
"Apakah rumah anda masih jauh lagi Nona Cathleen?" Carlos memecah keheningan yang sempat terjeda cukup lama di antara mereka.
"Sudah di depan sana Tuan!" sahut Cathleen tanpa berani menatap Carlos.
" Kita berhenti disini saja Tuan! Aku sudah sampai di rumahku." Cathleen menunjukkan rumah minimalis yang sangat terawat,penuh dengan tanama hijau dan tanaman yang berbunga.
"Ini rumah kamu? kecil ya?" Carlos menyembulkan kepalanya keluar dari jendela mobil.
" Iya sangat kecil.Tapi aku bersyukur dengan yang aku punya." Cathleen kembali merasa kesal,karena ucapan Carlos yang dia anggap sedang mengejek rumah kecilnya.
"Kalu begitu, saya pamit masuk dulu Tuan! terimakasih buat tumpangannya!" Cathleen nyaris saja beranjak dari tempat dia berdiri,tapi tersurut ketika mendengar ucapan Carlos.
"Apakah anda tidak mau mengajak saya masuk dulu Nona? kerongkonganku terasa kering dan butuh minum.Aku rasa anda tidak keberatan untuk memberikan air setetes buatku." Carlos memasang wajah yang memelas.
Cathleen menghela nafasnya dengan kesal.Tapi mau tidak mau akhirnya dia tetap mengajak Carlos untuk masuk.
Seorang wanita setengah baya tapi masih terlihat cantik, membuka pintu, setelah pintu berulang kali diketuk dari luar oleh Cathleen.
"Cathleen,kok lama pulangnya sayang? mamah sangat khawatir tadi." tanya wanita itu,yang memang wajahnya terlihat sangat khawatir.
"Aku tadi ada urusan mendadak,Mah.Ponsel juga aku matikan tadi. Maaf ya Mah!
"Dia siapa sayang?" Wanita yang merupakan mamah dari Cathleen,menatap Carlos intens.
"Oh, dia__"
"Aku Carlos, kekasih putri anda Bibi!" ujar Carlos tiba-tiba,hingga membuat kedua netra Cathleen membesar.
"Bu-bu.."
"Oh jadi kamu kekasih putri saya. Kenapa baru sekarang kamu bawa ke rumah Cath?" wajah wanita itu langsung berbinar-binar dan menarik Carlos masuk kedalam, hingga Cathleen hampir terjatuh karena tersenggol oleh tubuh tegap Carlos.
"Silahkan duduk Nak Carlos! Cathleen, kamu kok masih berdiri di sana? ayo, ambilkan minuman buat kekasih kamu!" perintah wanita itu,dengan binar mata yang tidak memudar.
Cathleen menghentakkan kakinya, berjalan ke arah dapur,untuk mengambil minuman.Carlos menahan tawanya, melihat ekspresi kesal di wajah Cathleen. Cathleen menghunuskan tatapan tajamnya saat matanya bersirobok dengan manik mata milik Carlos, hingga membuat Carlos hampir meledakkan tawanya.
"Bibi, aku mau ke toilet sebentar.Boleh aku tahu dimana letak toilet?"
"Oh, kamu ke dapur saja.Kamu boleh menanyakan pada Cathleen di sana."
Carlos melangkah ke arah dapur dan melihat Cathleen yang membuat minuman untuknya dengan mulut yang tidak berhenti menggerutu.
"Hai, sayang! kayanya kamu lagi senang sekali ya? dari tadi kayanya bernyanyi terus." ledek Carlos, sembari menghampiri Cathleen yang sudah menghunuskan tatapannya ke arah Carlos.
"Ka___"
"Sttt, jangan marah-marah, nanti kamu ketahuan bohong!" ucap Carlos dengan santai, seperti tidak bersalah sama sekali.
"Hei, bukan aku yang berbohong, tapi kamu." Cathleen menggeram pelan untuk manahan agar suaranya tidak terdengar oleh Mamahnya.
"Kamu jangan marah-marah, nanti cepat tua!" Carlos masih saja tetap santai.
"Ini boleh aku minum kan?" Carlos menyambar gelas yang ada di tangan Cathleen, lalu meneguk air itu sampai habis.
"Kamu jangan menatapku seperti itu, nanti kamu benar-benar jatuh cinta padaku." Carlos tetap tidak berhenti menggoda Cathleen. Karena melihat kekesalan di wajah wanita itu, menciptakan kesenangan tersendiri pada dirinya.
"Arghhh!" Cathleen semakin menggeram dengan tangan yang membuat gerakan ingin mencakar wajah Carlos.
"Sabar sayang! masih banyak waktu untuk kita melakukannya! Nanti kalau kita melakukan di sini, tidak enak dilihat sama mamah kamu." Carlos lagi-lagi menggoda Cathleen.
Cathleen menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya keluar lagi. Dia melakukannya berulang-ulang, untuk menekan agar emosinya tidak meledak.
"Tuan Carlos yang terhormat, cukup main-mainnya! Aku mau anda pulang sekarang! Aku tidak mau mamah saya menjadi berharap besar pada anda." Cathleen akhirnya bisa menetralisir emosinya dengan berucap lembut pada Carlos.
" Hmm, bagaimana kalau kita buat itu jadi kenyataan, Hem?" Carlos mengedipkan matanya ke arah Cathleen.
"Anda jangan bercanda.Hal seperti itu tidak seharusnya anda jadikan sebagai bahan candaan. Sekarang lebih baik anda pulang saja! aku tidak punya waktu untuk mengikuti permainan anda ini." Cathleen masih berusaha untuk bersikap lembut, walaupun terselip kekesalan pada ucapan dan raut wajahnya.
