
Daven , Alena dan Andrew meninggalkan apartemen James dengan hati yang lapang. Kemarahan Daven pada James dulu, menguap entah kemana, mengingat pertolongan James yang benar-benar telah menjadi hero dalam keutuhan pernikahannya dengan Alena.
"Drew apa kamu mau langsung pulang ke rumah atau mau kemana dulu?" tanya Daven memecah keheningan, dalam perjalanan pulang.
" Tidak, Tuan! kalau anda tidak keberatan, aku ingin pergi ke suatu tempat yang tidak diketahui oleh Jenni." sahut Andrew sambil tersenyum miring.
"Apa Ka Andrew masih marah dan ingin membalas Jenni?" kali ini Alena yang membuka suara.
"Sebenarnya aku tidak marah Alena, aku hanya ingin sedikit bermain-main dengan dia. Dia telah membuat perasaan dan hidupku kacau seharian ini. Aku hanya ingin memberikan pelajaran sedikit dengan membiarkan dia merasa kacau juga." tukas Andrew masih dengan mode tersenyum miring.
"Jadi, apa rencanamu?" Alena bertanya seraya menautkan kedua alisnya ke arah spion, karena Kebetulan Andrew, sedang melihatnya melalui kaca spion juga.
"Untuk berberapa hari ini, aku akan menghilang dari hidupnya, Alena . Biar dia terjebak dengan permainan yang telah dibuatnya sendiri."
"Bukankah itu sedikit belebihan,Ka Andrew? Apa kamu mau melihat Jenni menangis setiap hari? untuk satu malam ini, ok lah Kaka menghilang untuk sementara, tapi kalau sudah seminggu atau lebih sepertinya itu sangatlah berlebihan." Alena menyampaikan keberatannya.
"Hmm, sebenarnya memang sedikit berlebihan, Alena. Karena aku juga harus kuat menahan rindu untuknya dan Jeslyn. Tapi, sebenarnya ada hal lain yang ingin aku lakukan.Dan ini, sudah cukup lama aku ingin segera lakukan." pungkas Andrew seraya menghela nafasnya.
"Kalau Kakak tak keberatan untuk membagi tahu, hal apa yang ingin sekali Kakak lakukan itu?" tanya Alena yang sudah dilingkupi oleh rasa penasaran.
"Iya , Andrew, aku juga jadi penasaran dengan apa yang ingin kamu lakukan itu. Mana tahu kami bisa membantumu." Daven menimpali ucapan istrinya.
Andrew menghela nafasnya dengan cukup lambat, bimbang antara mau memberitahukan atau menutupinya. Akhirnya karena desakan yang penuh intimidasi dari tatapan Daven, Andrew akhirnya memberitahukan apa yang mau dilakukannya dari dulu.
********
Jenni terlihat mondar-mandir, cemas menanti Andrew yang tak kunjung pulang. Ada rasa penyesalan, dengan tindakan jahil yang sudah dia lakukan pada Andrew.
Jenni berlari ke arah pintu ketika dia mendengar suara mobil yang berhenti di depan rumah. Tapi seketika, dia kecewa melihat yang datang bukanlah Andrew, tapi Harold dan Ellen yang datang untuk mengantarkan Jeslyn yang terlihat sudah tertidur, pulang.
"Jenni, dimana Andrew? kenapa dia tidak ikut keluar? jadi siapa yang akan menggendong Jeslyn ke dalam?" tanya Harold sembari mengedarkan tatapan ke dalam rumah.
"Andrew belum pulang Dad! biar Jeslyn aku yang gendong ke dalam Dad." Jenni membukakan pintu mobil dan hampir membawa putrinya itu ke dalam gendongannya.
"Biar Daddy saja yang mengendongnya ke dalam Jen! kamu tidak akan kuat menggendongnya." Harold turun dari dalam mobil dan menggendong Jeslyn masuk ke dalam dan membaringkannya di kamar.
"Ya udah Jen, kami pamit dulu ya! kami juga mau kerumah Daven buat mengantar Dean pulang." ucap Ellen setelah suaminya sudah kembali masuk lagi ke dalam mobil.
"Iya Mom! terima kasih udah mau ngajakin Jeslyn jalan-jalan hari ini." Jenni terlihat tersenyum terpaksa.
"Wajahmu kenapa Jen? Kamu sepertinya tidak bersemangat?" Ellen bertanya sembari menautkan kedua alisnya.
"Oh, aku gak pa-pa Mom! aku cuma sedikit pusing saja."
"Oh, kamu minum obat dan istirahat ya! Mommy dan Daddy pergi dulu! kasihan Dean udah ketiduran juga dari tadi." Harold melajukan mobilnya, setelah Jenni menganggukkan kepalanya.
Sebelum Jenni masuk ke dalam, Jenni terlebih dahulu memanggil penjaga. "Tolong, bawa Nona Clara kedalam gudang saja, dan berikan dia makan! Setelah itu,kunci kembali dia di sana.Aku tidak mau sampai Jeslyn melihat dan mengetahui apa yang terjadi!" Jenni mengayunkan kakinya melangkah masuk kedalam kamar, setelah penjaga itu, mengiyakan perintahnya.
