
Kedua mata James bersirobok dengan mata dua pasang yang sedang duduk tidak jauh dari tempat dia dan Sheela berdiri.
"Sheel kita ke sana saja!" James mengeratkan genggaman tangannya ke tangan Sheela dan mengayunkan kakinya,melangkah menghampiri meja Daven dan yang lainnya berada.
"Hai, kalian ternyata di sini juga? kenalkan, ini istriku Sheela!" James merangkul pundak Sheela,untuk menunjukkan kalau dia benar-benar sudah bisa lepas dari bayang-bayang Alena.
"Hallo Nona Sheela! aku Daven, ini istriku Alena dan itu Andrew dan Jenni istrinya." Alena, Andrew dan Jenni melambaikan tangan mereka ke arah Sheela, dengan seulas senyuman yang terbit di bibir masing-masing, kecuali Andrew tentunya. Andrew ramah, tapi sangat susah untuk tersenyum pada orang lain, khususnya pada orang yang baru saja ditemuinya
"Wah istri anda sangat cantik sekali Tuan James?" celetuk Jenni,
"Anda terlalu memuji saya, Nona Jenni, anda juga sangat cantik." Senyum Sheela terbit menghiasi bibirnya,akan tetapi ekor matanya sedikit tertarik,melirik ke arah Alena.
"Pantas saja James mencintai Nona Alena.Dia sangat cantik dan anggun dibanding aku." bisik Sheela pada dirinya sendiri. Rasa percaya dirinya langsung turun seketika, ketika melihat Alena secara langsung.
Ya ... walaupun James tidak pernah menceritakan masa lalunya pada Sheela, tapi tanpa sengaja Hellena mertuanya pernah menceritakannya padanya,dan memohon padanya agar berpura-pura tidak tahu tentang Alena.
"Hmm, mau sampai berapa lama kalian berdiri di sana? bukannya lebih baik kalau kalian duduk?" celetuk Daven tanpa mengalihkan tatapannya dari makanan yang sudah terhidang di meja.
"Oh, iya.Kalian nikmati saja makanannya! makanan di sini sangat enak. Aku dan istriku akan mencari meja lain."
"kenapa harus mencari meja lain? di sini masih ada kursi yang kosong.Awalnya untuk Carlos dan istrinya, tapi sepertinya mereka tidak makan malam,malam ini. Soalnya dari tadi dia tidak muncul-muncul." ujar Daven,menawarkan agar James dan istrinya duduk bersama dengan mereka.
"Bagaimana kalau mereka tiba-tiba muncul? kami cari lain saja Dave! " James meraih tangan Sheela dan nyaris melangkahkan kakinya untuk mecari meja lain, tapi langsung tersurut ketika mendengar celetukan dari Jenni.
"Tidak usah sungkan,Tuan James! Carlos mungkin sekarang sedang menikmati makan malam kegemarannya di kamar."
"Emang, apa makan malam kegemaran Carlos Jen?" Alena buka suara dengan ekor matan yang menyipit,penasaran.
"Daging mentah, yang lembut dan wangi milik Cathleen." celetuk Jenni, yang membuat Andrew mendelik ke arah Jenni disertai pukulan dari Alena di kepalanya. Sedangkan James dan Sheela saling silang pandang dengan seulas senyuman yang terkulum di bibir masing-masing.
Daven meraih ponselnya yang berbunyi,tanda ada pesan yang masuk. Untuk sejenak dia membaca pesannya,lalu memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku setelah selesai membaca. Kemudian dia mengalihkan tatapannya ke arah James dan istrinya.
"Kalian duduk bersama kami saja James! benar kata Jenni,kalau adik saya dan istrinya,memesan makanan ke kamar mereka."
James menoleh ke arah Sheela istrinya untuk meminta pendapat, dan mereka berdua mendaratkan tubuh mereka di kursi kosong setelah Sheela menganggukkan kepalanya.
Acara makan malam mereka berlangsung penuh tawa bahagia.Sepertinya sakit hati yang pernah ada, sudah menguap entah kemana. James sendiri malam ini bersikap biasa pada Alena, dan justru semakin menunjukkan rasa perhatiannya pada Sheela, sehingga membuat perasaan Alena bahagia melihatnya.
"Hmm kapan kalian akan kembali ke London, Sheela?" tanya Alena,yang ingin semakin akrab dengan Sheela.
"Kami akan kembali lusa, karena kami sudah dua hari di sini.Tempat di sini semua sangat indah, kalian jangan sampai melewatkannya." Sheela menyahut,sambil memasukkan potongan semangka ke dalam mulutnya.
"Benarkah?__ Aku tidak sabar jadinya Sayang! habis ini kita jadi jalan-jalan kan?" Alena bergelayut manja pada Daven. James tersenyum melihatnya, dan anehnya dia tidak merasakan cemburu sama sekali. Justru tadi siang, dia merasakan amarah yang amat sangat ketika ada laki-laki yang memandang kagum pada Sheela istrinya.