"Hmmm, aku mau ke toilet sebentar. apa kamu keberatan menunjukkan toilet padaku?" Carlos kini sudah kembali pada Carlos semula.
"Oh,ok terima kasih!" Carlos nyaris mengayunkan langkahnya, tapi tiba-tiba terhenti dan kembali menoleh ke arah Cathleen. Sehingga menimbulkan tanda tanya di dalam hati Cathleen.
"Oh ya, Nona Cathleen, apa aku boleh meminjam ponsel anda sebentar? aku mau memberikan kabar saja pada keluargaku, kalau aku sebentar lagi akan pulang. Kebetulan ponsel aku tertinggal di dalam mobil." ucap Carlos dengan ekspresi memohon.
"Hmm, boleh Tuan! ini ponselnya." Cathleen memberikan ponselnya tanpa memiliki rasa curiga sama sekali.
Carlos menerima ponsel dari tangan Cathleen dengan senyuman tipis dan licik di sudut bibirnya. Dia menekan nomornya sendiri dan melakukan panggilan ke ponselnya.
"Hmm, ini Nona, aku kembalikan ponsel anda. Terima kasih! mereka tidak menjawab sama sekali. Mungkin mereka sedang sibuk ngobrol." Carlos mengembalikan ponsel ke tangan Cathleen, lalu berbalik dengan senyuman yang mengembang di bibirnnya sembari melangkah menuju toilet.
********
"Bagaimana keadaan Tuan James Dok?" tanya Daven, yang kini sudah berada di rumah sakit tempat James dirawat bersama dengan Alena dan Dean.
"Tuan Jamesnya sudah membaik Tuan, walaupun tadi sempat kritis dan kehilangan banyak darah.Untungnya, stok darah yang dibutuhkan oleh Tuan James, masih tersedia di rumah sakit, jadi nyawanya masih bisa diselamatkan." jelas dokter itu panjang lebar.
"Syukurlah! boleh kami melihatnya ke dalam Dok?" Kali ini Alena yang buka suara.
"Boleh! tapi sepertinya pasien belum siuman dari tadi."
"Tidak apa-apa Dok! kami hanya ingin melihatnya saja." Alena kembali berucap dengan senyuman di bibirnya.Hingga membuat Daven panas dingin.
"Baiklah! silahkan Tuan, Nyonya! kalau begitu saya pamit pergi dulu." Dokter itu melangkah menjauh setelah berpamitan pada Daven dan Alena.
"Sekali lagi, kamu gak usah tersenyum pada laki-laki lain, aku tidak suka!" Sikap posesif Daven kembali kumat.
Alena hanya bisa mendengus, menghela nafas, jengah melihat keposesifan suaminya.
Daven membuka pintu perlahan dan melangkah masuk, diikuti oleh Alena dan Dean dari belakang. Alena menitikan air matanya, melihat kondisi James yang terbaring dengan mata yang masih terpejam.
"Paman, bangun! ini Dean datang, Paman!" Dean mulai menangis di samping kasur tempat James terbaring lemah.
Entah kenapa, suara tangisan Dean, membuat kelopak mata James bergerak sebagai pertanda kalau James mau siuman. Detik berikutnya, sesuai dugaan, mata James terbuka perlahan-lahan. Dia tersenyum dan mengelus kepala Dean dengan lembut.
"Kamu tidak apa-apa Dean? syukurlah kalau kamu selamat!" ucap James lirih.
"Iya Paman! ini berkat Paman yang nyelamatin Dean.Terima kasih Paman!" Dean kini sudah bisa tersenyum, melihat James sudah siuman. Rasa takutnya dulu pada James menguap entah kemana.
"Terimakasih ya Ka James, sudah mengorbankan nyawamu buat keselamatan Dean.Mungkin kalau Dean yang terkena peluru itu, dia tidak akan bisa bertahan seperti Kakak." ucap Alena tanpa senyuman,karena dari tadi mata suaminya tidak pernah lepas menatapnya.
"Tidak apa-apa Alena.Ini hanya caraku untuk menebus kesalahanku dulu."sahut James dengan seulas senyuman di bibirnya.
"Oh ya, ini ponsel kamu! tadi aku menemukannya di dalam mobilmu. Mobilmu juga sudah aku bawa ke sini!" Daven meletakkan ponsel dan kunci mobil di atas nakas, di samping kasur James.
"Terimakasih Dave!"
"Oh ya. dari tadi ponselmu selalu berbunyi, dari wanita bernama Sheela, dan maaf aku tidak berani menjawabnya."
"Oh, dia istriku, nanti aku akan menghubunginya lagi. Terimakasih buat infonya!" sahut James.
"Oh ya, besok aku akan kembali ke London,aku sudah sangat merindukan istriku!" James menunjukkan wajah bahagianya, agar Daven dan Alena semakin yakin kalau dia sudah benar-benar bisa melupakan Alena.
"Apakah Kaka akan baik-baik saja, bila harus memaksakan diri untuk pulang besok?" Alena menunjukkan kepeduliannya
"Aku rasa aku akan baik-baik saja Alena. Kamu tenang saja."
"Hmm, kalau begitu selamat jalan Ka. semoga perjalananmu berjalan lancar.Maaf sekali lagi, karena sudah membuat Kaka tidak jadi kembali ke London hari ini." ucap Alena merasa tidak enak hati.
"Aku kan sudah bilang, tidak apa-apa Alena."
"Kalau begitu,kami pamit pulang dulu James. Semoga kamu cepat sembuh,dan semoga kamu cepat punya anak dengan istrimu." Ucap Daven dengan menerbitkan senyuman tulus di bibirnya.
Tbc
Please jangan pelit like, vote dan komen ya gais.Thank you😁😁