Cinta Terhalang Janji

Cinta Terhalang Janji
Wanita itu adalah kamu


"Nek, kenapa Mommy dan Daddy tidak turun makan malam?" tanya Dean sambil mengarahkan tatapannya ke arah tangga.


"Malam ini, Daddy dan Mommy tidak akan turun buat makan malam sayang! Madam Brenda tadi sudah mengantarkan makan malam untuk Mommy dan Daddy," sahut Ellen seraya mengelus-elus kepala Dean dengan lembut.


"Tapi, kenapa mereka harus makan malam di kamar? Kan kalau makan di kamar itu tidak bagus Nek! , karena kata Mommy kalau ada makanan yang terjatuh, akan mengundang banyak semut untuk datang," Dean bertanya sambil memiringkan kepalanya sedikit, sehingga tampak menggemaskan.


"Oh, Mommy sama Daddy lagi mengadon kue sayang!" sahut Ellen, berharap Dean akan berhenti bertanya. Harold langsung menghunuskan tatapannya ke arah Ellen,mendengar jawaban yang diberikannya pada Dean.


"Mengandon kue ...? kok dikamar? harusnya kan di dapur Nek? " Dean bukan berhenti bertanya, Dean malah semakin gencar bertanya.


Ellen, menggaruk-garuk kepalanya, yang tidak gatal.Dia bingung mau jawab apa lagi.


"Dean mau punya adik bayi lagi Gak?" Kali ini Jenni yang bertanya, dan gantian Andrew yang melotot.


"Mau dong Bibi! Tapi jangan seperti dia!" menunjuk ke arah Jeslyn yang langsung cemberut.


"Kenapa dengan Jeslyn? bukannya putri Bibi ini cantik dan menggemaskan?" Jenni sama sekali tidak merasa sakit hati atas ucapa Dean yang memang cukup pedas seperti mulut Daven daddynya.


"Dia cerewet Bi! dan suka maksa-maksa Daen main boneka sama dia, Dean kan gak suka!" sahut Dean sambil menghunuskan tatapannya ke arah Jeslyn yang juga membalas tatapannya dengan tak kalah tajam.


"Udah ...udah! kalian selalu saja berantem! Dean kalau kamu mau punya adik bayi lagi, jangan ganggu Daddy sama Mommy mu, karena mereka lagi membuatkan adik buatmu!" bisik Jenni ke telinga Dean.


Manik mata Dean terlihat berbinar-binar dengan bisikan Jenni. Jenni membuat jari telunjuk, dibibirnya agar Dean tidak memberi tahukan siapapun apa yang sudah dia bisikkan tadi.


"Ohh!" Dean manggut-manggut mengerti maksud isyarat Jenni.


"Jadi Mommy dan Daddy lagi buatin adik bayi buat Dean ya Bi? Ok Dean tidak akan mengganggu Daddy dan Mommy." ucap Dean sangat pelan seperti berbisik ke arah Jenni, tapi ucapannya masih bisa di dengar oleh semua yang ada di ruangan itu.


Jenni, menepuk jidatnya. "Astaga, kamu itu berbicara pelan, bukan berbisik Dean!" Jenni cengengesan menatap Harold dan Ellen. Tiba-tiba Jenni langsung bergidik, begitu melihat tatapan dingin Andrew suaminya.


"Aku permisi,masuk kamar dulu! Jeslyn ayo ikut Mamah!" Jenni berdiri dan meraih tangan Jeslyn untuk ikut dengannya.


"Jeslyn di sini aja sama Nenek dan Kakek! Papah aja yang ikut Mamah. Jeslyn juga mau adik bayi. Jeslyn janji tidak akan ganggu mamah dan papah! " ujar Jeslyn yang membuat Jenni semakin salah tingkah dan buru-buru pergi dari ruangan itu.


Ellen dan Harold tidak bisa lagi menahan tawa mereka, terlebih melihat Jeslyn yang menarik-narik tangan Andrew,agar segera menyusul Jenni ke kamar. Seandainya bisa, ingin sekali Andrew membenamkan wajahnya ke dalam tanah, sampai kedalaman paling akhir, karena terlalu malu.


*******


Alena dan Daven sudah menghabiskan makan malam mereka.Setelah selesai makan, suasana canggung kembali terasa di antara mereka berdua. Berkali-kali Alena mencuri pandang ke arah Daven, seperti ingin bertanya sesuatu.