"Iya, sayang! makanya habiskan semangka kamu! setelah ini kita pergi jalan-jalan. Suasana malam juga sangat indah malam hari." sahut Daven seraya melemparkan senyumannya pada Alena.
...----------------...
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bahkan bulan sudah 8 kali berganti. Usia kehamilan Alena sudah memasuki usia 9 bulan dan diprediksikan 2 minggu lagi akan melahirkan.Demikian juga Jenni yang usia kandungannya lebih tua 1 minggu dari Alena.
Alena dan Sheela juga sudah sangat dekat dan sering bertukar informasi mengenai kehamilan,karena sekarang Sheela sudah mengandung dan usia kandungannya memasuki usia 6 bulan.
Di lain tempat, di bumi benua Amerika bagian Utara, tepatnya di Negara Canada. Tampak Jenni yang mulai merasakan kontraksi pada perutnya. Kontraksi yang dia alami sekarang berbeda dengan kontraksi yang sebelum-sebelumnya, dimana kontraksi yang dia alami sekarang sudah semakin intens dan rutin.
"Sayang, perutku sakit sekali.Sepertinya anak-anak kita sudah tidak sabar mau keluar, Sayang!" Rintih Jenni, berusaha membangunkan Andrew yang masih terlelap sembari mencengkram erat Sprey kasur.
Mendengar rintihan Jenni, Andrew sontak membuka matanya dan bangkit duduk, menyentuh pundak Jenni.
"K-kamu kenapa sayang? apa kamu melahirkan sekarang?" Jenni tidak bisa menjawab lewat mulutnya, dia hanya memberikan jawaban lewat anggukan kepalanya.
Andrew sontak mengangkat Jenni dan dengan sedikit berlari keluar dari kamar untuk membawa Jenni ke rumah sakit.
"Ada apa,Drew? apa Jenni akan melahirkan sekarang?" tanya Hanna yang baru keluar dari kamar bersama Charles.
"Iya Mah!"
"Ya udah,kamu bawa saja Jenni sekarang!Papah yang akan menghubungi pihak rumah sakit, agar mempersiapkan segalanya sebelum kalian berdua tiba di sana. Papah dan Mamah akan segera menyusul." Charles langsung melakukan panggilan ke rumah sakit yang merupakan rumah sakit milik keluarganya.
Tidak kurang dari 15 menit, Andrew sudah tiba di rumah sakit dan langsung disambut dokter dan para perawat di depan, karena sudah dihubungi oleh Charles terlebih dahulu.
"Sakit sayang!" Jenni tidak berhenti merintih, hingga membuat kedua mata Andrew berkaca-kaca, dan kalau boleh, dia ingin menggantikan Jenni untuk merasakan sakitnya.
"Sabar, Sayang! kamu pasti kuat! Ingat saja kalau sebentar lagi kita akan bertemu dengan anak-anak kita."Andrew menggenggam erat tangan Jenni dan mengecup kening Jenni berkali-kali untuk memberikan semangat.
Tidak berselang lama, Hanna dan Charles sudah menyusul dengan membawa Jeslyn bersama mereka.
"Tuan Andrew, sepertinya kita harus melakukan operasi Cesar untuk mengeluarkan kedua bayi anda, karena tekanan pada Nona Jenni tinggi.
"Lakukan saja mana yang terbaik buat istri dan kedua anakku, Dok!" ucap Andrew tegas.
Dokter lalu membawa Jenni ke ruang operasi diikuti oleh Andrew yang diizinkan masuk untuk memberikan semangat pada Jenni.
Pertama Dokter memberikan suntikan anestesi lewat punggung. Dokter melakukan teknik anestesi regional yang hanya menimbulkan mati rasa pada bagian bawah tubuh dan Jenni masih sadar selama operasi berlangsung.
Dokter itu mencubit perut Jenni, untuk memastikan apa Jenni masih merasakan sakit atau tidak. "Apakah sakitnya masih terasa Nona Jenni?" tanya dokter.
"Tidak terasa apa-apa, Dok!" sahut Jenni.
"Ok ,kalau begitu kita akan melakukan pembedahan, Nona Jenni, tolong rileks dan jangan tegang."
Andrew kembali menggenggam erat tangan Jenni, dan mendekatkan bibirnya ke telinga Jenni. " I love you sayang!" bisiknya, lalu memberikan kecupan di kening Jenni.
Dokter memberikan sayatan di perut Jenni secara horizontal dan cukup panjang. Lima menit kemudian dokter berhasil mengangkat bayi pertama yang berjenis kelamin laki-laki disertai dengan suara tangisan yang sangat nyaring dari bayi itu. Menit berikutnya dokter kembali mengangkat keluar satu bayi lagi, yang ternyata berjenis kelamin yang sama dengan bayi pertama.
Tidak terasa air mata Andrew menetes melihat kedua anaknya yang masih menangis bersahut-sahutan.
Tbc