. Aku tidak mau mengambil resiko."tolak Clara tegas.
"Kamu jangan khawatir, kali ini kita akan bermain cantik. Aku berani jamin, kalau kali ini kita akan berhasil mendapatkan apa yang kita mau." ucap Brianna dengan tersenyum licik.
" Apa yang kamu rencanakan?" tanya Clara yang mulai terpancing untuk mengikuti rencana Brianna.
"Kamu kasih aku nomor ponselmu aja dulu! Nanti aku akan ajak kamu bertemu, untuk membicarakan langkah selanjutnya. Kalau sekarang aku tidak punya waktu karena aku harus segera menemui laki-laki yang sudah membookingku."
"Baiklah! sini ponsel kamu, biar aku ketik di ponsel mu aja langsung!" Clara menerima ponsel Brianna dan dengan cepat mengetikkan nomornya di ponsel itu."
"Itu nomor ku. Aku juga mau pergi dulu! karena laki-laki yang membookingku sudah tidak sabar lagi." Clara mengayunkan langkahnya meninggalkan Brianna, yang juga langsung pergi menemui laki-laki yang membookingnya.
Tbc
Jangan lupa buat like, vote dan komen ya gais.🙏🤗