"Hmm, mending aku menunggu di kamar saja. Kalau nanti aku menunggunya di bawah, bakal ketahuan kalau aku lagi berpura-pura marah padanya.Rasanya aku belum puas, mendengar ungkapan cintanya." semangat Jenni kembali lagi, setelah membayangkan Andrew yang berlutut meminta maaf dan memohon agar mereka tidak berpisah, karena Andrew begitu mencintainya.
*********
"Loh, Andrew, kenapa kamu ada di sini? istrimu katanya sedang sakit kepala, kamu malah ada di sini?" tanya Ellen,yang tiba-tiba sudah muncul, bersama Harold yang membawa Dean dalam gendongannya.Lalu memberikannya pada Daven,agar dibawa masuk ke kamarnya.
"J-Jenni sakit Mom?" Andrew sontak berdiri, dengan raut wajah yang panik. Tapi dia kembali duduk, tidak mau terperdaya dengan Jenni.
"Dia tidak lagi bersantai Mom! tadi ada hal mendesak yang harus kami kerjakan.Sebentar lagi dia juga akan pulang." sahut Daven yang baru saja kembali dari kamar Dean.
"Oh, begitu! kalau begitu, mommy dan daddy mau pamit, soalnya seharian ini, tenaga dan pikiran mommy sedikit terkuras menghadapi dua bocah yang selalu berantem itu! jadi mommy dan daddy butuh istirahat." ucap Ellen
" Apa, mommy dan Daddy tidak istirahat di sini aja? kalau pulang nantikan capek lagi Mom!"Alena buka suara.
"Tidak perlu Alena. Kami pulang saja." Ellen berdiri dan diikuti oleh Harold. Detik berikutnya Ellen dan Harold sudah melangkah keluar beriringan disusul Alena yang berjalan di belakang kedua mertuanya itu.
Setelah mengantarkan kedua mertuanya ke depan dan setelah mobil yang dikendarai mertuanya itu, tidak terlihat lagi, Alena kembali ke dalam untuk kembali bergabung dengan Daven dan Andrew.
Baru saja Alena mendaratkan tubuhnya di samping Daven, ponselnya berbunyi,tanda ada panggilan masuk. Alena meraih ponselnya dan melihat nama Jenny tertera sedang memanggil.
"Ka Ndrew, Jenni menelepon, aku harus jawab apa?" tanya Alena.
"Jawab saja Al! tapi, jangan bilang kalau aku ada di sini. Pintar-pintar kamulah menjawabnya.
Alena menganggukkan kepalanya dan menyentuh tanda jawab. " Hallo, Jen ada apa?" sapa Alena .
" Al, apa Andrew ada di tempatmu sekarang?" suara Jenni terdengar dari ujung telepon.
"Hmm, Ka Andrew tidak datang ke sini sama sekali Jen? memangnya Ka Andrew belum pulang Jen?"
"Belum Al! jadi gimana nih, kalau dia benar-benar pergi? aku takut terjadi apa-apa padanya." terselip kecemasan pada suara Jenni.
"Memangnya kenapa? apa yang telah terjadi? bukannya kamu sudah tahu kalau si Clara cuma mau jebak Ka Andrew?" tanya Alena sembari tersenyum geli, mendengar ke khawatiran Jenni. Alena sudah dapat membayangkan wajah panik sahabatnya itu.
Jenni menceritakan keusilannya dan penyesalannya,karena mengucapkan kata pisah pada Andrew sembari sesunggukan menangis. Sedangkan Andrew yang mendengar ucapan penyesalan Jenni, hanya bisa mengulum senyumnya.
"Aku tadi, cuma menggertak, Al. Aku tidak serius mengucapkannya.Bagaimana ini Al? Andrew belum pulang-pulang dari tadi. Aku gak mau sampai terjadi apa-apa padanya." Jenni masih sesunggukan di sana, sehingga ucapannya sedikt tersendat-sendat.
"Udah, kamu tenang saja! gak bakal terjadi apa-apa pada Ka Andrew. Ka Andrew bukan orang lemah." Alena berusaha menenangkan Jenni.
"Apa aku salah Al? aku cuma mau mendengar dia mengatakan kalau dia mencintaiku. Karena selama ini aku, merasa seperti hanya pemuas nafsunya aja."
"Apa, kamu merasakan kalau perlakuan Ka Andrew padamu hanya karena nafsu?"
"Nggak sih! tapi kan___"
" Udah, pokoknya kamu jangan berpikiran yang macam-macam.Mungkin Ka Andrew punya alasan belum mengungkapkan cintanya padamu."Alena menyela ucapan Jenni, sebelum Jenni menyelesaikan ucapannya.
"Udah dulu ya Jen, aku mau istirahat sekalian mau menidurkan bayi besarku." Alena, memutuskan panggilan dan meletakkan kembali ponselnya ke atas meja, setelah Jenni mengiyakan dari ujung sana.
"Ka Andrew, kamu tidak kasihan mendengar Jenni menangis seperti tadi?" tanya Alena sembari menatap Andrew yang raut wajahnya kini tak terbaca.
"Aku kasihan Alena, tapi kalau aku pulang sekarang, rencanaku akan gagal." sahut Andrew.
Tbc
Maaf kalau telat up. tadi malam aku udah nulis sebagian. Tapi ditengah jalan aku tertidur karena ngantuk berat. Aku sampai mimpi kalau aku udah up. Ternyata bangun-bangun, aku lihat masih berupa draft.😁😁😁😁
Jangan lupa buat like, vote dan komen ya gais.Thank you😁😁😁