"Kalau mau bertanya, bertanyalah! tidak usah curi-curi pandang seperti itu!" ucap Daven tanpa mengalihkan tatapannya dari layar ponsel ditangannya.


Daven terlihat sangat serius dengan permainan game diponselnya. Dia bertindak seperti gamers hebat, padahal dari tadi dia asik kalah aja. belum satu menit udah game over. Itu disebabkan karena jantungnya tidak bisa di ajak kerja sama.


"Hmm, Ka? bagaimana kabar wanita yang kaka cari itu?" tanya Alena memulai percakapan, untuk mencairkan suasana akward diantara mereka berdua.


"Dia baik-baik saja, hanya terlihat sedikit kurusan saja!" jawab Daven asal.


Alena menghela nafasnya dan kembali menatap Daven yang tetap fokus pada ponselnya(entah apa yang di fokuskannya, author pun tak tahu). " Apa dia punya penyakit makanya dia kurusan?" tanya Alena lagi.


"Entah! apa kamu punya penyakit?" Daven balik bertanya, sehingga membuat alis Alena bertaut.


"Kok jadi nanya aku Ka Dave? Kalau aku ..., aku tidak punya penyakit." sahut Alena sedikit kesal.


"Oh, itu berarti,wanita itu tidak punya penyakit juga." tukas Daven semakin membuat Alena merasa ambigu dengan ucapan-ucapan Daven.


"Kenapa Kaka tidak jadi menikahinya? bukannya Kaka sudah berjanji akan menikahinya? " Alena tidak bisa menahan lagi hal yang ingin sekali dia tanyakan.


Daven menghela nafasnya, dan meletakkannya di atas nakas, lalu menoleh ke arah Alena.


"Siapa bilang, aku tidak jadi menikahinya? aku bahkan sudah memiliki anak dengannya." ucap Daven sambil menatap intens manik mata Alena yang tampak sudah berkaca-kaca.


"Jadi, untuk apa Kaka masih mencariku, dan tidak menceraikanku? Kalau begini, Kaka sudah memepermainkan perasaan dua orang wanita." suara Alena terdengar meninggi.Dia menggerakkan tubuhnya hendak beranjak meninggalkan Daven.Tapi sebelum dia benar-benar beranjak, tangan besar Daven langsung menahan dan bahkan menarik tangan Alena, sehingga tubuh Alena menindih tubuh besar Daven.


Mata mereka saling terpaut cukup lama, dan detak jantung merka berdua berdetak dengan kencang.Degupan jantung Alena sangat terasa di dada Daven, demikian juga degupan Daven sangat terasa di dada Alena.


"Kamu mau kemana?" tanya Daven lembut, hingga membuat seluruh tubuh Alena meremang.


Untuk berberapa saat, keheningan kembali tercipta, karena tidak ada jawaban dari Alena. Alena terlihat terbuai dengan dekapan dan tatapan Daven, sehingga bibirnya terasa kelu untuk menjawab.


"Kenapa tidak menjawab, hem? apakah wajahku terlalu tampan sehingga,air liurmu sampai menetes tidak kamu sadari?" Daven mengerlingkan matanya ke arah Alena.


Alena sontak melap ujung bibirnya, karena ucapan Daven. "Tunggu!, kamu mengerjaiku ya? mana ada air liurku menetes?" Alena memukul-mukul dada Daven, sedangkan Daven terkekeh melihat reaksi Alena.


"Kamu jahat! aku mau keluar dari kamar ini! " Alena bangun dari atas dada Daven dan beranjak menuju pintu.


"Kamu mau keluar dengan pakaian seperti itu? " ucapan Daven, sontak menyurut kan langkah Alena.Dengan bibir yang tercebik, Alena kembali memutar badannya dan kembali melangkah mengahampiri Daven yang tersenyum meledek. Daven kini terlihat sangat menyebalkan dimata Alena.


"Arghhhh, Jenniiii! teriak Alena sambil mengacak-acak rambutnya.


"Hatchiii!," Jenni bersin di kamarnya.


Tingkah Alena terlihat sangat menggemaskan di mata Daven sekarang.Dengan sekali tarikan, Daven kembali mendekap tubuh Alena.


"Aku memang benar-benar sudah menikahi wanita itu 5 tahun yang lalu, Alena dan wanita itu adalah Kamu." Kedua netra Alena membesar seketika mendengar ucapan Daven.


Tbc


Jangan lupa buat like, vote dan komen.Thank you.



ekspresi meledek,Daven