
Setelah melakukan panggilan Video dengan Andrew dan Jenni, bukannya tersenyum,justru Alena terlihat cemberut.
"Kamu kenapa sayang? bukannya rindu kamu sudah sedikit terobati pada Andrew dan Jenni?" Daven menautkan kedua alisnya,menatap bingung pada Alena.
"Aku tidak apa-apa, Sayang. Aku hanya sedikit kesal,kenapa sikap putramu Dean, dingin sama sepertimu. Kenapa dia tidak bisa hangat pada semua orang?" tanya Alena.
"Hmmm, tentu saja dia harus sepertiku. Dia itu kan putraku." Daven menjawab dengan tegas, yang membuat Alena berdecih semakin kesal.
"Lagian, sikap dia itu sudah bawaan, jadi bagaimanapun,kamu tidak akan bisa mengubahnya begitu saja.Kamu sendiri bisa lihat, dia dingin pada orang lain, tapi tetap hangat pada keluarga sendiri." sambung Daven kembali.
"Bukankan Jeslyn sepupunya, tapi kenapa dia tetap dingin pada Jeslyn?" Alena merasa tidak puas dengan jawaban yang diberikan oleh Daven.
"Dia memang dingin pada Jeslyn,tapi di samping sikap dinginnya, dia tetap melindungi Jeslyn.Dean tidak membenci Jeslyn, dia hanya pusing melihat Jeslyn yang cerewet." Daven, tersimpul simpul,mengingat kecerewetan Jeslyn.
Alena menghembuskan nafasnya ke udara, diam, karena dia membenarkan ucapan Daven.
...----------------...
Langit sudah mulai berganti warna dari gelap,menjadi sedikit terang, yang pertanda pagi akan segera datang menyapa.
Alena mulai membuka matanya, karena sudah merasa silau dengan cahaya yang membias masuk ke dalam kamarnya. Setelah kedua netranya sudah bisa beradaptasi dengan cahaya yang masuk, dia langsung beranjak dari atas kasur dan masuk ke kamar mandi.
Tiba-tiba Alena merasa sakit di perutnya, tapi hanya berlangsung sebentar. Dia lalu kembali melaksanakan ritual mandinya
Alena tidak memerlukan waktu yang lama untuk menyelesaikan ritual mandinya, dalam 15 menit dia sudah keluar dari kamar mandi, dan langsung mengenakan pakaiannya.
"Sayang, bangun! apa hari ini kamu tidak pergi bekerja? Dean juga nanti bisa terlambat ke sekolah." Alena menepuk-nepuk punggung Daven dengan sangat pelan.
"Oh, iya aku bangun, sayang." Daven mengendus-endus tubuh Alena yang sudah wangi. "Kamu sudah mandi ya, sayang? padahal aku mau mengajakmu mandi bersama pagi ini." raut wajah Daven terlihat kecewa.
"Haish, udahlah! kalau mandi bersama,yang ada gak bisa sebentar.Kamu pasti meminta lebih.Udah kamu mandi sana!" Alena menarik tubuh Daven dan mendorong tubuh suaminya itu, masuk ke kamar mandi. Karena Alena mendorong suaminya dengan kuat, perutnya tiba-tiba mengalami kontraksi yang sangat sakit.
"Aow, perutku ... sakit , sayang." Alena menggenggam erat daun pintu dengan satu tangan, dan satu tangan lagi meremas perutnya.
"Hah? sakit? jadi bagaimana ini?" Daven yang belum berpengalaman, seketika panik, tidak tahu mau berbuat apa.
"Sayang,kenapa diam saja?! anak-anakmu mau keluar ini!" teriak Alena, di sela-sela rintihan kesakitannya.
Daven segera tersadar, dan langsung meraih ponselnya dari atas nakas, lalu mengangkat Alena. Dengan sedikit berlari dia langsung membawa Alena keluar dari dalam kamar.Dia tidak perduli dengan penampilannya sekarang,yang hanya memakai celana pendek rumahan, kaos oblong dan sandal rumah.
"Tuan, apa Nona Alena mau melahirkan sekarang?" tanya Bibi Emma yang baru saja datang dari arah dapur. Ya ... Bibi Emma juga ikut Daven dan Alena ke London,karena Dean memintanya untuk ikut,walaupun di London ada Madam Brenda.
Jarak dari kediamannya ke rumah sakit, yang biasanya dicapai dalam waktu lebih kurang 30 menit, sekarang tidak sampai 20 menit saja, mereka sudah tiba di rumah sakit yang dimaksud. Jack asisten Daven di London yang sudah dihubungi sewaktu dalam perjalanan ke rumah sakit, langsung menghubungi rumah sakit untuk mempersiapkan semuanya untuk menyambut kedatangan Daven dan Alena. Makanya tidak heran, kalau sekarang Dokter dan perawat sudah berdiri di depan rumah sakit, dan langsung sigap membantu Daven mengangkat Alena dari dalam mobil.Lalu mereka dengan cepat membaringkan Alena, di atas brangkar dan mendorong ke ruang persalinan.
"Sayang, sakit ...." Alena tidak berhenti merintih membuat Daven semakin bertambah panik.
"Dok, apa tidak ada cara lain buat meredakan rasa sakit yang diderita istriku? kenapa kalian hanya diam menunggu saja dari tadi, Hah?!" bentak Daven yang merasa kesal melihat dokter yang hanya berdiam, seperti menunggu sesuatu.
"Maaf, Tuan Daven! untuk sekarang kita belum bisa melakukan apa-apa, sampai pembukaan jalan lahir Nona Alena lengkap.Kita harus sabar menunggu," walaupun merasa kesal, karena Daven yang tidak sabaran, dokter itu masih berusaha untuk tenang dan menyematkan seulas senyuman di bibirnya.
"Tapi, sampai kapan Dok? aku sudah tidak kuat melihat istriku kesakitan. Kalau begini, tolong lakukan saja operasi Cesar!" titah Daven, masih belum bisa mengontrol kepanikannya.
"Aku tidak mau! aku masih sanggup! Kalau kamu tidak kuat melihat aku kesakitan, dan masih marah-marah, kamu lebih baik keluar dari sini!" cetus Alena, kesal di sela-sela rintihan kesakitannya.
"Tapi, sayang___"
"Kalau kamu tidak tahu, lebih baik diam!" bentak Alena, yang membuat dokter dan perawat menahan tawa,karena melihat Daven diam tidak berkutik dan tidak berani membantah kata-kata Alena.
Cukup lama Alena merintih kesakitan,hingga membuat Daven menitikkan air mata.
"Ya,Tuhan! kalau boleh biarlah aku yang merasakan sakitnya! aku tidak tega melihatnya kesakitan Tuhan." Batin Daven, sembari mengusap tetesan cairan bening di sudut matanya.
"Pembukaannya sudah lengkap! Nona Alena, sekarang anda harus mengerahkan tenaga anda untuk mengeluarkan anak-anak anda. Tuan Daven, kami mohon agar terus memberikan dukungan dan semagat buat istri anda!" perintah dokter itu dan diiyakan oleh Daven.
"Semangat sayang! ingat sebentar lagi kita akan bertemu dengan anak-anak kita." Daven menggenggam erat tangan Alena, dan memberikan kecupan di dahi Alena yang sudah berpeluh.
Alena dengan patuh, melaksanakan aba-aba yang diberikan dokter. Dengan mengerahkan seluruh tenaganya, akhirnya bayi pertama berjenis kelamin laki-laki keluar dengan suara tangisan yang sangat kencang. Sepertinya anak itu, akan sama seperti Daddynya yang suka membentak orang. Air mata Daven kembali menetes tak tertahankan, saat melihat bayi itu lewat dari depan matanya, ketika dokter memberikan ke tangan perawat agar segera di bersihkan.
3 menit kemudian, Alena kembali merasakan sakit yang amat sangat di perutnya,ketika bayi keduanya, ingin menerobos jalan lahir yang baru saja dilalui sang kakak.
Dokter kembali memberikan aba-aba, agar Alena melakukan seperti yang dia lakukan sebelumnya. Sementara itu, Daven masih setia berdiri di sisi Alena dan memberikan semangat.
Karena jalan lahir baru saja dilalui bayi pertamanya, tidak membutuhkan waktu yang lama,akhirnya bayi yang berjenis kelamin perempuan, berhasil menerobos jalan lahir milik Alena, dengan menangis lebih keras dari sang kakak.Sepertinya bayi perempuan ini,akan cerewet seperti Alena.
Daven berkali-kali mencium kening Alena dan mengucapkan terima kasih dengan pipi yang sudah basah. Untuk saat ini, dia tidak memperdulikan lagi, imagenya di depan dokter dan para perawat,yang berada di ruangan itu.
Tbc
Jangan lupa like,vote dan komen ya gais.Thank you